oleh

Kecantikan dan Rancu Manusia

-Cerita-238 views

Sore itu saya sedang duduk di halaman dan membaca beberapa artikel di internet. Sampailah saya pada cerita tentang Cleopatra yang mengingatkan saya pada wanita-wanita timur.

Cleopatra merupakan seorang ratu Mesir yang bukan berasal dari Mesir namun dari Yunani-Makedonia. Sejarah mencatat tentang kecantikannya yang luar biasa sehingga pada akhirnya dapat memikat hati seorang Julius Caesar sang pemimpin besar Romawi.

Sepeninggal Julius Caesar, Cleopatra melanjutkan hubungan dengan Mark Antony yang adalah tangan kanan mendiang suaminya Julius Cesar. Dengan menjalin hubungan bersama Mark Antony, Cleopatra menegaskan posisinya sebagai penguasa Mesir.

Akhir hidup dari Cleopatra justru terkesan menyedihkan, akibat perseteruan antara Mark Anthony dengan Octavian yang merupakan anak angkat Julius Caesar dan mengklaim dirinya sebagai penerus kekuasaan. Pasukan Cleopatra dan Mark Anthony dikalahkan dan dipaksa mundur sampai ke Mesir.

Di bawah tekanan akibat kekalahan perang Mark Anthony mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri akibat menerima berita bahwa Cleopatra telah meninggal. Sejarah mencatat tentang kematian Cleopatra disebabkan karena meminum racun setelah menyerah dalam perjuangannya bersama Mark Anthony. Kisah romansa antara mereka berdua menjadi babak akhir eksistensi dari kerajaan Mesir.

Cleopatra tampaknya menjadi model kehidupan kaum feminis masa kini. Kecantikan yang dikisahkan sangat erat dengan dirinya berjalan beiringan dengan kemampuannya dalam mengelola kerajaan yang pada saat itu sangat indentik dengan budaya patrianistik.

Cleopatra merupakan ratu Mesir yang dikagumi dikarenakan perannya yang luar biasa dalam menjamin keberlangsungan hidup warganya. Satu kelemahannya adalah ketidaktahuannya terhadap militer yang memang merupakan wilayah permainan laki-laki

Siapa yang tidak mengenal Ratu Cleopatra? Ratu Mesir yang satu ini merupakan sosok wanita yang sangat berpengaruh pada zamannya dan dikenal juga di zaman ini. Dedikasinya yang luar biasa sebagai seorang ratu, berjalan beriringan dengan desas-desus kemolekan wajah dan tubuhnya yang justru menjadi sorotan dan alasan terkenalnya seorang Cleopatra.

Ketika anda bertanya tentang siapakah Cleopatra, justru yang tertera dalam benak orang-orang adalah seorang wanita cantik yang berhasil menyihir Romawi, dan membuat seorang Kaisar Julius Caesar menambatkan hati padanya. Hubungannya dengan Julius Caesar ini nampaknya menjadi batu loncatan untuk menegaskan posisinya sebagai penguasa Mesir.

Terlepas dari motivasinya mengenai cinta sejati ataupun belahan jiwa, kita dapat menyaksikan bahwa posisinya sebagai kekasih sang Kaisar membawa dampak besar dalam konsistensi politik seorang Cleopatra. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi masa itu bahwa “bila engkau ingin menguasai seluruh dunia, kuasailah Romawi” dan tampaknya Cleopatra melihat hal itu semua.

Cleopatra seorang ratu Mesir menjadi model kehidupan kaum feminis masa kini. Kecantikan yang dikisahkan sangat erat dengan dirinya berjalan beiringan dengan kemampuannya dalam mengelola kerajaan yang pada saat itu sangat indentik dengan budaya patrianistik. Cleopatra merupakan ratu Mesir yang dikagumi dikarenakan perannya yang luar biasa dalam menjamin keberlangsungan hidup warganya.

Satu kelemahannya adalah ketidaktahuannya terhadap militer yang memang merupakan wilayah permainan laki-laki. Namun dengan memanfaatkan kehadiran Julius Caesar dan kemudian Mark Anhtony, Cleopatra memasang patok sebagai seorang wanita yang paling memenuhi kriteria sebagai seorang Firaun yang mempunyai daya untuk menahkodai bangsa Mesir.

Dalam catatan sejarah lain, melukiskan bahwa daya tarik Cleopatra sesungguhnya bukan pada kecantikannya semata tapi terletak pada kepintarannya, pemahamannya yang luas mengenai politik yang kemudian menjadi modal dalam berdiskusi secara sederajat dengan penguasa lainnya. Dalam diri Cleopatra kita dapat melihat konteks kewanitaan yang sempurna dimana kecantikannya berjalan beriringan dengan kecerdasannya.

Ketika berbicara tentang kesetaraan gender, pemikiran saya selalu mengarah kepada seorang Cleopatra. Bagaimana tidak, di zaman yang justru sama sekali tidak mengenal hak asasi manusia dan berkembangnya budaya patrianistik, Cleopatra justru tampil dan menegaskan posisinya sebagai seorang penguasa yang patut diperhitungkan. Bukan mengambil posisi sebagai pria, Cleopatra mengambil sisi utuh dirinya sebagai wanita lewat kecantikannya yang katanya menyihir istana Romawi.

Walaupun dikenal sebagai wanita oportunis, Cleopatra sebenarnya patut dikagumi. Sebagai Ratu Mesir ia mengusahakan apa yang menjadi tanggung jawabnya yakni keberlangsungan kerajaannya. Ketidaktahuannya soal militer membuatnya tergantung pada sosok pria yang kompeten secara militer untuk menyelamatkan pemerintahannya dari kehancuran. Tidak bisa dipungkiri bahwa berkat dirinya kerajaannya selamat, tumbuh subur dan terjamin kedaulatannya selama lebih dari 20 tahun.

Sebuah pencapaian mengingat tidak banyak kerajaan lain di sekitarnya yang mampu berbuat sama ketika menghadapi Romawi yang tidak dapat dibendung. Hal-hal yang membuat Cleopatra mampu melakukannya bukanlah daya tarik seksual, bukan karena wajah cantik, bukan pula kekayaan semata tetapi kepintaran yang luar biasa. Pemahaman terhadap masalah politik dan kenegarawanan menjadi modal untuk berdiskusi secara sederajat dengan penguasa lain dijamannya.

Uniknya hal-hal di atas masih sangat relevan dengan masa sekarang. Pasangan yang hanya tahu soal sepatu, baju, salon, dan tas tangan, walaupun cantik tetapi menjadi kurang menarik bagi para pria sukses. Sejarah mencatat bahwa lebih banyak wanita kurang cantik yang mampu berkuasa, mungkin karena mereka harus memutar otak untuk mendapatkan hal yang diinginkan.

Berbeda dengan wanita cantik yang hanya perlu memelas untuk mendapatkannya. Apabila kebanyakan wanita hanya berpikiran tentang keluarga ataupun sosialita kelas atas yang membosankan bagi pria, seorang Cleopatra mampu berbicara tentang kenaikan harga gandum di Mesir dan efeknya terhadap perekonomian Mediterania.

Berdiskusi tentang siapa yang sebenarnya berkuasa di Yunani, apa yang bisa dilakukan untuk membuat Politikus Roma mendukung mereka, hingga siapa yang bisa dibeli untuk menguatkan agenda mereka di dalam Senat.

 

Oleh: Soterdino Obe / Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

Komentar

Jangan Lewatkan