oleh

Berakit-rakit ke Hulu, Berenang-renang ke Tepian

-Cerita-833 views

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Kata-kata bijak ini memiliki filosofi hidup yang dalam. Filosofi yang mengerucut pada spiritualitas perjuangan, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, yang nantinya berbuah pada keberhasilan. Keberhasilan itu dinikmati dengan senang, sukacita, bahagia, penuh syukur.

Ungkapan bijak itu dapat dirumuskan secara ringkas dalam konteks milenial. Bunyinya kreasi dulu, rekreasi kemudian. Kerja dulu, nikmati hasil kerja kemudian. Berjuang dulu, berleha-leha kemudian. Jangan dibalik. Nanti berbahaya. Karena orientasi pada kesenangan, membuat daya juang lemah. Mental enak. Cari gampang. Ikut jalan pintas. Manusia berwatak jalan pintas hanya akan mencari kesenangan, tanpa kerja keras. Bisa merusak tatanan hidup bersama yang menuntut kerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas.

Dalam alur bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, penekanan pada perjuangan kini dan di sini sungguh jelas. Fokus pada “sakit” lantaran ada usaha kreatif, konsisten dan kontinyu. Fokus pada kreasi intensif, efektif dan inovatif. Fokus pada proses perjuangan dengan militansi dan determinasi tinggi. Itulah dimensi “sakit”.

Hasil tentu saja tidak mengkhianati proses. Keberhasilan dalam perjuangan menjadi alasan untuk bersukacita. Dimensi “senang” adalah buah dari perjuangan. Hasil yang baik telah tiba. Kini saatnya untuk rekreasi, sesudah kreasi. Bersenang-senang sesudah bersakit-sakit. Bergembira ria sesudah mencapai hasil luar biasa karena perjuangan luar biasa pula.

Saat rekreasi, jangan lupa diri, lupa waktu, lupa sesama, lupa Tuhan. Rekreasi dengan rasa syukur. Wajar dan pada tempatnya. Dengannya energi positif tetap terjaga, dan kian membara, untuk perjuangan selanjutnya. Sesudah rekreasi, kembali ke kreasi. Maka jangan perpanjang waktu rekreasi melebihi waktu kreasi. Semua ada waktunya. Semua ada takarannya. Tidak berlebihan. Pas-pas. Serasi, seimbang.

Yang jadi soal itu adalah mentalitas rekreasi melulu, kreasi minim. Bahkan nihil kreasi. Tapi mau menikmati hasil. Mau bersenang-senang tanpa kerja. Tipe ini bakal jadi parasit. Mendompleng pada karya orang lain. Makan dari keringat orang lain. Tidak berjuang, tapi bersenang-senang dengan hasil usaha orang lain. Ini namanya berenang-renang dahulu, berakit-rakit kemudian. Bersenang-senang melulu, bersakit-sakit tak dibutuhkan. Kalau sudah begini, artinya susah sudah datang. Siapa mau help?

 

(Oleh: Rm. Sipri Senda, Pr)

Komentar

Jangan Lewatkan