oleh

Remaja, Depresi, dan Korupsi

-Cerita-317 views

LIMA, demikian aku menyebutnya. Ia depresi.

Sebagai remaja yang baru lulus sekolah, ia langsung berhadapan dengan dunia nyata, yang mungkin sangat berbeda dari gambarannya.

Di tempatnya bekerja –sebuah kementerian di Jakarta- ia melihat praktik-praktik kecurangan; korupsi yang melibatkan banyak pihak. Korupsi yang mungkin tak seberapa besar, yang takkan dilirik oleh media dan KPK. Dua tahun berdiam diri, mungkin membuat Lima yang relijius tertekan, lalu meledak seperti sekarang ini.

Ledakan emosinya terjadi selama berada di ‘WA’, tempat ia dikarantina karena positif Covid-19.

Tentang ini, ada empat hal yang ingin kukatakan kepadamu.

Pertama, periode badai dan tekanan pada remaja.

Peningkatan emosional yang cepat pada remaja dikenal sebagai periode badai dan tekanan. Periode ini ditandai dengan perubahan fisik dan kondisi sosial seperti tuntutan untuk lebih mandiri dan bertanggung jawab. Ini adalah masalah umum remaja, yakni masa peralihan versus tak adanya keteladanan sosial.

Penekanan pada pembelajaran agama, moral, dan akhlak sebanyak apapun, baik di institusi pendidikan formal maupun non formal, jika tak disertai keteladanan sosial di lingkungan terdekatnya (sekolah, tetangga, peer group, keluarga, tokoh lokal bahkan nasional), hanya akan membuat seorang remaja terombang-ambing antara value yang diajarkan dengan fakta sosial (perilaku, kebiasaan).

Percuma jika pelajaran agama si Budi dapat 100 di sekolah, jika guru agama di kampungnya tukang cabul, orang terpandang di desanya tukang kawin, pelanggar hukum bisa damai di tempat dengan aparat, urusan birokrasi butuh uang pelicin, bahkan preman berjubah bebas main hakim sendiri.

Masa peralihan remaja terlihat negatif, bisa jadi bukan soal kurang bimbingan moral, malah mungkin faktor utamanya adalah absennya keteladanan sosial oleh orang dewasa di sekitarnya.

Kedua, pendekatan di sekolah yang tak holistik, tak selalu sejalan dengan fakta sosial.

Di sekolah, hidup dijelaskan sebagai gambaran yang normal, bahkan ideal. Namun begitu keluar dari ruang kelas, kamu mudah menemui anak kelaparan di seberang restoran mewah, ormas minta jatah upeti, dan setibamu di rumah, kamu menonton berita tentang anggota DPR RI yang berkata, “Korupsi adalah oli bagi pembangunan.”

Di luar ruang kelas, ada pegawai dinas pendidikan bermain proyek yang memberatkan orang tua siswa, ada kepala sekolah berlaku rasis dan pilih kasih, ada guru yang sibuk membenarkan pernyataan capres, “Korupsi tak seberapa itu tidak apa-apa.”

Ketiga, aku dulu pernah bekerja di lembaga pemerintahan yang pegawainya datang dari kementerian tempat Lima bekerja, lalu aku mengundurkan diri.

Begini, jatah transportasi kami adalah maskapai A, tapi pada praktiknya kami naik maskapai B, bahkan ada yang gunakan perjalanan darat. Sekembali ke Jakarta, semuanya dihitung, lalu selisih dibagi-bagi. Itu bukan praktik gelap di bawah meja. Itu adalah praktik sehari-hari yang biasa saja.

Aku pernah mencoba untuk tetap gunakan maskapai A. Yang terjadi, aku terpisah dari rombongan, lalu sampai di daerah, aku dijemput secara khusus, dan itu merepotkan pihak di daerah, juga ketika kembali ke Jakarta. Akupun jadi manusia aneh di antara semua orang.

Bahwa di dalam budaya korupsi, siapapun yang tidak korup, adalah duri dalam daging yang harus dicabut, kerikil dalam sepatu yang harus dibuang jauh.

Belum lagi soal rombongan yang pergi kunjungan dalam jumlah belasan, untuk aktivitas yang kurang dari sehari, dan yang sebenarnya bisa dikerjakan oleh 3-4 orang saja. Bagaimana laporan keuangannya? Aku tidak tahu, so far so good.

Aku merasakan apa yang Lima rasakan, aku juga tertekan, tapi aku sudah jauh lebih matang daripada Lima dalam menghadapi ini semua. Dus, aku mampu menyalurkan beban di pundakku dengan bercerita atau menuliskannya.

Keempat, semua orang butuh katarsis, pelampiasan istilah awamnya. Bentuknya macam-macam. Ada yang menceritakan beban pikirannya kepada sahabat, bermain musik, ada yang melampiaskannya dalam bentuk tulisan, juga ada yang melukis.

Kamu mungkin bisa menyalurkan beban pikiranmu lewat tiap gambar dan lukisan, tapi ingat, tak semua orang bisa punya saluran yang baik.

Karena itu, jika ada temanmu yang berbeban berat, tolonglah dia, dengan cara yang paling sederhana sekalipun, seperti memberi waktu dan telingamu untuk mendengar. Untuk bersimpati padanya. Itu sudah lebih dari cukup bagi orang-orang yang sedang tertekan.

Bisa jadi Lima tak punya saluran katarsis, ia dikenal sebagai sosok pendiam. Mungkin sudah cukup lama beban itu menumpuk di pundaknya, tanpa pernah tersalurkan.

Aku harus menceritakannya padamu tentang apa yang ia sedang alami. Agar kamu kelak siap menghadapi dunia, yang jauh dari bayangan masa mudamu. Bahwa hidup memang tak adil. Bahwa banyak orang menyerah pada nafsu dan serakah.

Kamu, tetaplah tegak, lurus berjalan, dengan semua yang dicontohkan Opa Oma selama hidup mereka.

Peluk ciumku untuk adik-adikmu.
Cerita untuk kakak Ames.

 

Moskow, 30 Januari 2021
Oleh: Joaquim Lede Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan