oleh

Gereja yang Masih Sepi

-Cerita-843 views

PAGI ini saya ke SDK Santo Antonius Otista, Jakarta Timur. Sekolahan ini berada dalam kompleks gereja Paroki Santo Antonius Padua Bidaracina, Keuskupan Agung Jakarta. Di pos sekuriti petugas keamanan belum nampak. Saya berpikir, barangkali masih berada di tempat lain. Entah dalam pastoran atau di dalam Gereja.

“Sejak Covid-19, suasana dalam kompleks Gereja sepi. Rindu juga bertemu umat. Tapi, kita semua setia berdoa sambil menaati protokol kesehatan pemerintah agar wabah ini segera hilang. Pake masker, cuci tangan, dan jaga jarak adalah salah satu cara efektif menghentikan gerak wabah ini,” kata Kasmir, tenaga sekuriti Gereja Santo Antonius Otista. Kasmir adalah pria asal Manggarai, Flores Barat. Ia tinggal di Kampung Sawah, Kota Madya Bekasi, Jawa Barat.

Tak hanya Gereja Antonius yang terasa sepi. SDK Santo Antonius juga terdampak menyusul wabah Covid-19 yang kabarnya bermuasal dari kandang hewan di Wuhan, melanda Indonesia. Sekolahan itu sepi. Kalau biasanya kompleks sekolah ini ramai dengan murid, pagi ini nyaris seperti pemandangan di beranda Gereja. Hanya ada satu petugas piket, yang duduk sejarak satu depa dari gerbang sekolah. Tidak ada orang atau lalu lalang kendaraan. Tak banyak orangtua murid, penjemput berjubel seperti saat wabah hantu belau (Covid-19) ini mendera Indonesia dan belakangan nyaris membuat langkah manusia bahkan ekonomi kelimpungan.

Jakarta terasa seperti kampung besar yang ditinggal penghuninya lalu bertahan di kebun atau ladang jagung di lereng gunung. Gereja paroki kami pun demikian. Sepi. “Kotak ini untuk sumbangan seorang siswa kita yang rumah orangtuanya mengalami musibah. Kotak amal lain untuk donasi kemanusiaan. Berapapun donasi, tak masalah. Sukarela,” kata petugas sekolah yang tengah piket.

Gubernur DKI Jakarta Anies Rashyid Baswedan dan jajaran pemerintah setia dengan berbagai langkah kebijakan bersama Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Covid-19 DKI Jakarta. Di tingkat warga, tentu ada harapan semua warga patuh protokol kesehatan. Berat, memang. Tapi tentu langkah tegap dan menatap ke depan adalah pilihan. Semangat perlu dipompa.

Solidaritas bagi sesama yang kesulitan di tengah wabah yang sudah mendunia (pandemik) menguras rasa dalam jiwa yang lain. Solidaritas boleh jadi adalah satu-satunya bahasa yang bertahan dalam dinding hati. Indonesia dengan mayoritas penduduk taat ibadah, agama, dan rasa solidaritas terasa diingatkan dengan gempuran wabah Covid-19. Sekat-sekat primordial runtuh seketika tatkala solidaritas atas sesama menjadi bahasa universal di antara setiap hati, sumber cinta dan bela rasa.

“Kita semua rasanya kelimpungan sejak Covid-19 mewabah. Pemerintah bekerja keras, kita orang kecil juga harus bekerja keras dengan mentaati imbauan pemerintah menjalankan protokol kesehatan. Sambil berdoa sesuai keyakinan masing-masing, insya Alloh kita semua mampu melewati ujian berat ini,” kata tukang ojek online.

Di atas motor, si tukang ojek dan saya tentu mengenakan masker sesuai protap pemerintah. Ada satu yang membuat saya bahagia bersama si tukang ojek ini. Ada kesadaran religi. Doa pada Tuhan, sang Sabda di tengah hantaman wabah pandemik ini adalah jawaban lain umat beragama. Si tukang ojek ini telah pula mengingatkan dan mengajarkan bahwa doa adalah obat mujarab di saat suka maupun duka bagi semua umat beriman.

Tatkala tiba di rumah, saya masih membayangkan kompleks Gereja dan sekolah yang sepi. Gereja tua ini sangat ramai sebelum Covid-19 menerpa. Misa Mingguan biasanya dilaksanakan lima kali. Tiga kali pagi dan dua kali sore. Umat membludak. Gerbang utama Gereja penuh sesak. Saling berjabat tangan, melempar senyum, nikmati teh botol di trotoar adalah pemandangan mengasyikkan sebelum Covid-19 muncul. Nyaris halaman sekolah puasa dengan keriuhan suara anak-anak. Para guru dan siswa bersua via jejaring maya google classroom.

Kini, pemandangan itu seolah menjauh. Sepi hinggap nyaris di semua lorong hingga pelosok negeri. Semua taat protokol kesehatan agar wabah ini sepi dari muka bumi Indonesia. “Kita berdoa kepada Tuhan melalui Santo Antonius Padua agar wabah ini segera lenyap. Rasanya tak tega menyaksikan kompleks Gereja ini sepi dari lalu lalang umat,” kata Kasmir. Santo Antonius Padua, dengarlah doa kami. Semoga kerja besar pemerintah dan warga mencegah Covid-19 beroleh berkat Tuhan.

 

Jakarta, 1 Februari 2021
Oleh: Ansel Deri
Umat Paroki St Antonius Padua Jakarta

Komentar

Jangan Lewatkan