oleh

Merekam Kota Menggali Sejarah

-Cerita-215 views

Beta (saya) sonde (tidak) kuat berlama-lama menyaksikan pameran arsip publik “merekam kota” yang digelar oleh teman-teman Sekolah Musa (SKOLMUS), di sebuah gedung tua bekas pabrik es bernama Minerva di Jalan Siliwangi Kampung Solor Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Menyaksikan pameran ini rasa-rasanya seperti terjebak masuk dalam sebuah mesin waktu yang membawa beta melompat dari satu masa ke masa yang lain, lompatan-lompatan itu begitu cepat sampai-sampai beta sonde sempat menghirup kegelisahan-kegelisahan masyarakat kota dalam setiap potret yang beta kunjungi.

Meskipun pada kenyataannya, lompatan-lompatan ini menghadirkan kepingan-kepingan imajinasi yang begitu misterius dan membuat penasaran. Tapi apa mau dikata, beta memang sonde punya cukup perekat untuk menyambungkan kepingan-kepingan ini, selain mencoba untuk membandingkan kondisi sebuah tempat di masa lalu dengan kondisinya di masa sekarang.

Beta sonde kuat berlama-lama, karena apabila pameran ini adalah sebuah percakapan maka ini adalah percakapan yang begitu berat dan menuntut beta pung otak untuk berpikir lebih keras, membuat analisis-analisis dari serpihan informasi dalam beta pung kepala yang beta sendiri sering meragukannya. Atau bisa dibilang tanpa punya kemampuan mengingat catatan sejarah (atau ditemani sejarahwan) beta akan terjebak dalam mesin waktu dan imajinasi yang sonde bisa beta kontrol.

Sambil menyaksikan beberapa nona cantik foto-foto di tempat pameran, beta menoleh ke beta pung ponakan berusia 10 tahun yang sedang asik baca informasi di sebuah foto tahun 1945 tentang kesepakatan serah terima kota Kupang dari Belanda ke Jepang, beta pung ponakan bilang “to’o ini kalau beta yang tentara Indonesia beta akan bom dong na.” Dia juga rupanya terjebak dalam imajinasinya, untung dia sonde tanya kenapa raja-raja di foto pertama dari pintu masuk sonde melawan.

Bagaimanapun juga menurut beta, pameran ini adalah salah satu event paling menarik di Kota Kupang di masa pandemic tahun ini, seperti menghadirkan sebuah oase di tengah kota yang panas, seperti sebuah misteri dari masa hitamputih yang tersisa, mencuat ketika lampu-lampu jalan berharga miliaran sedang dipasang untuk menerangi kota.

Sambil mengagumi ide keren pameran ini, ijinkan beta sedikit berimajinasi melompat sedikit ke depan. Apakah 50 tahun dari sekarang pameran seperti ini masih akan ada? Ataukah hilang dan kalah oleh kenangan yang muncul di linimasa facebook?.

50 tahun ke depan kita yang hadir dalam pameran ini bila masih hidup pasti sudah tua, melintas di gedung tua ini yang mungkin sudah berubah menjadi hotel atau pusat pembelanjaan mewah, beta pung ponakan akan bilang, “To’o masih ingat, itu waktu dulu to’o pernah bawa beta lihat pameran foto tua di sini, lalu pulang lewat deretan ikan bakar dan aspal yang basah oleh percikan bau ikan.”

Saat itu mungkin tak ada lagi tempat menjual es batu sebab semua rumah memiliki AC dan kulkas, dan saat itu juga perubahan batas admisnistrasi kota telah berubah berkali-kali, atau mungkin batas administrasi tak lagi penting bagi masyrakat yang semuanya serba digital, dan tentu saja batas administrasi swapraja sudah bukan lagi hal yang menarik untuk diperbincangkan.

Imajinasi saya yang mentah dan prematur ini tidak usah dipikirkan, sebab demikianlah imajinasi dia kadang liar dan tidak peduli pada apa yang kita pikirkan.

Hormat, Salut, dan Terima kasih buat teman-teman SKOLMUS atas ide dan ruang sejarah yang menakjubkan ini. Semoga kita semua senantiasa diberi kesadaran dan kesehatan. Selamat hari Sumpah Pemuda.

 

Oleh: Abner Raya Midara

Komentar

Jangan Lewatkan