oleh

Ada Cinta di Kue Bolu

-Cerpen-360 views

Siang pukul 12.30. Matahari membakar kota Soe. Di ruang kelas, ibu Matoneng memberi instruksi terakhir sekaligus pesan mengenai praktik membuat kue bolu.

“Ingat e, Anak-anak. Pekan depan, Selasa sore, setiap kelompok melakukan praktik bikin kue bolu sesuai resep yang saya berikan. Besoknya dibawa ke sekolah pada jam pelajaran PKK. Nanti saya menilai pekerjaan setiap kelompok.”

Kelas PKK selesai. Semua bubar. Tiap kelompok mulai mengatur rencana. Sambil berjalan pulang ke rumah, kelompok Ita, Tilu, Evi, Ana, Atang, Prim berembuk berbagi tanggung jawab. Selasa sore semua bertemu di rumah Ita, pukul 15.00 petang. Ita menyiapkan semua perkakas kue, sedangkan bahan dibeli dari uang yang dikumpulkan bersama. Tak lupa pula uang untuk minyak tanah.

Selasa petang, kelima teman bergerak dari rumah masing-masing menuju rumah Ita. Semua peralatan dan bahan telah siap. Ita menjadi koordinator. Bakat kepemimpinannya kelihatan. Ita, Evi, Ana mengerjakan tugas meramu bahan. Tilu, Atang dan Prim membantu yang perlu sesuai pekerjaan anak laki-laki. Suasana santai. Sambil bekerja, mereka berseloroh sana sini, tertawa gembira. Tilu yang unyu unyu selalu menjadi sasaran olokan. Ita tetap waspada mengontrol semua proses agar berjalan dengan baik.

“Ana, awas jangan tanganga. Tilu jangan hanya main gila. Fokus, te jangan sampe hasilnya buruk.”

“Prim, coba kontrol minyak komfor supaya sebentar kita jangan kewalahan. Pastikan supaya nanti nyalanya tetap stabil. Tilu, tolong pi buang sampah di belakang rumah. Ada lubang sampah di sebelah kanan belakang.”

“Musti ada anak laki-laki yang dopok telur dan mentega dulu. Siapa bisa bantu?” tanya Ana.

“Mari beta dopok, ” jawab Atang.
Selang beberapa waktu kemudian, semua siap untuk dimasukkan ke oven.
“Adonan su pas ko, Evi?” tanya Ita.
“Sudah. Beta rasa sudah pas sesuai resep. Dari awal ketong su ikut persis na.”

Mereka berproses dalam kerja tim tanpa disadari. Semua berjalan baik sampai hasil akhir. Ita melihat kue bolu hasil karya mereka dengan wajah berseri. Ternyata bagus hasilnya. Semua puas.

“Lihat, teman-teman, ini karya kita.” Ita memandang semuanya satu persatu. Sampai di Atang, ia tersenyum lebar. Wajahnya bersemu merah. Tak ada yang menyadarinya. Atang sendiri ikut tersenyum lantaran merasa bangga bisa menghasilkan kue bolu seperti itu. Di rumah, ia biasa melihat kakak perempuannya membuat kue bolu. Tapi kali ini beda, karena ia sendiri terlibat langsung dalam proses sampai selesai. Ada rasa bangga.

Kebanggaan itu berpadu dengan kebanggaan teman lainnya. Matanya memandang ke arah Ana. Gadis itu masih fokus pada kue, dan dengan teliti memeriksa seluruh bagian. Senyumnya tetap merekah.

* * *

Hari Rabu. Mata pelajaran pertama dan kedua dilalui dengan tidak sabar. Ingin rasanya jam pelajaran PKK segera tiba. Lonceng tanda selesainya istirahat kedua telah berbunyi. Semua telah siap di kelas. Ibu Matoneng masuk ke kelas sambil tersenyum. Di depan kelas telah berjejer enam meja. Di setiap meja telah tersusun rapi hasil karya tiap kelompok. Ditata dengan bunga dan aksesoris lainnya. Hasil kreativitas setiap kelompok.

Guru PKK itu memandang penuh sukacita karya kreatif para siswanya.
“Selamat siang, Anak-anak.”
“Selamat siang, Ibu.”

“Terima kasih karena sudah bekerja dengan baik. Saya akan memeriksa dan memberikan penilaian.”

Dengan teliti guru PKK itu memeriksa dari meja ke meja. Ia mencocokkan setiap jenis kue dengan resep di tangan dan nama kelompok. Matanya jeli menemukan kekurangan dan kelebihan setiap karya. Penilaian selesai. Ia mencatat nilai di buku catatan.

“Luar biasa, Anak-anak. Saya senang sekali melihat hasil karya kalian. Kalian semua lulus dengan nilai 90.” Tepuk tangan meriah terdengar. Ada yang bersuit-suit.

“Kue ini tidak sekedar kue biasa. Kue ini membicarakan banyak hal. Yaitu kerjasama, kekompakan, komunikasi, koordinasi, kreativitas. Kue ini pun tanda sukacita, cinta dan persaudaraan. Nilai-nilai itulah yang telah kamu alami dalam proses pembuatan kue ini.” Terdengar lagi tepuk tangan membahana, juga suit-suitan dan yel-yel.

“Sekarang, kita potong kue ini dan makan bersama. Oya, jangan lupa bagian untuk bapak Kepala Sekolah, para guru dan pegawai. Silakan, tiap kelompok bisa atur sesuai kreativitasnya.”

Ita dan Evi maju ke meja kelompoknya. Ana ikut membantu memegang piring kue. Tilu, Prim dan Atang menonton dengan cermat, sambil menahan air liur. Sesekali mereka menelan ludah. Tak sabar menerima bagiannya untuk dimakan. Begitu pula kelompok lainnya. Kelihatan yang laki-laki sudah tidak sabar.

“Cepat sudah. Kita su lapar ni.” Ada suara yang mendesak dari belakang. Ita mendengarnya. Itu suara Atang. Suara yang mendebarkan hatinya. Tapi ia menyimpan rasa itu di dalam kue bolu ini. Ada cinta di kue bolu. Sementara Atang sibuk berbicara, sambil matanya menatap Ana. Sesekali Ana membereskan poni rambutnya. Gerakannya gemulai, membuat Atang makin terpesona.

Akhirnya selesai pemotongan kue. Sebuah delegasi diutus ke ruang kepala sekolah, ruang guru dan sekretariat. Sementara yang lain segera mendapat giliran makan kue bersama.

Tilu si unyu unyu mencomot sepotong kue berukuran besar. Rupanya disediakan Ita untuk Atang, tetapi Tilu duluan ambil. Ita cemberut tapi tidak dipedulikan Tilu. Semua makan dengan sukacita.

Ibu Matoneng menikmati secuil dari setiap jenis kue. Ia memandang para siswanya dengan mata berseri. Setidak-tidaknya ia telah membentuk mereka untuk belajar kerjasama, komunikasi, koordinasi, kekompakan, persahabatan, bahkan persaudaraan. Nilai-nilai inilah yang penting dalam pendidikan karakter.

“Ternyata, ada cinta di kue bolu ini.” Pendidik itu membatin dengan hati penuh syukur. Alangkah indahnya hidup ini, bila ada cinta di setiap karya.

Tamat

 

Oleh: Prim Nakfatu

Komentar

Jangan Lewatkan