oleh

7 M Untuk Pilkada

-Cerita-304 views

Pada episode pertama baomong politik, saya telah membahas tentang ‘sudah selesai dengan diri sendiri’. Saya mendapatkan respon yang luar biasa. Terima kasih. Pada episode kedua ini secara khusus saya bicara soal uang dan politik, politik dan uang. Terhadap postingan awal saya yang menyatakan ikhtiar menjadi bakal calon walikota Kupang 2024 – 2029, saya mendapatkan beragam feedback, diantaranya tentang pentingnya uang. Ada yang bilang harus siapkan isi tas yang banyak karena politik zaman now adalah soal uang. Ada pula yang katakan demikian, politik tidak cukup modal nekat tetapi harus didukung modal duit yang banyak.

Benar. Dalam politik uang memang penting, tetapi uang bukan segalanya. Pertanyaannya, apakah kita harus mengubur mimpi politik kita karena tidak mempunyai uang cukup? Apakah kita tunggu sampai memiliki uang segunung baru mulai berpolitik? Ataukah membiarkan saja politik dikerubuti oleh orang-orang yang punya sumber daya uang dan yang kurang berpunya sebaiknya diam? Sekali lagi, uang memang penting dalam politik tetapi ia bukan faktor tunggal. Ada faktor-faktor penting lainnya yang saling berkorelasi dengan faktor uang, yang saya tuliskan pada judul di atas.

Orang bisa saja menghabiskan belasan hingga puluhan miliar untuk menang Pilkada atau pun untuk kalah Pilkada. Namun, nilai standar menurut saya adalah menguasai dan memiliki 7 M. Tujuh M ini bukan 7 miliar, tetapi 7 faktor yang menopang seseorang dalam Pilkada.

Pertama, MAN/MEN. Yang paling penting dalam Pilkada itu bukan uang tetapi orang yang mencalonkan diri. Uang tak punya arti kalau tidak ada yang mencalonkan diri atau jika figur calon kurang memiliki ‘nilai jual’. Kekuatan figure adalah faktor yang bisa mendatangkan uang atau mengalirkan uang. Para dermawan dan donatur bisa ‘jatuh hati’ jika ada figur bagus yang maju tetapi kekurangan biaya politik. Rumusnya bisa berubah. Bukan follow the money tetapi the money will follow you.

Kedua, MONEY. Tentang uang dan fungsinya dalam politik kita tentu sudah paham. Saya tidak perlu berkisah panjang lebar. Saya cuma ingat pesan Macfarlane. Dia bilang begini, money is evil. Uang adalah kejahatan. Tentu pada sisi tertentu. Uang adalah sumber malapetaka sebab ia mewujud dalam bentuknya yang rakus, konsumerisme dan selalu mencari keuntungan. Manajemen uang yang tepat menjadikan tujuan tepat diraih. Manajemen yang keliru bisa melahirkan blunder dan gagal.

Ketiga, MACHINE. Machine dalam konteks ini adalah mesin politik, yakni partai politik. Partai politik penting sebagai yang mengusung calon. Jika tidak suka berpartai, bisa melalui jalur independen. Partai punya posisi strategis dalam kontestasi politik. Minimal partai lah yang membukakan pintu masuk atau jalan masuk bagi para calon untuk bertarung. Tanpa mesin politik ini, pekerjaan politik kelihatannya cukup berat.

Keempat, MASS. Yang mau bertarung dalam Pilkada minimal ada massa pendukung. Massa itu entah massa mengambang, massa rasional, massa tradisional atau massa emosional. Demokrasi elektoral rumusnya menghitung one man one vote. Semakin banyak massa semakin banyak suara. Yang bisa mengelola massa dan menghipnotis massa dengan rapih, berpeluang besar meraih keunggulan.

Kelima, MATERIAL. Politik kalau tanpa ini rasanya hambar, kurang menggigit dan terlalu polos. Material itu berwujud logistic: spanduk, baliho, alat peraga, baju kaos hingga aksesoris lainnya. Kota akan berwarna jika musim politik tiba. Itu karena berbagai poster dan baliho menyapa anda di jalanan. Yang punya modal gemuk biasanya royal dengan pemainan material ini.

Keenam, MEDIA. Peran media massa cetak, eletronik dan online sangat penting dalam politik. Media bisa membentuk opini publik, mendongkrak popularitas calon atau memojokkan calon lain. Informasi tentang calon, visi dan programnya bisa cepat tersampaikan ke massa karena warta media. Menguasai media adalah satu pilihan bagi politisi untuk bisa menguasai opini publik.

Ketujuh, MANAGEMENT. Manajemen tim politik memang penting. Setelah koalisi partai terbentuk, calon mesti membentuk tim kerja atau tim sukses atau tim apalah namanya. Tim yang dibentuk dengan manajemen yang baik tentu menunjang pencapaikan tujuan. Tim yang dibentuk hanya untuk menyukseskan dirinya sendiri, hanya mau menjadi parasit, pasti melemahkan soliditas calon. Apalagi tim ABS (asal bos senang) yang bermain kaki dua dan kaki tiga. Mesti diwaspadai.

* * *

Apakah anda yakin bahwa calon yang memiliki banyak sumber dana (uang) pasti memenangkan Pilkada? Apakah anda yakin calon yang memiliki hanya sedikit uang, pasti gagal dalam Pilkada? Apakah anda yakin calon yang memiliki banyak uang bisa gagal dalam Pilkada? Apakah anda yakin calon yang serba kekurangan bisa menang dalam Pilkada? Yang saya yakin, oleh Providentia Dei (penyelenggaraan Tuhan) calon yang punya banyak uang bisa menang dalam Pilkada, bisa juga kalah dalam Pilkada. Demikian juga, calon yang kekurangan uang bisa menang dalam Pilkada atau bisa juga gagal. Kemenangan atau kegagalan dalam Pilkada itu bukan hanya urusan MAN/MEN dengan MONEY-nya. Bukan juga hanya sekadar the power of 7 M. Pilkada itu adalah ranah Tuhan menunjukkan kuat kuasa-Nya. Jadi, jangan jumawa kalau banyak uang dan jangan pesimis melulu karena kekurangan uang. Yang terpilih, direstui Tuhan.

Kita di NTT baru saja melewati pengalaman Pilkada 9 Desember 2020 kemarin. Semua incumbent yang ikut Pilkada, dinyatakan kalah. Apa kekurangan mereka? Jika ditilik dari factor 7 M, tentu mereka memilikinya. Tetapi uang lagi-lagi bukan segalanya. Figur, orangnya, calonnya menentukan. Figure yang dipercaya, merakyat, disukai rakyat, tanpa banyak uang pun mereka bisa berhasil. Karena perlombaan Pilkada adalah bukan tentang siapa yang memiliki akumulasi harta benda aset paling banyak atau siapa yang mempunyai uang lebih banyak. Bukan itu. Ukuran Pilkada adalah siapa yang mendapatkan suara rakyat (pemilih) lebih banyak. Itu eksekusinya di TPS antara pemilih dengan dirinya sendiri, dengan pertimbangan nuraninya.

Tak dipungkiri, politik Pilkada kita saat ini masih bergerak seputar sumber daya uang. Menurut Didik Supriyanto, berdasarkan aktor dan wilayah operasinya, politik uang dalam pilkada bisa dibedakan menjadi empat lingkaran sebagai berikut: (1) Lingkaran satu, adalah transaksi antara elit ekonomi (pemilik uang) dengan pasangan calon kepala daerah yang akan menjadi pengambil kebijakan/keputusan politik pascapilkada; (2) Lingkaran dua, adalah transaksi antara pasangan calon kepala daerah dengan partai politik yang mempunyai hak untuk mencalonkan; (3) Lingkaran tiga, adalah transaksi antara pasangan calon dan tim kampanye dengan petugas-petugas pilkada yang mempunyai wewenang untuk menghitung perolehan suara; dan (4) Lingkaran empat, adalah transaksi antara calon dan tim kampanye dengan massa pemilih (pembelian suara).

Politik uang lingkaran empat ini biasa disebut dengan political buying, atau pembelian suara langsung kepada pemilih. Ada banyak macam bentuk political buying, yakni pemberian ongkos transportasi kampanye, janji membagi uang/barang, pembagian sembako atau modus lainnya.

Tidak ada orang yang mencalonkan diri dalam Pilkada secara konyol atau hanya sekadar modal nekad. Berbagai pertimbangan sudah dibuat, kemungkinan dan peluang telah dianalisis. Tentu, sudah ada ‘persiapan’ termasuk mengantisipasi perihal 7 M itu. Saya menjalani politik dengan sukacita. Apapun yang terjadi kemudian, tetap dalam bingkai Providentia Dei.

Tentang politik dan uang, saya teringat pesan biblis ini: ‘carilah dahulu Kerajaan Allah, yang lainnya akan ditambahkan kepadamu.’ Lalu sebagai mantan SVD, saya masih ingat betul pesan St. Arnoldus Janssen pendiri SVD, ‘uang ada di saku para penderma.’ Lalu, mengapa takut berpolitik???

——————-nantikan episode 3——————

 

Oleh: Isodorus Lilijawa 

Komentar

Jangan Lewatkan