oleh

Perempuan Bukan Makhluk Kedua

-Cerita-237 views

MAMA Vira menjadi salah seorang narasumber dalam testimoni di grup orang-orang Indonesia yang telah menerima vaksin anti Covid-19 di seluruh dunia, mewakili orang Indonesia di Moscow – Russia. Di grup ini semua orang berbagi pengalaman, baik mendapatkan vaksin, maupun pekerja medis yang melakukan vaksin.

Di grup itu, kami mendapatkan cukup banyak informasi baik tentang vaksin maupun perkembangan pandemi dari seluruh dunia. Beberapa yang disuntik Pfizer misalnya mengaku memiliki reaksi yang sama; lapar. Namun, ada seorang perawat yang sudah menerima vaksin Pfizer tanggal 17 Desember 2020 dan 7 Januari 2021 yang hasil test swab-nya pada 4 Pebruari 2021 menyatakan dia positif tanpa gejala. Sekarang ia harus menjalani isolasi mandiri.

Reaksi orang berbeda-beda, baik atas vaksin yang sama, maupun atas vaksin yang berbeda. Seperti yang aku ceritakan padamu kemarin, reaksi kami pusing sekitar satu jam, teman-teman Thailand pusing selama dua jam, orang Russia yang kukenal mengaku lemas selama dua hari, sementara Gerald Maulana dan empat temannya mengalami reaksi yang sama; panas tinggi semalaman. Gerald mengonsumsi paracetamol untuk mengatasi demamnya. Ini semua reaksi atas Sputnik V.

Hasil diskusi Mama Vira di grup tersebut rencana akan dimuat di Kompas, entah yang cetak atau online. Sama seperti tulisanku kepadamu kemarin, yang disadur oleh media online kupangterkini.com, lalu aku diwawancari oleh inews tv, di acara inews siang. Betapa hebat dan cepatnya informasi menggelinding di seluruh dunia, sesuatu yang tak kami alami dulu.

Sebelumnya, dalam daftar narasumber nama Mama Vira dituliskan dengan “Ibu Aloysius”. Lalu, aku meralat panitia: Ibu Aloysia Vira. Bagiku ini penting, karena itu aku jelaskan kepada mereka.

Ketika kami menikah, kami sepakat bahwa Mama Vira harus menyandang namanya sendiri. Tak seperti pola feodal-patriarki yang menihilkan identitas perempuan setelah pernikahan, identitas mereka hilang, berganti menjadi nama suami. Maka dalam banyak struktur di kantor pemerintahan, baik sipil maupun militer, terpampang foto-foto perempuan dengan nama laki-laki: Ibu Suparman, Ibu Bambang, Ibu Sigit, Ibu Hartono, dsb.

Perempuan bukan makhluk kedua, bukan second sex. Perempuan dan lelaki sama utamanya, sama pentingnya dalam peradaban. Malahan perempuan lebih penting dalam pelestarian suku dan peradaban. Suku primitif yang jumlah perempuannya lebih sedikit, rentan akan kepunahan, daripada suku yang memiliki banyak perempuan.

Mari kita simulasi sederhana dengan Suku Primitif A dan Suku Primitif B yang sama mempunyai 10 orang anggota suku. Ingat, ini adalah suku primitif yang hidup ribuan tahun lalu, ketika mereka masih tinggal di dalam goa.

Suku A terdiri dari 9 orang perempuan dengan 1 laki-laki, sementara Suku B mempunyai 9 laki-laki dengan 1 perempuan. Dalam setahun, Suku A dapat berkembang dengan hadirnya 9 bayi laki-laki, sementara suku B hanya 1 orang bayi laki-laki saja. Dalam 10 tahun Suku A lebih unggul dalam jumlah pekerja dan prajurit, karena telah memiliki 90 generasi baru, sementara Suku B hanya memiliki 9 orang saja.

Perempuan yang banyak bisa lebih cepat menghasilkan penerus daripada suku dengan perempuan yang sedikit. Ini pula yang melatari perbudakan dan perang. Banyak milisi atau paramiliter yang mengambil perempuan dari pihak lawan atau masyarakat sipil lainnya untuk dijadikan budak, dengan tujuan melahirkan prajurit-prajurit baru.

Kembali lagi ke pokok soal tentang “Ibu Aloysius”. Semoga kamu paham tentang pentingnya bagiku agar Mama Vira tak kehilangan identitasnya sendiri. Dengan atau tanpa tukang kebun, bunga akan mati. Dengan atau tanpa laki-laki, perempuan akan jalani hidupnya sendiri, secara mandiri.

Cerita untuk kakak Ames.

 

Moskow, 9 Pebruari 2021
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan