oleh

Perebutan Kekuasaan dari Soekarno oleh Soeharto Berujung Tragedi 1965

-Cerita-345 views

Memenuhi janji, untuk Kakak Ames sekaligus melengkapi gambaran tentang perebutan kekuasaan dari Soekarno oleh Soeharto, yang berujung pada tragedi 1965, aku menuliskannya dari kisah satu keluarga: Raden Mas Sumitro Djojohadikusumo (29 Mei 1917 – 9 Maret 2001).

Sumitro adalah ayah kandung dari kakak beradik; Prabowo Subianto dan Hashim Djojohadikusumo.

Kisah pertama, dari perdebatan di forum internasional tentang status Indonesia, sebagai jajahan Belanda atau sebagai sebuah negara merdeka. Mari kita mulai.

Sidang DK PBB (Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa), tentang Indonesia berlangsung alot selama enam hari (7, 9-13 Februari 1946), di London, Inggris. Delegasi Indonesia tidak hadir, kemungkinan karena ketiadaan biaya. Sumber lain menyebutkan bahwa Indonesia dilarang hadir pada sidang tersebut.

Pembela utama Indonesia adalah Dmitri Manuilsky, Ketua Utusan Republik Soviet Sosialis (USSR) di PBB. Ia mengatakan, “Hanya Dewan ini yang mempunyai kemampuan untuk menghentikan pertumpahan darah selanjutnya di sana (Indonesia).”

Manuilsky mendapat dukungan dari Edward Stettinius (Amerika Serikat – AS) dan Abdel Hamid Badawy Pasha (Mesir).

Delegasi Belanda adalah Dr Elco van Kleffens, didampingi dua orang penasehat; Mr Zairin Zain dan Sumitro Djojohadikusumo. Belanda didukung delegasi Inggris, Ernest Bevin yang berkata, “Indonesia adalah masalah Kerajaan Belanda. Dewan Keamanan PBBB tak berhak ikut campur!”

Kamu harus tahu bahwa setidaknya ada 8 (delapan) negara yang mengungsi ke Inggris, selama negara mereka diduduki oleh Nazi – Jerman, dan itu ada hubungannya dengan tewasnya Jenderal Mallaby di pertempuran 10 November 1945 Surabaya, sebab keluarga Kerajaan Belanda turut mengungsi ke Inggris.

Guru sejarahmu mungkin tak mengajarkanmu tentang peristiwa ini, kamu bisa bertanya padanya, “Bagaimana mungkin kita berperang melawan Belanda, namun yang datang Jenderal Inggris dan pasukan Gurkha-nya pada pertempuran besar di Surabaya itu?”

Dalam buku pelajaranmu, mungkin juga hingga kini tak menyebutkan peran pelajar Kiri (Marxis-Sosialis) di dalam dan luar negeri atas seluruh proses, mulai dari; proklamasi, perdebatan di forum internasional, kemenangan atas Nazi di Eropa, hingga persitiwa 10 November 1945 itu. Akan kuceritakan padamu, tidak sekarang tentunya.

Ringkasan kisah pertama adalah, Sumitro bersama pihak Belanda pada sidang tersebut, sementara Uni Soviet adalah pembela utama kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia pada saat itu. Baiklah, kita lanjutkan pada peristiwa selanjutnya.

8 Mei 1957, untuk yang ketiga kalinya CPM (Corps Polisi Militer) Bandung memanggil Sumitro untuk diperiksa terkait penyelewengan uang negara. Ia diduga menyalahgunakan kedudukan untuk pengumpulan dana bagi partainya jelang Pemilu 1955.

Jika sebelumnya, ia hadir, maka pada pemanggilan ketiga itu Sumitro mangkir. Kepada Sutan Sjahrir, ia berpamitan meninggalkan Jakarta. Selanjutnya diketahui, Sumitro pada Mei 1957 itu juga, sudah bergabung dengan pemberontak PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia).

Sumitro bergabung dengan para pemimpin militer di Sumatera dan Sulawesi yang menentang pemerintah pusat: Kolonel Zulkifli Lubis, Letkol Ahmad Husein, Letkol Barlian, Kolonel Maludin Simbolon, Kolonel Dahlan Djambek, dan Letkol HN Ventje Sumual.

Baik Sumitro dan para perwira itu, punya musuh bersama: KSAD Jenderal AH Nasution. Sumitro berselisih dengan Nasution, karena Nasution mendalangi tuduhan korupsi terhadap dirinya. Nasution memang memerintahkan pemeriksaan dan penahanan pejabat yang diduga korupsi.

Nasution juga memecat Soeharto sebagai Panglima Divisi Militer Diponegoro, tahun 1959. Saat itu Soeharto lakukan barter illegal dan penyelundupan, sampai ia ditampar oleh Jenderal Ahmad Yani.

Gatot Subroto menyelamatkan karir Soeharto dengan meminta Nasution mengirimkan Soeharto ke Seskoad, dan mengurungkan niat menyeret Soeharto ke Mahkamah Militer.

Kembali ke Sumitro. Dalam Kabinet PRRI yang diumumkan 15 Februari 1958, Sumitro menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Perhubungan.

Sepanjang Februari – Mei 1958, pemerintah pusat memadamkan pemberontakan PRRI. Soekarno menjanjikan amnesti sebelum 5 Oktober 1961 bagi yang menyerahkan diri.

Sumitro lebih memilih meninggalkan kawan-kawannya menuju Singapura. Ia sempat diketahui berada di Padang, Payahkumbuh, Pekanbaru, Bengkalis, lantas menyeberang ke Singapura. Dari Singapura, Sumitro tetap lakukan perlawanan terhadap pemerintahan Soekarno.

Menurut Audrey dan George Kahin, ia sering lakukan pertemuan dengan CIA (Central Intelligence Agency) di Singapura. PRRI hanya mendapat dukungan sedikit dana dari Malaysia. Sementara Amerika bersedia memberi senjata dan pelatihan militer.

Setelah Soekarno digulingkan Soeharto, keadaan memungkinkan bagi Sumitro untuk kembali ke Indonesia.

Maret 1967, setelah dilantik sebagai Presiden RI, Soeharto memerintahkan Ali Moertopo untuk menemui Sumitro di Bangkok. Namun, setelah dibujuk oleh Adam Malik, Sumitro baru mau kembali ke Indonesia.

29 Mei 1968, Sumitro beserta keluarganya kembali ke tanah air, langsung menuju Cendana, disambut oleh Soeharto. 6 Juni 1968, susunan Menteri Kabinet Pembangunan I diumumkan, Sumitro menjabat sebagai Menteri Perdagangan Orde Baru.

Di kemudian hari, anak Soeharto dan anak Sumitro menikah. Sementara keluarga Soekarno dan para pengikutnya menjadi orang-orang kalah.

Dan kini, Amerika Serikat siap menyambut kedatangan Prabowo Subianto, seperti Ibu yang menunggu kembalinya si anak hilang.

 

Moskow, 9 Oktober 2020

Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan