oleh

Konon, Hidup atau Mati Dibedakan Suara Anjing

-Cerita-424 views

AWAL Agustus 1999. Aku berangkat ke Dili, Timor Timur. Dari Surabaya, aku menggunakan kereta malam menuju Denpasar, Bali.

Di Bali, aku tinggal beberapa hari di kost Yuki, anak Oma Nace Rihidima. Mungkin itu kost untuk perempuan, Yuki adalah satu-satunya lelaki di situ.

Setelah bertahun-tahun kemudian, 2013 tepatnya, aku dan Mama Vira secara tak sengaja bertemu Yuki, sepupuku itu, di Bandara Soekarno Hatta, kami sama-sama hendak menuju Thailand. Saat itu, Yuki sudah seutuhnya perempuan.

Tiap pagi, aku bermain bola di Pantai Kuta, lalu sarapan bersama Mas Ruddy, satu-satunya anak lelaki Oma Vince Rihidima, yang bekerja di Kuta Seafood. Siangnya, aku lebih banyak menghabiskan waktu di Pantai Kuta dan workshop Oma Vince di Gang Poppies, Kuta.

Sampai saatnya, aku harus pergi dengan kapal, dari Benoa Bali menuju Dili.

Bulan Agustus, kapal adalah sasaran pemudik; penuh sesak, tiket langka, jikapun ada, harga tiket tersedia dalam kelipatan yang luar biasa.

Beberapa kawan memilih untuk melakukan perjalanan darat dari Surabaya ke Bali berharap mendapatkan tiket dengan harga yang jauh lebih masuk akal, sementara yang lain menerabas masuk ke dalam kapal tanpa tiket.

Bagaimana nanti jika ada pemeriksaan tiket?

Dengan sigap kawan-kawan masuk ke dalam sekoci-sekoci tertutup yang tergantung di atas dek kapal. Tentu saja, awak kapal takkan mengira ada yang mampu menjangkau sekoci-sekoci tersebut.

Selama di atas kapal, nyaris tak ada pembicaraan mengenai politik, sebab selalu ada saja mauhu (orang Timor yang menjadi informan bagi tentara Indonesia) turut serta dalam rombongan besar yang melakukan perjalanan panjang.

Hari masih pagi ketika kapal bersandar di dermaga Dili. Beberapa kawan dengan mudah terlihat di kejauhan, di bawah sana. Bebe menunjuk ke para sahabat yang datang menjemputku. Pelabuhan ini memang tak sebesar pelabuhan Benoa-Bali, atau Tanjung Perak-Surabaya.

Entah mengapa, di kepalaku terngiang elderly woman behind the counter in a small town-nya Pearl Jam.

Lepas dermaga, aku dan beberapa kawan menuju sebuah hotel kecil tak jauh dari kantor Gubernur. Di sana, Azinho menjelaskan bahwa rumah yang rencana kami tempati bersama, dibakar oleh milisi pro integrasi. Hotel ini bersebelahan dengan Rumah Makan Padang, konon satu-satunya di Kota Dili. Dua hari di hotel, aku berpindah tempat di Balide, dekat gudang peluru.

Baru sekitar dua atau tiga malam kami menempati rumah itu, lolongan anjing dan letusan senjata terdengar di malam hari.

Menjelang subuh aku mengajak beberapa kawan untuk mendatangi lokasi asal suara tembakan. Pagi harinya, ramai berita tentang seorang aktivis pro kemerdekaan yang tewas diterjang peluru di tempat itu. Darah masih tergenang. Beberapa orang berkerumun, tak ada aparat berseragam, hanya orang-orang biasa dan anak-anak penjual pao (roti untuk sarapan).

Beberapa hari setelahnya, di suatu Minggu yang terik, sepulang dari gereja, aku dan Renato berbincang dan makan siang di rumah aktivis perempuan yang sangat disegani dan cukup masyur saat itu.

Belum juga habis makanan kami, terdengar suara tembakan bertubi-tubi.

Semua orang lari masuk ke dalam rumah, namun aku memaksa Renato untuk keluar bersama, mendekati asal suara tembakan.

Kami berdua berboncengan motor. Banyak yang meneriaki kami, ”tama! (masuk)”. Bahkan seorang ibu berusaha menghalangi motor kami dan meminta kami masuk ke dalam halaman gereja.

Aku menolak, aku harus melihatnya. Kebetulan saat itu aku sedang memegang kamera pinjaman seorang kawan.

Suara tembakan berasal dari gudang peluru. Kami meninggalkan motor agak jauh, lalu berlari menunduk ke arah sebuah bukit. Dari atas bukit, yang tampak hanyalah para tentara dan milisi yang tertawa-tawa sambil sesekali melepas tembakan ke udara.

Berita yang kemudian beredar; terjadi keributan antar personil TNI.

Satu atau dua minggu setelah kejadian ini, rumah kami yang tak jauh dari gudang peluru itu dibakar oleh para milisi.

Sore ketika terjadi pembakaran, aku sedang berada di Sekretariat KIPPER (pemantau jajak pendapat dari Jakarta) pimpinan Yeni Rosa Damayanti. Buku tabungan, baju, radio, dan kameraku hangus. Yang tersisa hanyalah barang-barang yang ada di ranselku. Tak ada lagi radio, kamera, buku-buku dan pakaian.

Di rumah itu, aku sering terbangun tengah malam, karena mendengar suara lolongan panjang beberapa ekor anjing, yang disusul kemudian oleh suara letusan senjata api.

Dan kawan-kawanku masih percaya bahwa lolongan panjang beberapa ekor anjing adalah pertanda buruk. Pertanda ini juga yang menyertai peristiwa aneksasi Indonesia atas Timor Leste kata mereka.

Sejak hari itu kami berpencar. Aku tinggal bersama Azinho, di rumah kakaknya, Becora, sebelah timur Kota Dili.

Namun, kami lebih sering berada di rumah kosong dekat stadion yang ditinggalkan pemiliknya ke Australia. Bagian bawah rumah dikontrak seorang Tionghoa yang menjadikannya sebagai Chineese Food Restaurant.

Di rumah ini kami tidak menggunakan alat-alat elektronik sama sekali, termasuk tak menggunakan lampu sebagai alat penerangan kala malam tiba. Di sini kawan-kawan melakukan beberapa kali pertemuan, juga mengintip aktivitas para petinggi TNI yang cukup sering bersantap siang di restoran bawah.

Informasi kehadiran para petinggi TNI kami dapatkan dari pegawai restoran yang tak jarang pula membuatkan kami makan secara gratis.

Di hari-hari itu, saat matahari tenggelam, Dili adalah kota mati.

Penguasa malam adalah patroli TNI, Polisi, dan Milisi. Kala malam tiba, kami dengan gampang menyaksikan bagaimana truk-truk aparat penuh personil berseragam hitam-hitam lengkap dengan penutup kepala melintasi rumah ini.

Di tengah gelap malam, bunyi kendaraan berat dengan kegaduhan seperti itu, menakutkan bagi warga yang tiap malam dirundung kekhawatiran. Malam dan pemadaman listrik sementara, selalu mencekam.

Di saat seperti inilah tanda bakal ada penyerbuan atau penangkapan mereka yang dituding sebagai aktivis pro kemerdekaan. Konon, yang membedakan hanyalah suara gonggongan dan lolongan panjang.

Jika anjing-anjing menyalak, maka orang yang dikejar itu akan selamat, namun jika anjing-anjing melolong panjang, maka kematian-lah yang menghampirinya.

Sampai besok. Sampaikan salamku untuk adik-adikmu. (Catatan untuk kakak Ames)

 

Moskow, 24 Oktober 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan