oleh

Berdamai dengan Kompleksitas

-Cerita-306 views

Konsekuensi menjalankan prinsip inklusif adalah kompleksitas. Inklusif artinya melibatkan banyak pihak. Namun bila kita berlayar lebih jauh dan menyelam lebih dalam, kompleksitas itu bukan hanya pada pelibatan berbagai pemangku kepentingan yang begitu berbeda. Akan tetapi, juga memahami persoalan, tantangan, concern dan aspirasi mereka. Intinya, putting ourselves in others shoes. Dan ini, tidaklah sederhana.

Beberapa hari ini, ada pertanyaan yang terus menggantung. Kita tahu Bursa Efek Indonesia sangatlah strategis. Ada sekitar 750 perusahaan terbuka, belum lagi berbagai sekuritas, perusahaan investasi, dll sehingga total bisa lebih dari seribu perusahaan. Kapitalisasi-nya lebih dari 8 ribu triliun. Ini artinya, separuh dari PDB Indonesia. Ragam perusahaan itu sangat berbeda, dari pertanian, tambang, teknologi, keuangan, properti, kesehatan, logistik, dll.

Pertanyaannya, bagaimana membuat perusahaan-perusahaan tersebut menjadi subyek perubahan pada masa depan yang lebih berkelanjutan? Kalau hanya bicara normatif, tentu ini tidaklah sulit. Pertanyaannya, bagaimana mendorong implementasi pada hal yang lebih terukur. Bagaimana secara voluntary, diajak pada hal teknis dan detail pada level tertentu.

Tugas utama dan pertama adalah mendengarkan. Sangatlah perlu, untuk belajar dan memahami. Meskipun pada level tertentu saya terlibat dalam aktivitas pasar modal, serta mempelajari berbagai laporan keuangan perusahaan, namun berkomunikasi dan berinteraksi begitu dalam dengan bursa efek belum pernah terjadi sebelumnya. Persiapan seminar dan workshop teknis yang massif karena melibatkan ratusan perusahaan, tentu tidak sederhana.

Saya sungguh lega dan bersyukur, dua hari acara dapat berlangsung lancar. Persiapan tidak sia-sia. Dukungan dan kerja sama dari Bursa Efek Indonesia (BEI), sangatlah berarti. Tentu juga, dari Global Reporting Initiatitive (GRI). Ratusan perusahaan hadir, fasilitasi berjalan lancar. Tentu, banyak pertanyaan detail, teknis dan spesifik. Untunglah, kami mampu merespon dengan baik. Dan tampaknya, perusahaan-perusahaan itu sangat antusias. Sungguh bersyukur. Dan tiba-tuba, banyak permintaan pertemanan dari para corporate secretary perusahaan pada akun linkedin saya.

Saya sungguh berharap Rencana Aksi Nasional (RAN) SDGs, benar-benar menjadi sarana gerakan bersama (collective action) untuk membangun masa depan Indonesia yang maju, inklusif dan berkelanjutan. Tidak bisa lain, kita harus kerjasama dan gotong royong. Dunia usaha (bisnis) adalah salah satu entitas yang paling strategis untuk perubahan. Ada banyak persoalan tentu saja, tapi kita harus terus bergerak maju.

Penuh sekali beberapa hari ini, bukan hanya dunia bisnis yang kita upayakan menjadi bagian besar dari arak-arakan orkestrasi. Pada hari yang sama dengan BEI, pertemuan dengan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) juga tetap dilakukan. KWI merupakan lembaga pemimpin umat Katolik di Indonesia. Berkomunikasi dengan KWI tentu dengan mudah karena satu hati, ini terutama karena Paus Fransikus (pemimpin umat Katolik dunia) telah mendukung SDGs ketika diluncurkan dalam Sidang Umum PBB tahun 2015.

Secara fisik kemarin juga ke Gedung Pusat Muhammadiyah. Ketika masuk dalam ruang rapat saya takjub, karena sarana pertemuan hybrid (online dan offline) yang canggih. Berbagai lembaga/majelis bisa turut hadir meski tidak di Jakarta. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang dalam, teknis dan operasional yang mesti dijawab, ini tindak lanjut pertemuan awal minggu dengan PP Muhammadiyah. Hal yang juga menjadi catatan syaya adalah semangat kemanusiaan universal, lalu saya juga baru tahu kalau Muhamadiyah ternyata teregister organisasinya dalam UN ECOSOC. Wow, sangat maju dan outward looking.

Minggu-minggu lalu, sudah pertemuan pula dengan Nahdlatul Ulama, Matakin (Konghucu), juga kemudian Walubi dan Permabudhi (Budha). Dengan PHDI (Hindu) juga akan dilakukan, namun masih menunggu setelah kegiatan besar yang akan dilakukan. Lalu masih ada PR lain mendamaikan lembaga multilateral, serta mencari jalan keluar dengan financial authority.

Pada hari pertemuan dengan Muhammadiyah kemarin, ada kejadian unik. Pertemuan dengan Muhammadiyah belum selesai dan hampir menuju ujung, pertemuan dengan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) pun dimulai. PGI merupakan pimpinan umat Kristen (Protestan) di Indonesia. Untunglah pertemuan ini online, jadi saya langsung melanjutkan pertemuan dengan PGI. Dan ini mungkin sulit dibayangkan sebelumnya, saya rapat dengan Persekutuan Gereja-Gereja (PGI) di Gedung Pusat Muhammadiyah. Wow, sungguh luar biasa memang disrupsi teknologi.

Wah, lumayan padat juga waktu-waktu ini. Kok kayak tidak habis-habis. Tapi tentu senang dengan hal ini. Dalam refleksi saya pertemuan dengan tokoh-tokoh keagamaan, banyak yang punya niat baik, mulia dan sudah menjalankannya. Tantangannya kini, bagaimana mensinergikan berbagai upaya kebaikan ini menuju dampak yang lebih besar.

Saya sangat percaya apa yang disampaikan Bung Karno, bila Pancasila diperas-peras menjadi satu maka hal itu adalah . Gotong royong adalah jati diri bangsa ini dan menjadi sarana keluar dari persoalan apapun. Ini juga menjadi kunci kemajuan. Ini saya yakini dengan seluruh sanubari. Semoga bisa terwujud. Amin.

 

Oleh: Setyo Budiantoro

Komentar

Jangan Lewatkan