oleh

Hidup Ini Singkat

-Cerpen-287 views

(Vita Est Brevis)

‘Barangkali jika merindukanmu adalah dosa maka aku tak ingin bertobat’. Sahut Pelaut Ulung sembari memperhatikan mereka yang memandikan tubuh dengan air mata yang sudah menjadi mata air. Riuh tangisan bergemuruh hingga baju yang dikenakan dicuci tanpa ampun. “Kenapa tangismu terus  bergelora bu, bukankah kemarin sudah kemarau panjang buat kita,” sahut pelaut ulung yang sudah sejak kemarin menjejakan kakinya diberbagai tempat. “Gembala buah hatiku diterkam serigala yang katanya sudah bertobat menerkam manusia,” suara minor separuh serak bercampur tangis penghias wajah perempuan itu.

Barangkali benar kata penyair ulung Fredy Sebho yang suka bercumbu dengan kata-kata. “Berkabung atas kematian barangkali boleh dibilang sebuah letupan perasaan yang paradoksal: Di satu sisi membutuhkan keiklasan untuk menerima bahwa kekurangan yang paling ultim dalam hidup adalah kematian. Dan di sisi lain adalah kesetiaan untuk mengenang orang yang telah pergi itu meskipun tanpa berharap akan kembali lagi. Untuk itu, berkabung bukanlah sesuatu yang harus tergesa-gesa dituntaskan. Berkabung adalah momen untuk merayakan waktu dan kenangan yang telah tiada. Untuk itu, yang paling dibutuhkan dalam berkabung adalah kesediaan untuk menerima sebuah kehilangan”. Barangkali-barangkali benar!!!

Riuh tangisan dari sanak saudara  dan kerabat bergema di atas peti mati yang sebentar lagi akan berlabuh di ruang gelap. Kegelapan peti dan gelapnya makam menjadi desis yang membisukan kata untuk tidak berkata-kata lagi tentang kata itu sendiri. Barangkali inilah hening yang paling bening untuk kita manusia. “Dari mana kamu tahu bahwa serigala itu akan bertobat,” pinta si pelaut ulung yang hari-hari hanya bergelut dengan sampan penyambung guna napas hidup. Air mata terus membanjiri bumi tanpa kenal lelah untuk berlabuh. “Kemarin ia menjelma dalam rupa yang lain lalu memuntahkan kata padaku bahwa ia tidak lagi makan maupun menerkam manusia, ia ingin bertobat oleh riuh suara yang beseru-seru di padang gurun. Luruskanlah hatimu lalu kembalilh padaku,” pintanya sambil terseduk. Maklum, barangkali di padang gurun semua aura nafsu atau kerakusan akan dipersempit oleh panas terik yang tak kunjung redup sedikitpun. Barangkali ini gila, tapi kegilaan yang paling gila baru kutemukan disini. Serigala masih punya perasaan untuk bertobat dari pada makluk berakal budi itu. “Tapi kenapa dia masih menerkam manusia bahkan hanya mulut yang tak hendak dilumatnya hingga abis,” gumam pelaut ulung penuh keheranan.

Air mata tak pernah pamit sedikitpun. Sambil menarik isak dan lepaskan tangis, ibu itu berkata “Rupanya ia sudah bertobat, namun ketika mendekat manusia, tak diciumnya bau kekristenan dalam diri manusia. Hanya bibir mungil yang ia lepas sebab ia mengagumi kata-kata unik dan berwarna yang keluar dari bibir pelepas bisa”. Syukurlah, barangkali pada bibir itu masih ada nada syahdu atau barangkali ia masih mendengar syair-syair suci berdesis di bibir yang lupa untuk melaksanakannya. Ini bukan ilusi kan! Tapi sesingkat itu semua harus terjadi. “Biarlah aku berlayar, barangkali esok masih ada cerita baru untuk dunia seberang,” gumam pelaut ulung sembari beranjak memulangkan sampan pada senja.

***

“Selamat datang sahabat, aku mengasihimu lebih dari diriku sendiri. Aku terus menunggumu menjemputku tinggal bersamamu,” gumam CINTA sahabat karib pelaut ulung. “Gimana kawan mungkin ada barang baru yang engkau bawa dari pulau seberang,” pinta si KAYA sambil menimbang-nimbang emas sebagai kado birokrasi dari pengemis tua. Sambil menunduk lesu, si SEDIH tak memuntah sebocah katapun untuk sahabatnya yang baru berlayar. Barangkali masih mendalam duka yang dicium dari pulau seberang. “Wow, selamat datang sahabat, aku tampak indah ngga hari ini,” guman si CANTIK yang hari-harinya bergelut dengan berbagai jenis kosmetik untuk mempercantik diri supaya laku lekuk tubuhnya.

Tanpa memuntahkan sebongkah kata, ia duduk sambil menikmati binar senja yang hampir usai di telan waktu. Gelagap napas bertalu tanpa henti. Barangkali terlalu dini ia menikmatinya sampai tak sempat mengungkapkan nada syahdu untuk warna-warni gaya yang dilakoni oleh teman-temannya. Terhempas dalam tafakur, mulai ia luapkan kata-kata bertalu dari serumpun ceramah hingga segumpal marah pada teman-temannya.

‘siapa kalian jika hanya menunggu aku kembali untuk sekian kalinya’

‘namun, tak pernah kalian hadir bersamaku untuk dia, mereka yang riuk tertikam kata penjelma bahagia’

‘jangan egois, saat kujejaki kaki di barat kutemukan orang-orang tak bertuhan namun membenci hantu. Tapi, saat tapak kakiku menginjak dunia timur aku salut oleh gaya hidup yang bertuhan juga berhantu dari orang-orangnya. Mungkin itulah kehebatan penyihir yang mampu menyihir manusia untuk menjelma dua tuan’.

‘apakah kalian paham kawan?’

“nyawa menjadi yuran harian untuk para jadu berkepala baja’

‘tapi aku tak lelah menjelajah. Menghitung-hitung angka yang tak terbilang untuk tubuh tubuh yang terkampal di setiap sudut kampung, dengan darah jadi santapan penjilat raga’

‘tapi aku tidak marah sama kamu. Sebab ini hanya cerita kala itu waktu kita masih belia. Mungkin besok waktu sudah paham’.

Semua sudah selesai jadi jangan bikin pusing dengan semua itu, tiap hari kita masih mendengar berita yang sama untuk mereka yang mampu mengubah rupa menjadi tikus-tikus berdasi, kupu-kupu belang entah siang dan malam. “Maaf teman-teman, aku hanya pelaut ulung yang hari-hari hanya mengais rejeki dengan menjelajah dunia untuk membeli ikan-ikan asin itu. Barangkali itu kado yang harus kusampaikan dari negeri seberang”. Semua tegang tanpa suara atau brisik yang menghiasi gubuk dingin. Tegang lalu hening dalam kebisingan kata yang tak mampu terucapkan. Barangkali kata butuh beristirahat di saat kata tak mampu lagi untuk berkata-kata tentang kata itu sendiri. Semua membisu lalu dalam hitungan menit keheningan dipecahkan oleh canda tawa yang lahir tiba-tiba. “Hahahaha, teman, kami pikir engkau mimpi sore-sore. Datang lalu berorasi dengan riang. Dari pada engkau bermimpi terus, lebih baik mari berpesta kawan,” kata Si Kaya sambil mengeluarkan makanan yang enak dari peti mati tempat ia menyimpan rahasia pemuas jiwa. Dengan raut wajah lesu tampa binar, hati yang menyetujui untuk ikut menikmaati sajian rahasia dari Si Kaya, Pelaut Ulung memoles wajahnya sedemikian rupa agar pilu yang Ia rasakan tak tampak di depan kawan-kawannya. Menikmati makanan tanpa ada daya tarik itu ibarat memaksa Unta masuk di dalam lubang jarum. Begitulah analoginya. Tapi, ia tetap membuat teman-temannya bahagia tanpa ingin menyinggung perasaan mereka. Patah pinggang mengikuti arah mata angin lalu lupa jalan pulang mereka lakukan tanpa henti. “Pesta lagi, kita kaya, kita adalah yang ternama dari segala nama” kata Si Kaya tanpa syarat. Barangkali kata memang manis untuk diucapkan tanpa memikirkan imbasnya. Segala desis musik dari Rok, Dj, hingga Dansa Kiyomba bertalu mengiasi gubuk makanan ngengat tempat  segala keletihan diobati.

***

Malam kini semakin larut. Irama musik masih terus berdesis menggetardebarkan isi pulau dengan kerasnya. Lelah namun masih tetap menikmati. Maklum, tidak goyang mati, goyang juga mati, lebih baik goyang sampai mati. Begitulah arus pendek yang suka terlintas dalam benak makluk yang katanya berakal budi dan beraklak mulia. Namun,  semua seakan sirna dalam sekejab. Maklum alam berupa badai dengan kekuatan penuh, mengguncang isi pulau dengan kerasnya. tanpa ampun. Sebab ampun juga butuh waktu untuk berhenti bergerak. Tak kenal kawan atau ikatan pertalian apapun, semua lari berhamburan. Paning dan pening mulai terpintal di kepala Cinta dan Pelaut Ulung. “CANTIK,,, tolong kami berdua, jangan biarkan kami sendiri”. pinta Pelaut Ulung dengan penuh geram karena teman-temannya pergi tanpa membekas jejak untuk segera menolong mereka. “Maaf kawan, tubuh kalian kotor jadi aku tidak ingin keindahanku luntur. Kalian bisa cari perahu lain,” tutur Si Cantik yang telah berlayar meninggalkan CINTA dan Pelaut Ulung. Barangkali inilah gambaran relasi isi bola bumi ini. Air laut semakin naik hingga melewati leher. Mendesak dan debar hati yang tinggi, cinta berteriak kepada SEDIH yang duduk lesu di atas perahu menunggu angin datang membawa perahunya pergi. “SEDIH, tolong bantu kami, kami hampir tenggelam”. Teriak Cinta penuh ketakutan. Barangkali dalam situasi sulit segala akal sehat akan berada di bawah telapak kaki. Tak bekerja. “Maaf kawan, aku lagi pingin sendiri. kalian cari perahu lain saja,” jawab SEDIH dengan tanpa mempedulikan kawan-kawannya. Dari kejauhan, si Kaya dengan perahu mewah meluncur dengan bebas tanpa menorah kata atau membiarkan hati untuk berkata tolong bantu mereka. Maklum, itulah ciri khas  dari sahabat mereka itu. Air laut lalu melewati bibir pelaut ulung dan cinta. Tak ada lagi kata-kata yang dapat mereka berikan atau teriak untuk memperoleh keselamatan. Pasrah. Barangkali masih ada sisa kebaikan di hati teman-teman mereka untuk datang menolong. Tapi itu hanya kesia-siaan. Semua pergi dengan egoisitas sebagai penghias keselamatan mereka.

Di tengah kekalutan hati yang sudah lapuk menanti genggaman rahmat bantuan, tiba-tiba meluncur sebuah perahu dengan binar putih penghias isi dalamnya. Rambut putih tanpa suara, segera ia menarik Cinta dan Pelaut Ulung ke atas perahu dan meluncur tanpa syarat. Tanpa sebongkah kata segera ia meluncur kembali usai mengantar pelaut ulung dan cinta ke seberang pulau. “Kawan, kenapa kamu mau mengikuti aku walaupun engkau mempunyai perahu yang indah,” tanya Cinta kepada Pelaut Ulung sahabat sejatinya itu. “Aku ingin hidup bersamamu Cinta, karena dengan kamu aku kuat. Aku ingin memulai hidupku dengan nada dasar yang selalu terlukis namamu yaitu ‘C’ (Cinta),” sahut pelaut ulung sambil memeluk sahabatnya. “Terus siapa yang menolong kita berdua tadi kawan?” tanya Cinta pada pelaut ulung. “Dia adalah sahabatku Waktu yang menemaniku setiapku berlayar. Dia yang mengajarkan aku apa artinya mengenalmu dan mengenal siapa aku sesungguhnya,” kata si pelaut ulung sembari berlayar bersama sahabatnya Cinta. “Terima kasih Waktu berangkali aku ingin engkau mengajarkan aku banyak hal lagi. Sebab kepastian adalah sebuah ilusi bagi dunia zaman ini,” tutur pelaut ulung sambil terus berlayar hingga fajar merekah di ujung pulau.

 

Oleh: Alexander Wande Wegha

Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero, Maumere, Flores 

Komentar

Jangan Lewatkan