oleh

Muda adalah Kekuatan

-Cerita-279 views

Saya El Asamau, berusia 33 Tahun, seorang pensiunan ASN. Saat kecil, ayah saya mengajak kami untuk menetap di sawah yang letaknya cukup jauh dari perkampungan, dengan tujuan agar bisa bebas bekerja di sawah sejak pagi buta, dibandingkan harus berjalan kaki bolak-balik 15 Kilometer setiap hari. Ayah saya bekerja sangat keras, bahkan harus menggarap lahan pertanian lain agar bisa memenuhi kebutuhan kami yang serba kekurangan. Sebagai petani kecil saat itu, ayah dan ibu saya yang hanya tamatan SD sangat berharap agar kami bisa bersekolah hingga SMA.

Karena tinggal di sawah, kami harus berjalan kaki untuk sekolah ke SD di kampung. Setelah tamat SD, saya harus dititipkan ke keluarga di kota untuk melanjutkan ke SMPN 2 Kalabahi agar biaya hidup sehari-hari bisa ditanggung keluarga, begitu pun ketika SMA saya ke ibu kota Propinsi NTT, sekolah di SMA PGRI Kupang namun tidak tamat karena ayah sudah tidak bisa membiayai. Saya kemudian pindah ke SMA St. Yoseph Kalabahi. Saat di SMA, saya mulai tekun belajar agar bisa mendapatkan beasiswa. Keluar sebagai lulusan terbaik saat Ujian Nasional, saya coba mendaftar di Fakultas Kedokteran dan lulus namun tidak bisa melanjutkan karena ketiadaan biaya. Saya kemudian mendaftar dan diterima di IPDN Angkatan 18, dibiayai dan dididik dengan sangat baik untuk menjadi seorang abdi negara, Aparatur Sipil Negara.

Setelah lulus dari IPDN, saya ditempatkan di Pemkab Alor dan kemudian dipercayakan menjadi lurah termuda di Pemkab Alor saat saya berusia 24 tahun. Ketika bekerja sebagai ASN, saya tetap belajar hal-hal baru termasuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Ternyata hasil belajar saya memberikan saya kesempatan untuk melamar beasiswa LPDP, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan. Saya kemudian lulus dan berangkat study ke American University, US untuk mengambil program master kebijakan publik. Setelah selesai, saya kembali dan mengabdi sambil mencoba melamar ulang beasiswa LPDP untuk program doktoral di US dan dinyatakan lulus. Saat di US, saya pernah bertemu dan belajar bagaimana menjadi pemimpin yang melayani dari beberapa walikota terbaik yang dipilih Bank Dunia untuk study banding di Washington DC, salah satunya adalah Walikota Kupang, Bapak Jefri Riwu Kore / Jeriko.

Sebagai anak muda dari daerah terpencil, apalagi dengan latar belakang keluarga yang sangat sederhana, saya merasa sangat beruntung bisa mendapat kesempatan untuk belajar bahkan hingga ke universitas terbaik di luar negeri. Kesempatan yang membuktikan bahwa dengan kerja keras dan terus belajar, membuat saya siap untuk melihat setiap peluang, termasuk peluang untuk mendapatkan beasiswa.

Saya kemudian mencoba untuk memberikan kembali apa yang sudah saya dapatkan dari negara. Saya memanfaatkan waktu luang untuk mendirikan lembaga Pendidikan luar sekolah bagi ribuan warga putus sekolah di Alor, dimana sebanyak 820 warga sudah menamatkan Pendidikan luar sekolahnya, dan masih tersisa ribuan warga lain yang akan belajar. Saya juga membuka rumah asuh untuk merawat ODGJ yang ada di Alor. Dalam mempersiapkan anak-anak Alor dalam melamar beasiswa, saya juga membuka lembaga kursus Bahasa Inggris agar mereka bisa belajar. Akhirnya saya mendirikan Yayasan sehingga bisa melayani lebih luas.

Besarnya rasa cinta terhadap dunia sosial, aktivitas saya sebagai pekerja sosial cukup menyita waktu dan membuat saya harus memilih untuk berhenti dari ASN. Sebuah keputusan yang berat, apalagi saya datang dari keluarga yang biasa, sedangkan menjadi ASN adalah mimpi hampir setiap orang di lingkungan sekitar saya. ASN tidak hanya pekerjaan, tetapi telah menjadi status sosial dan kebanggaan setiap orang tua. Seseorang baru dikatakan sudah berhasil jika telah memiliki NIP-Nomor Induk Pegawai. Akibatnya sebagian besar mahasiswa yang sementara kuliah menaruh harapan besar untuk menjadi ASN setelah wisuda, bukan sekedar agar bisa mengabdi dan terjamin hidupnya tetapi lebih kepada status sosial tadi. Akhirnya banyak dari mereka yang menghabiskan waktu dengan menunggu untuk menjadi ASN, dibandingkan melakukan sesuatu yang mereka sukai dan berpotensi menghasilkan bahkan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk yang lain.

Bekerja dimana saja tidak masalah, tapi maksud saya adalah jangan sampai kita tidak berupaya untuk mengejar mimpi-mimpi kita, apalagi usia kita masih sangat produktif. Anak-anak muda harusnya bisa melakukan apa yang sesungguhnya mereka sukai serta berdampak besar pada sekitar tanpa standar sukses yang sudah ditetapkan selama ini yaitu menjadi seorang ASN.

Banyak contoh diluar sana, dimana seseorang harus keluar dari pekerjaannya agar bisa menggapai mimpi besar mereka. Sebagai contoh, seorang anak muda bangsa yang bercita-cita menjadi presiden RI, Agus Yudhoyono-AHY. AHY harus rela meninggalkan peluang karier, pangkat dan jabatannya di militer agar fokus berjuang dan melayani melalui partai politik, Partai Demokrat. Sebuah keputusan yang besar, yang menyisakan tanda tanya seantero bangsa. Beragam komentar muncul: “Masih terlalu muda”, “Harus banyak belajar”, “Mengapa terburu-buru padahal AHY bisa jadi seorang jenderal kelak”.

Namun di sisi lain, ada sebagian besar anak-anak muda yang terinspirasi termasuk saya. AHY sangat mengetahui kemampuan dirinya, dan sangat yakin bahwa cita-citanya menjadi presiden bisa dikejar walaupun masih sangat muda. AHY mengajarkan kepada kaum muda bahwa ketika kita memiliki mimpi besar maka wajib hukumnya untuk dikejar. Usia muda bukan menjadi halangan untuk berdampak, justru tantangan agar dengan kemudaan kita, kita bisa menunjukan kekuatan potensi kita untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.

#MudaAdalahKekuatan

 

Oleh: El Asamau

Komentar

Jangan Lewatkan