oleh

Berani Lawan Kekerasan

-Cerita-220 views

Seorang pendekar yang kuat takkan mencari lawan yang lebih lemah. Dia akan bertarung dengan lawan yang sepadan, atau bahkan lebih kuat darinya. Jika ada pihak yang merasa dirinya lebih kuat lalu mencari lawan yang lebih lemah, ia tak lebih dari sekadar pelaku bully semata.

Dalam urusan negara juga begitu. Jika negara yang memiliki kuasa dan senjata melakukan kekerasan kepada rakyat yang lemah, tak berdaya, bukan berarti negara tersebut kuat. Negara dengan segenap aparatnya itu telah menjadi pelaku bully terhadap anggota masyarakatnya sendiri. Situasi seperti ini, sedang terjadi di Myanmar kini, di bawah junta militer.

Demikian pula pada urusan rumah tangga, jika ada pihak yang melakukan kekerasan kepada anggota keluarga yang lebih lemah, tak menunjukkan bahwa ia kuat. Ia bukan seorang jagoan. Pihak yang kuat punya naluri melindungi yang lemah, seperti naluri induk terhadap anak-anaknya.

Pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), harus ditelusuri secara psikologis, apakah pelaku kekerasan berasal dari keluarga yang tak harmonis (broken home), ada anggota keluarga menjadi pelaku kekerasan, atau sekadar fungsi duplikasi. Apa beda ketiganya?

Pertama, keluarga tak harmonis, artinya ia tumbuh dengan tak mendapat cukup kasih sayang dan perhatian sewajarnya dari salah satu atau kedua orang tuanya. Mungkin karena orang tuanya berpisah, lalu ia dititipkan kepada keluarga lainnya.

Kedua, anggota keluarga pelaku kekerasan -biasanya pihak ayah- melakukan kekerasan terhadap ibu dan anak-anaknya. Seorang anak yang tumbuh dalam situasi seperti itu, berpotensi menjadi pelaku kekerasan dalam bentuk yang sama atau lainnya ketika dewasa.

Ketiga, bahwa kekerasan merupakan norma, yang dianggap kebiasaan dalam keluarga. Dalam masyarakat feodal-patriarkis, bisa merupakan kewajaran bagi laki-laki ‘mendidik’ perempuan dengan cara kekerasan.

Anak-anak dalam keluarga seperti itu, tumbuh dengan menganggap cara kekerasan tersebut adalah tradisi dalam masyarakat mereka. Hal seperti ini kamu jumpai pada para pelaku kekerasan dalam pacaran (KDP) dengan dalih bahwa perempuan memang harus dididik dengan cara seperti ditampar misalnya.

Beruntung jika anak-anak yang tumbuh dalam satu atau semua situasi itu kelak menjadi manusia yang menolak meneruskan kekerasan masa lalu tersebut. Namun, tak semua orang bisa seberuntung itu jalan hidupnya.

Ada beberapa penyebab lain mengapa timbul kekerasan dalam keluarga, seperti himpitan ekonomi, hingga hadirnya orang ketiga.

Namun pertama-tama yang harus dicari adalah faktor psikologi yang tersembunyi dari peristiwa masa lalu seorang pelaku kekerasan, seperti dalam ketiga contoh di atas. Atau apakah ia korban bully di sekolah dan atau di lingkungannya?

Karena kamu yang sulung, maka menjadi tanggung jawabmu, agar adik-adikmu tumbuh tanpa menjadi korban bully dari teman sekolah, atau orang lain di sekitar rumahmu. Oleh sebab itu, kamu harus menjadi orang yang berani, seperti induk yang bertekad melakukan apa saja untuk melindungi anak-anaknya.

Tumbuh menjadi orang yang berani itu tak mudah, tapi mirip seperti permainan di gadgetmu. Jika kamu sudah bisa melewati level pertama, kamu akan berani bermain di level yang lebih sulit; kedua, ketiga, dan seterusnya. Sama seperti pendekar yang kucontohkan di atas itu.

Namun aku khawatir dengan penggunaan gadget berlebihan, baik di tanganmu maupun adik-adikmu. Gadget mudah sekali merusak kesehatan mata. Kini aku merasakan dampaknya yang luar biasa, tak hanya pandangan yang kabur, tapi juga akibatkan sakit kepala.

Sebagai penutup, aku kutipkan sebuah paragraf dari Pramoedya Ananta Toer.

“Keberanian itu bukan anugerah, tapi hasil latihan hidup sehari-hari. Keberanian itu sama seperti otot manusia. Kalau tidak dilatih, dia akan jadi lemah. Dalam hidup ini, kita menghadapi banyak tantangan. Latihan pertama adalah jangan lari. Hadapi semuanya itu, untuk melatih keberanian.”

Jadilah kuat dan berani.

Peluk ciumku untuk adik-adikmu.

Cerita untuk kakak Ames.

 

Moskow, 1 Maret 2021
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan