oleh

Cerita untuk Kakak Ames (27)

-Cerita-213 views

Kami berhasil menduduki Grahadi. Setelah aksi berhari-hari, berminggu-minggu, siang malam tanpa henti, kami merebutnya kini. “Gedung ini milik rakyat, “begitu teriak kami.

Saat itu jalanan dipenuhi massa rakyat. Tak ada lagi gerakan mahasiswa, yang ada gerakan rakyat. Mahasiswa memang penggerak awal, tapi tanpa melebur bersama rakyat, mahasiswa bukan siapa-siapa. Aksi ini sudah menjadi Aksi Bersama Rakyat Indonesia.

Pahlawan Reformasi itu rakyat. Bukan hanya mahasiswa. Ada pelajar, ada pemuda, ada pekerja seni, ada kalangan media. Ada banyak yang terlibat. Bahkan ada peran kaum ibu dalam sejarah reformasi 1998 itu.

Bagaimana mungkin mahasiswa punya energi untuk menguasai jalanan setiap hari, sempatkah kami di sela aksi mampir warung nasi? Tidak! Sekali-kali tidak.

Entah siapa yang memulai, ibu-ibu mulai mengadakan dapur umum. Mereka yang memberi makan kami. Dari tangan mereka kami punya cukup energi. Ke lokasi aksi, ke sekretariat-sekretariat gerakan, dikirimlah berbungkus-bungkus nasi. Air minum beredar tanpa henti di lokasi aksi.

Ada banyak yang mendukung kami. Ada pengusaha dari berbagai etnis, ada kelompok pemuda dari berbagai agama, ada kelompok-kelompok profesi. Mereka mungkin tidak bisa ikut turun ke jalan.

Dari solidaritas mereka itulah, mengalir vitamin dan obat ke kantong-kantong gerakan. Dari dukungan mereka itulah, mahasiswa mampu membeli logistik aksi. Dari kerelaan mereka itulah, kebutuhan dapur umum terpenuhi.

Ibu-ibu di dapur umum itu, bagiku pejuang sejati. Sejatinya, mereka menghadapi masalah krisis di rumahnya masing-masing. Masalah domestik mereka juga tak kalah besarnya, namun mereka ulurkan tangan membantu aksi mahasiswa bersama rakyat.

Masihkah ingatkah kamu bagaimana gambaran sebuah rumah tangga menghadapi badai krismon seperti pada suratku terdahulu? Tentu tak mudah bagi mereka menjalani hari-hari itu. Sebagaimana Oma, ibu-ibu itu juga pahlawan reformasi.

Kembali ke lokasi aksi, Grahadi.

Tak mudah untuk merebutnya. Tapi jumlah kami memang tak terkira, kekuatan kami tak terbendung. Metode aksi pun berubah. Teman-teman barisan pelopor (bapor) tak hanya bertugas berhadap-hadapan dengan aparat, mereka juga berdiri di samping kanan kiri aparat.

Ketika bentrok terjadi, aparat yang mengejar mahasiswa (yang lari mundur) akan dipukulnya dari samping. Itu dilakukan agar mahasiswa tidak terus dikejar dan dipukul kepalanya dari belakang.

Hari-hari menjelang pendudukan Grahadi itu, pasukan Marinir turun ke jalan-jalan mengawal aksi rakyat. Entah politik militer apa yang sedang dimainkan, yang kami tahu, sebagaimana kuceritakan dalam suratku dulu, Soeharto menjadikan TNI-AD sebagai kakak sulung.

Soeharto memainkan konflik di antara militer, akibatnya ada militer hijau dan militer merah putih. Ketika Soeharto jatuh, segala tabu pembicaraan politik militer menyeruak ke permukaan. Banyak riset, banyak buku dicetak mengenai bisnis dan politik militer. Aku melahapnya, nyaris menjadi skripsiku, sebelum kemudian berubah di tengah jalan.

Salah satu pejuang HAM yang paham mengenai militer Indonesia adalah Munir SH. Hari ini, 7 September 2004 lalu, Cak Munir, pejuang HAM Indonesia dibunuh. Oleh bangsanya sendiri ia dibunuh. Di Belanda, ia dikenang jadi nama jalan, di Indonesia, ia seolah hendak dilupakan. Itu salah satu tabiat bangsa kita.

Opa ‘mencarter’ pesawat atas permintaan dan biaya alm Taufik Kiemas (TK) agar pelayat terbang dari Jakarta ke Malang, mengikuti proses pemakaman Munir Said Thalib. Alm TK berpesan kepada Opa tak perlu bilang itu uang darinya, sebab menjelang pemilu, bantuan dapat disalahartikan.

Di Surabaya, atas biaya Bambang DH, aku menyewa bis Surabaya – Malang, agar teman-teman dari Surabaya bisa mengiring ke peristirahatan terakhirnya di Batu, Malang. Kami berangkat dari pintu barat Universitas Airlangga, lokasi ajang bentrok awal reformasi.

Di Batu, aku menginap di tempat Opa Oma menginap. Penginapan sekitar Batu penuh semua hari itu.

Kembali ke Grahadi, 1998.

Tak main-main, Marinir turun ke jalan lengkap bersama kendaraan tempurnya. Mahasiswa diijinkan naik ke atas kendaraan-kendaraan itu, mengibarkan bendera merah putih dan seruan perlawanan di atasnya.

Ke mana perginya tentara (TNI-AD) yang biasa menghajar kepala mahasiswa tanpa ampun? Di lokasi aksi, mereka ada, tak kasat mata. Secara fisik mereka hadir sebagai intel, sebagai preman. Sebagian lagi, berbaju loreng, terlihat ikut menjaga obyek vital.

Siang harinya.

Opa menemui para prajurit Marinir, memberi mereka semangat untuk terus menjadi tentara rakyat. Itu foto Opa bersama prajurit Marinir di lapangan, di Jalan Pemuda, Surabaya. Opa terlihat berkaca-kaca bangga. Ia sendiri pensiunan Marinir. Kamu tahu itu kan?

Apakah sebaiknya, nama TNI (yang saat itu ABRI –Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) harus berubah menjadi Tentara Rakyat Indonesia? Agar mereka sadar bahwa mereka datang dari rahim rakyat, wajib melindungi kepentingan rakyat. Supaya mereka sadar, bahwa musuh mereka yang utama adalah penindas rakyat. Apakah harus begitu, agar rakyat menjadi target utama untuk dilindungi, bukan dipukuli dan ditembaki?

Malam harinya.

Di dalam Gedung Grahadi aku ikut membagi bungkusan konsumsi. Di teras Grahadi, Opa dan kawan-kawannya berdiskusi, apa yang akan dilakukan setelah ini. Opa-mu ikut turun, lakukan pendudukan di gedung negara itu. Walau sudah tua, jiwanya masih membara, ia tidak takut. Meski ada isu berhembus kencang, malam hari nanti tentara akan menyerang.

Sampai besok, hari istimewa, nantikan saja.

Peluk ciumku untuk adik-adikmu.

 

Moskow, 7 September 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan