oleh

Pengadilan Cuci Tangan Pilatus

-Cerita-941 views

Pilatus. Gubernur Romawi di Palestina. Bermarkas di Kaisarea. Tapi setiap kali perayaan Paskah Yahudi, berangkat ke Yerusalem bersama pasukan Romawi. Biasanya tinggal di benteng Antonia. Mengawasi jalannya pesta Paskah agar tidak terjadi pemberontakan.

Gubernur Romawi berperan sebagai pemimpin politik, militer dan kehakiman. Ia wakil kaisar di tanah jajahan. Ia panglima militer Romawi yang terkenal sigap dalam pertempuran. Ia adalah hakim yang mengadili perkara-perkara politik dan sosial sesuai hukum Romawi.

Pengadilan Yesus terjadi pada masa pemerintahannya sebagai Gubernur Romawi di Palestina. Sebagai hakim, ia mengadili sebuah perkara rumit. Dari segi hukum Romawi ia tidak menemukan kesalahan apapun yang setimpal dengan hukuman mati. Maka ia bermaksud membebaskan Yesus. Tapi tekanan para pemimpin Yahudi yang menghasut massa untuk berteriak salibkan Yesus, membuat ia terpojok. Jika menolak tuntutan itu, ia bisa berhadapan dengan pemberontakan orang Yahudi yang lebih parah. Jika ia tidak mampu menyelesaikan persoalan dan malah menimbulkan persoalan gejolak politik baru, ia akan dinilai buruk oleh kaisar dan bisa dipecat atau diturunkan pangkatnya. Karier politiknya bisa hancur. Lebih baik korbankan satu orang daripada timbulkan gejolak sosial politik yang lebih besar. Maka cuci tangan adalah pilihan terjepit.

Sejarah mencatat pengadilan itu sebagai salah satu pengadilan yang sangat tidak adil. Pilatus mencuci tangan. Melepas tanggung jawab. Tidak berani mengambil risiko. Mencari aman. Demi keamanan posisi, demi karier masa depan. Orang benar dikorbankan. Kebenaran dikorbankan.

Mentalitas Pilatus masih terulang dalam dunia peradilan masa kini. Demi alasan tertentu yang sifatnya subjektif, kebenaran disingkirkan. Yang salah jadi benar, yang benar jadi salah. Lalu cuci tangan dengan wajah tak berdosa. Di masa corona ini, sulit dibedakan cuci tangan ala Pilatus dan cuci tangan ala kesehatan. Ekspresi wajah saat cuci tanganpun sulit terbaca karena tertutup masker. Corona, oh corona. Pilatus, oh Pilatus.

 

Oleh: Rm. Sipri Senda, Pr

Komentar

Jangan Lewatkan