oleh

Sudah Selesai Dengan Diri Sendiri

-Cerita-408 views

Terima kasih. Danke. Obrigado. Gracias. Salamat po. Epang gawan. Ini yang harus saya sampaikan kepada semuanya. Setelah hari Senin kemarin saya mempublish niat dan tekad untuk menjadi bakal calon walikota Kupang 2024 – 2029, saya mendapat banyak dukungan, doa dan kritikan. Ada yang merespons melalui komentar di FB, ada yang mengirim pesan via WA atau WAG. Ada pula yang sampaikan uneg-uneg melalui messenger. Luar biasa. Saya menangkap semua itu sebagai aliran energi positif yang akan mendorong kuat energi baru untuk Kota Kupang.

Saya sudah mengkategorikan berbagai masukan dan catatan itu. Menarik. Saya berusaha untuk membahas itu satu demi satu di forum ‘baomong politik. Politik adalah ruang edukasi sekaligus edifikasi. Ia bukan ruang hampa. Politik bukan dosa dan dogma. Politik adalah spasi untuk membuat hidup lebih hidup, yah hidup bukan untuk diri sendiri tetapi agar yang lain hidup dalam kelimpahan (ut vitam habeant abundantius).

Ada yang bilang begini. Mau jadi pemimpin harus sudah selesai dengan dirinya sendiri. Pernyataan ini saya sering dengar di panggung kampanye dan dalam orasi-orasi politik. Saya bertanya, sejak kapan politisi itu selesai dengan dirinya sendiri? Sejak kapan pemimpin itu sudah selesai dengan dirinya sendiri? Saya pastikan, jika ada yang katakan semacam itu maka ada 2 kemungkinan: pertama, itu penipuan yang sangat telanjang. Kedua, itu semacam omong kosong atau joak atau wora.

Mengapa? Selagi kita hidup, kita tak pernah selesai dengan diri sendiri. Kita baru selesai kalau kita sudah tamat, sudah dead. Apakah karena orang punya banyak uang, banyak perusahaan, banyak aset tetek bengek, banyak emas – permata – berlian lalu mereka sudah selesai dengan dirinya sendiri? Tidak. Justru di saat seperti itu mereka bergejolak dengan dirinya sendiri bahkan bermasalah dengan dirinya yang berdampak terhadap orang lain. Selagi masih hidup, setiap insan itu punya keinginan, hasrat, kebutuhan aktualisasi diri. Karena hal-hal inilah maka orang tidak pernah selesai dengan dirinya. Ia hanya sedang di perjalanan. Belum sampai finish.

Kita buat pembuktian terbalik. Yang tukang korup di republik ini, apakah mereka tidak punya apa-apa? Mereka orang berpunya: duit, jabatan, kekuasaan, jaringan. Lalu mengapa korup? Karena mereka belum selesai dengan dirinya sendiri. Ada pemimpin yang saat kampanye bilang, pilih saya karena saya sudah selesai dengan diri sendiri. Sekarang saya hanya gunakan waktu untuk melayani rakyat, untuk mengabdi. Apa yang terjadi setelah berkuasa? Ada yabg jatuh dalam jebakan korupsi. Ada yang manfaatkan kuasa untuk bangun kerajaan bisnis. Ada yang kumpul uang dari permainan proyek. Ada yang jadikan kesempatan bangun dinasti politik dan bisnis. Lalu, apa maksud mereka bilang sudah selesai dengan dirinya sendiri? Itu semacam kebohongan yabg diamini kebanyakan orang.

Saya belum selesai dengan diri sendiri. Saya belum apa-apa. Tetapi saya bukan nothing karena bersama basodara sekalian, saya bisa melakukan something. Saya tidak punya emas dan perak. Apalagi perusahaan dan kerajaan bisnis. Tetapi saya punya energi baru untuk Kota Kupang. Bersama bapa, mama, saudara, saudariku sekalian kita maju bersama, dalam kekurangan, dalam keterbatasan agar Sang Empunya Kehidupan melengkapi, menambahkan dan menyelesaikan. Salve.

———-Nantikan baomong politik eps.2———-

 

Oleh: Isidorus Lilijawa / Mantan Anggota DPRD Kota Kupang dari Partai Gerindra

Komentar