oleh

Ujung Lorong Covid-19 itu Bernama Ruang Lazarus

-Cerita-383 views

Perasaan haru biru menerpa hati saya ketika swab antigen positif, sekaligus 4 orang di dalam rumah. Reaksi pertama adalah bingung. Harus lapor siapa, harus bagaimana. Akhirnya saya pergi ke puskesmas kecamatan, sesuai arahan FKTP. Ironisnya saya hanya bisa bertemu penjaga pintu yang membawa daftar. Dia bilang: “ibu tunggu saja di rumah. Ini nomor handphone Satgas Covid di RW 03, Utan Kayu Utara.” Tunggu punya tunggu, Satgas Covid RW 03 tidak memberi respons atas WA dan telepon.

Saya lapor pak RT, bagaimana cara kontak Satgas Covid. Lalu kata pak RT, “Baik oma saya lapor Puskesmas Kelurahan Utan Kayu Utara”. Namun karena tetap tidak ada kejelasan, maka saya PCR mandiri, saya paling bergejala, terutama batuk keras. Sedangkan anggota keluarga lain, OTG.
Karena gejala batuk mengganggu, Senin 12 Juli saya ke klinik ISPA di RS Sint Carolus dengan membawa hasil PCR, CT 22.

Datang jam 08.30 pagi di klinik, pasien sangat banyak, seperti pemandangan di Puskemas. Jam 11, baru dipanggil untuk bertemu dokter, lalu antre untuk pembayaran dan tunggu dipanggil di ruang ronsen dan lab periksa darah.

Rupanya hasil lab darah dan foto ronsen, baru keluar sore hari dan nilainya buruk. Gambaran paru menunjukkan bercak2 putih, SGOT SGPT tinggi dan CRP 280, padahal nilai normal <10, sehingga dokter memutuskan, ibu harus dirawat.
Terbayang dibenak saya, berapa puluh juta biaya rawat ini. Pada waktu cari kamar, suster menawarkan harga kelas Rp850 ribu, Rp1 juta,  Rp1,5 juta.

“Saya terdiam lalu bertanya, ada yang kelas 3?,” “Ada, Rp650 ribu,” jawabnya. Kemudian suster menawarkan, ibu mau ambil jalur jaminan pemerintah? “Saya bilang mau, tapi bimbang karena butuh waktu untuk dapat ijin Kemenkes, dan setelah dapat ijin, baru cari kamar”.

Saya berpikir berapa hari saya tunggu keputusan tersebut. Lalu dengan bodohnya saya bertanya, sementara tunggu ijin dari Kemenkes, apakah saya pulang dulu? “Oh, tidak, ibu disini saja,’ jawab Suster.

Saya gelisah, karena sudah ada 7-8 orang yang sedang antre kamar. Akhirnya perawat keluar dari ruangan dan memberikan berkas yang harus saya isi. Rupanya ijin Kemenkes sudah berbentuk aplikasi di komputer. Saya lega. Dalam berkas tersebut ada pernyataan tertulis bahwa saya setuju mengambil jaminan pemerintah sebagai sistem pembiayaan.

Akhirnya saya menjadi orang ke 9 dari 10 orang yang masuk ruang rawat, jam 21 malam itu. Semua bawaan saya serahkan kepada menantu saya yang tadinya mau menjemput untuk pulang, kecuali handphone dan charger. Saya pesan besok dibawakan pakaian, handuk, toileries, rosario dan buku brevir. Masuk ke unit Maria, hati saya makin kecut, suasana sunyi, remang-remang, serasa masuk lorong gelap, tanpa cahaya, lorong Covid-19.

Akhirnya saya menyerah, pasrah, tanpa daya tenaga, perawat menggandeng saya masuk kamar 7.

Jadilah padaku seturut kehendakMu ya Tuhan. KehendakMu selalu yang terbaik bagiku.

Dalam kondisi stress, lapar, dan pakaian tidak ganti sejak tadi pagi, dengan persediaan air tinggal setengah botol, saya berbaring mencoba tidur.

Tidur terganggu, karena sesama pasien di kamar ini berteriak-teriak ngoceh sepanjang malam. Esok paginya saya baru tahu, rupanya seorang oma sangat lansia 98 tahun, tidak ada penunggu, karena tidak boleh ada penunggu di unit Maria-Fransiskus, zona paling merah di RS.

Jam 5 pagi mulailah perawat kontrol rutin, saturasi oksigen, tensi, suhu tubuh dan tanya-tanya keluhan. Kemudian saya berdoa dari e-katolik, lalu ikut misa dan membangun niat untuk tetap semangat.

Karena kiriman perlengkapan belum tiba, saya putuskan makan pagi dulu, menu aneh: telur rebus, bubur sumsum, susu. Apapun makanan harus disikat habis bermodal semangat, semangat untuk mengalahkan Covid-19.

Semangat membuat saya punya keinginan untuk mengatur logika. Saya perlu makan bergizi, perlu makan obat, perlu olah raga, sangat perlu berkomunikasi intensif dengan Tuhan.

Jam 10, video call dengan dr Galuh, internist yang dinas pekan itu. Beliau mengatakan dalam beberapa hari, fungsi-fungsi tubuh dinormalkan dulu. Setelah itu baru diberi antivirus.

Jam 11, keperluan saya sudah diantar dari rumah. Segera saya mandi, ganti pakaian bersih. Jam 12, kontrol siang, suster yang wajahnya dan tubuhnya tertutup APD, baju hazmat, menyapa: wah ibu sudah mandi, sudah segar.

Setelah doa Angelus dan rosario dengan ujud doa Bapa Uskup untuk nusa bangsa, saya makan siang. Perjuangan berat. Makanan harus habis, meski rasanya tidak jelas. Saya makan dengan pikiran, bukan dengan rasa atau selera. Begitu juga ketika menelan 6-7 kapsul/tablet.

Mulai hari ini, ada dua doa otomatis yang lancar: Yesus Raja Kerahiman Ilahi, aku berserah kepadaMu, Engkaulah andalanku dan Yesus datanglah, berjuanglah bersamaku melawan Covid dan menang,
Doa ini selalu saya ucapkan, setiap kali ditusuk untuk pasang pangkalan suntik, atau disuntik vit C yang pedih luar biasa, atau bahkan omeprazol bisa sangat pedih, jika pembuluh darah inlet, sudah rapuh. Atau bahkan ketika putus asa menghabiskan jatah makan.

Malam ke 3, pangkalan suntik di tangan kanan sudah tidak beres, tangan bengkak besar. Panggil suster sulit sekali, karena memang kekurangan tenaga perawat. Hari itu ada 80 dokter, perawat, petugas lab dan karyawan Carolus yang sedang terpapar.

Sebagian isoman, sebagian dirawat, seperti Suster Intan, teman sekamar, perawat bedah yang sedang hamil 6 bulan. Suster Intan selalu menolong saya ketika bermasalah dengan infus, misalnya infus habis, atau tidak lancar.

Malam itu perawat membuat pangkalan suntik baru, ditangan kiri. Ini lebih pedih, apalagi suster bilang, pembuluhnya tipis sekali. Setelah terpasang, infus antibiotik dilanjutkan. Saya tetap gelisah dengan tangan kanan yang bengkak.

Rutinitas di RS bergulir, kontrol pagi siang dan sore, obat suntik pagi dan sore, infus sore, dan makan pagi siang sore beserta obat oral. Misa pagi, brevir, rosario sambil berjemur, latihan olah napas, jalan jalan di teras dan doorloop, demikian seterusnya. Semua saya lakukan dengan semangat dan dukungan doa dari teman-teman, kerabat, keluarga.

Suatu pagi selagi berjemur di taman, sepintas saya mendengar pembicaraan seorang keluarga pasien dengan perawat di unit Fransiskus, tentang hal-hal yang diperlukan untuk pemakaman. Segera saya beranjak sambil bergidik. Saya masuk kamar dan berdoa untuk pasien yang baru menghadap Sang Khalik.

Hari ke empat siang, saya diberi loading dose antivirus 2 x 8 tablet. Tabletnya besar-besar. Regimen antivirus dimulai, untuk 5 hari ke depan. Infus AB tetap jalan, begitu juga dengan obat lain.

Hari kelima, Suster Intan boleh pulang, lanjut isoman di rumah. Ketika Suster Intan pulang, saya minta agar diberi obat oral saja, kebetulan pangkalan suntik ini sudah sakit sekali ketika menyuntikkan dexametason. Puji Tuhan, permintaan obat oral diperbolehkan. Hari Minggu, kedua tangan saya bebas, tapi masih sakit dan bengkak.

Siang itu saya duduk di teras, menunggu waktu doa koronka. Tiba-tiba di seberang taman, di unit Fransiskus, dua perawat mendorong peti jenazah, saya terkesiap dan kecut, tapi ingin tahu dibawa kemana peti itu. Rupanya berbelok ke kiri, masuk lorong di seberang taman, persis berseberangan dengan pintu kamar 7.

Cepat-cepat saya masuk kamar sambil gemetar, lalu doa koronka sambil berbaring di tempat tidur. Huh….ngerinya. sudah 2 orang pasien meninggal di unit Fransiskus. Memang menurut perawat, unit tersebut diperuntukkan bagi pasien derajat sedang dan berat. Sedang unit Maria untuk pasien derajat ringan

Saya berbisik perlahan: Tuhan, aku mau pulang ke rumah lewat unit Maria. Jangan sampai masuk unit Fransiskus. Datanglah Yesus, berjuanglah bersamaku melawan Covid dan menang.

Tanpa pangkalan suntik di tangan, saya lebih bebas membantu 2 oma teman sekamar, ibu Anna, 83 tajun yang sulit bergerak, minta disuapi makan dan minum obat. Sering juga minta untuk charge hpnya, atau minta hubungi perawat, jika dia panik karena infus copot, minta ganti pempers, dam seterusnya. Bu Anna memang agak demanding. Sebaliknya Tante Ping, 98 tahun, (tdk mau dipanggil oma, maunya dipanggil tante Ping) orangnya tidak peduli. Ngoceh teriak-teriak sesuka hati. Sesekali saya juga bantu tante Ping minum jus, air hangat atau suapin makan. Tante Ping lebih banyak dibantu suster.

Karena kekurangan tenaga perawat maka untuk urusan membantu pasien bedridden memang jadi agak terlantar. Saya senang bisa menolong oma-oma ini sebisa saya, disamping untuk mengurangi rasa bosan dan stres.

Senin tanggal 19, pagi pagi sekali dr. Cindy, internist yang dinas pekan ini, visite. Dr. Cindy mengganti obat darting dari captopril menjadi irbesartan. Dr. Cyndi membawa angin segar: ibu cek darah ya dan foto lagi. Jika hasilnya bagus, saya lepas. Ibu bisa lanjut isoman di rumah

Pujilah Tuhan… sebab Dia baik, kekal abadi kasih setiaNya. Kemudian saya khusuk mengucap syukur kepada Tuhan atas anugerah kesembuhan ini. Mendoakan semua teman kerabat keluarga yang sudah memberi dukungan doa, bahkan kiriman buah, makanan untuk yang isoman di rumah, juga USP team, yang mengirim bunga indah ke kamar 7. Semua itu membuat saya tetap konsisten mempertahankan semangat. Tanggal 20 Juli Hari Raya Idul Adha, tidak ada aktivitas khusus, karena hari libur.

Malam harinya perawat mengambil swab nasofaring untuk PCR. Esok pagi pagi, mereka ambil darah dari lengan kanan dan kiri. Jam 10 pagi, perawat mengajak saya menuju ruang ronsen, di seberang taman.

Hati saya was-was, dan berharap hasil pemeriksaan ini baik adanya. Namun sampai makan siang selesai dan menyuapi oma Anna juga sudah selesai, belum ada kabar hospital discharge.

Kontrol sore hari jam 16, saya sudah tidak diperiksa lagi. Kemudian perawat memberi saya berkas, hasil lab, foto ronsen dan setumpuk obat untuk dibawa pulang. Tidak ada biaya sepeserpun yang harus saya bayar, semua ditanggung pemerintah. Terima kasih pak Presiden. Terimakasih pak Menkes.

Saya senang. Dengan cepat saya memasukkan semua barang ke dalam tas besar, tas kecil dan 1 tas berkas RS. “Ibu telepon ke rumah supaya dijemput di ruang Lazarus”, kata perawat. Saya bingung dimana itu? Setelah menelepon ke rumah minta jemput, perawat membantu saya membawa tas dan mengantar saya keluar.

Lho…kok bukan lewat jalan masuk unit Maria? “Kesini bu”, kata perawat. Saya terkesiap, perawat itu mendahului saya lewat lorong tempat keluar peti jenazah waktu itu.

Kemudian dia membuka pintu dan saya sudah berada di luar. Saya membaca papan nama di atas: Ruang Lazarus. Perawat sudah masuk lagi ke dalam. Saya terpana seperti Lazarus yang dipanggil Yesus keluar dari lorong Covid, berjalan kaki dengan menyeret 3 tas.

Masih terpana, saya seperti mendengar suara sejuk dan ramah: Hai Nani, selamat ya…. Bagaimana perasaanmu?
Ohh…Tuhan…

Terima kasih dan syukur atas pengalaman ini. Syukur atas keputusan isoman di rumah. Syukur akan pengalaman merasa sangat dekat denganMu selama berada di lorong Covid Terima kasih ya Allah Tritunggal Maha Kudus

Pujilah Tuhan sebab Dia baik, kekal abadi kasih setiaNya.

Kemudian saya tersadar dan kembali menyeret 3 tas menuju satpam klinik ispa menunggu jemputan
Puji Tuhan…

 

Oleh: Nani Bl.de Rozari

Komentar

Jangan Lewatkan