oleh

Aku dan Perempuan Bermata Biru dalam Kereta

-Cerpen-330 views

Sore itu aku sudah ingin sekali bergegas pergi. Beberapa kali telah kutekan tombol daya gawai dalam genggamanku. Hanya untuk memastikan bahwa jam yang kulihat segera menunjuk pukul 16.00. Namun akhirnya beberapa kali aku harus kecewa. Terakhir kuperiksa, jam masih menunjukkan pukul 14.10.

Mall memang selalu ramai dihari Sabtu dan Minggu. Semakin banyak pengunjung, semakin para pelaku bisnis retail merasa bahagia. Aku tahu persis tentang hal tersebut. Setahun terakhir bekerja di mall tersebut membuatku tahu bagaimana rasanya

Minggu sore itu aku menunggu kedatangan rekan kerjaku. Aku harap hari ini dia datang tepat waktu seperti biasa. Sebenarnya aku tidak perlu khawatir dia terlambat. Karena dia adalah salah satu orang yang konsisten dengan ketepatan waktu. Namun tetap saja aku menunggunya dengan cemas.

Semakin sore kegiatan dalam mall tersebut tidak semakin surut malah sebaliknya. Hal yang sungguh wajar memang. Para pegawai restoran terlihat sangat sibuk melayani tamu maupun para pengemudi ojek online yang sedang menanti pesanan pelanggannya. Aku kembali mengarahkan pandanganku ke layar gawaiku. Sudah pukul 15.45, beberapa menit lagi kerja paruh waktuku akan berakhir.

Setelah mengambil ransel dan hoodie abu-abu favoritku satu-satunya. Satu-satunya dan favorit. Tidak berselang lama rekan kerjaku tiba. Semua beres pikirku. Aku kemudian pamit pulang dan mengakiri kerja paruh waktuku pukul 16.05.

Jadwal kereta saat ini lumayan bisa diandalkan. Aku sebenarnya tidak terlalu tergesa-gesa mengingat jadwal keberangkatan keretaku nanti masih pukul 18.11. Ada waktu sekitar dua jam termasuk perjalan tiga puluh menit dari mall menuju stasiun kereta

***

“Turun di sini saja om.” Aku meminta pengemudi ojek online  untuk menurunkanku di toko mini serba ada yang tepat berdiri disamping kiri stasiun.

“Oke, terima kasih om.” setelah turun dari motor, tujuanku selanjutnya adalah membeli kopi. Rasa kantuk mulai menyerangku. Deretan chiller dalam toko menjadi tujuanku berikutnya untuk mencari sebotol kopi. Kuambil satu botol kopi karamel yang ditata rapi di dalam chiller lalu membayarnya di kasir.

Aku berjalan santai menuju ruang tunggu stasiun. Setidaknya satu botol kopi karamel tersebut akan mampu menahan kantukku sekitar satu setengah jam di ruang tunggu pemberangkatan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.40. Suara pengumuman nama dan tujuan kereta yang akan datang juga sudah kudengar. Kereta yang ditunggu olehku dan penumpang lainnya pun tak lama lagi akan segera tiba.

Tujuan akhir kereta yang akan kutumpangi ini adalah Malang.  Orang-orang ramai menunggu kereta tersebut dengan berbagai barang bawaan masing-masing. Mungkin juga mereka membawa rindu yang cukup berat dan menunggu untuk dilepaskan.

***

Aku pastikan kembali nomor gerbong dan tempat dudukku lewat aplikasi gawaiku. Hal yang biasa aku lakukan ketika sudah menemukan tempat dudukku adalah melepas ransel, duduk, memeluknya lalu memejamkan mata. Sebenarnya pikiranku masih terjaga. Menurutku hal tesebut cukup mampu membuatku nyaman.

Satu stasiun sudah dilewati. Keadaan dalam gerbong juga tampak ramai. Sesaat aku membuka mata dan tak berselang lama ada penumpang perempuan lengkap dengan masker berdiri disamping kiriku. Dia lalu memastikan bahwa nomor kursinya tidak keliru. Aku sadar dan bergeser membiarkan perempuan tersebut duduk.

Perempuan itu lalu mengambil tempat duduk tepat disamping kiriku kemudian aku sadar dia hendak menaruh tas dibagasi atas. Entah secara kebetulan saja aku berdiri hampir bersamaan dengan tas ransel kecil warna biru lautnya yang tergelincir tak mampu mencapai dasar bagasi. Langgsung saja tanpa permisi pula aku raih ujung atas ransel kecilnya dan meletakkannya secara aman.

“Maaf, Terima kasih nana.” Semoga telingaku tidak salah dengar. Aku dengar ia mengucapkan terima kasih. Aku hanya mengangguk dan meneruskan posisi nyamanku seperti biasa. Keretapun berlanjut menuju pemberhentian berikutnya.

Malam itu aku duduk diantara perempuan-perempuan dengan berbagai latar belakang. Ada dua perempuan yang sudah cukup berumur mungkin sekitar paruh baya. Dilihat dari percakapan keduanya, sepertinya mereka berprofesi sebagai bidan.

Pembicaraannya berisi tentang senam lansia serta cara bagaimana senam tersebut diterapkan. Soalnya ditempat tinggalku, para bidanlah yang sering mengajak lansia untuk senam.

Sejak awal tidak ada sesuatu yang cukup menarik untuk membuatku terjada. Namun beberapa saat lalu ada sosok yang menarik perhatianku. Perempuan yang duduk samping kiriku inilah yang kumaksudkan.

Pandanganku sesekali mengarah padanya. Tampilannya yang fashionable bagiku lumayan menyegarkan bila dibandingkan orang-orang yang duduk disekitarku. Itu pendapat pribadiku.

Dia memakai topi warna donker memakai kaos hijau tosca serta celana kain warna hitam bermotif garis bergelombang warna putih. Gaya pakaiannya lumayan berselera juga. Mungkin cuma hal itu yang menarik, pikirku.

Kereta yang membawaku ini adalah jenis layanan kereta termurah alias kelas ekonomi. Tampilan perempuan tersebut akhirnya membuatku sedikit curiga. Topi dan maskernya seperti ingin menutupi jati dirinya. Mungkin dia artis. Tapi artis macam apa yang mau naik kereta kelas ekonomi?.

Masih berbicara soal perempuan berkaos hijau tosca ini. Wajahnya belum sempat terlihat olehku. Yang jelas terlihat selain topi dan masker adalah rambut panjang terurai hingga melewati bahunya. Beberapa helai diantaranya tergerai kedepan. Terbersit dalam benakku bahwa dia seakan sengaja menyamarkan penampilannya. Aku masih menaruh curiga bahwa dia adalah seorang artis.

***

“Stasiun Jombang, persiapan stasiun Jombang” pak petugas kereta telah memberikan pengumuman. Suara pemberitahuan dari dalam kereta tersebut membuatku membuka mata.

Sekilas tampak bangunan mall dan keramaian disekitarnya terlihat dari jendela kereta. Kota yang pernah menjadi tempatku mengabdi dalam rangkaian kegiatan KKN ini masih saja terlihat seakan tak berubah. Pemandangan tersebut menjauh meninggalkanku dan yang kulihat kini adalah bangunan kokoh bertuliskan stasiun Jombang.

“Ah masih sampai Jombang. Masih jauh.” batinku. Stasiun yang kutunggu memang masih jauh. Namun sepertinya rasa kantukku sudah perlahan menghilang.

“Bu, turun dimana?” aku menyapa kedua ibu-ibu yang kusangka bidan tadi. Sekedar sapaan ringan khas sesama penumpang kereta.

“Surabaya” sahut ibu-ibu yang duduk disamping kananku.

“Gresik” jawab ibu-ibu yang duduk di depanku.

“Eh, Gresik” jawabannya kali ini benar.

“Masnya dari mana?” giliran aku yang harus menjawab pertanyaan ibu-ibu di depanku.

“Dari Sepanjang Bu.” Jawabku.

“Kerja atau Kuliah?” lanjutnya.

“Sudah kerja.” Jawabku singkat.

Keretapun melanjutkan perjalanannya kembali. Saat pandanganku berupaya berkeliling memeriksa sekitar. Aku tidak sengaja melihat layar gawai perempuan berkaos hijau tosca disampingku ini. Sekilas aku melihat wajahnya menjadi wallpaper. Dia tampak manis tersenyum tanpa topi dan masker tentunya. Cukup narsis juga pikirku.

***

Menunggu memang menjemukan. Hingga pada akhirnya orang-orang menemukan cara mereka masing-masing untuk menikmatinya. Bermain game salah satu contohnya. Perempuan disampingku ini ternyata juga salah satunya. Permainan yang memiliki singkatan populer ML inilah yang tidak sengaja tertangkap mataku dimainkan olehnya.

Sepertinya aku mulai tertarik pesonanya. Maksudku, dengan ketidak stabilan sinyal di kereta terkadang sulit untuk memainkan sebuah game online. Perempuan, misterius, bisa main game adalah kombinasi yang menarik.

“Stasiun Gresik, persiapan stasiun Gree..siik.” Pak Petugas kereta memberi pengumuman. Saat kereta berhenti di stasiun Kertosono, aku berganti posisi tempat duduk. Kedua ibu tadi juga sudah turun. Aku lantas duduk di bangku depanku yang telah kosong dan sengaja untuk mengambil posisi dekat jendela.

Hampir secara bersamaan kulihat perempuan yang duduk disampingku tadi kini bergeser duduk dekat jendela. Kini aku bisa melihat dengan jelas perempuan tersebut tepat dihadapanku. Sedikit mengejutkan, tapi aku berhasil menyembunyikan rasa terkejutku itu.

Memperhatikan seseorang diam-diam itu adalah hal yang tidak sopan. Aku pun juga berpikir demikian. Untuk mengalihkan perhatianku tentang perempuan tadi, aku mengambil headset hitamku dan segera memulai bersiap memutar musik.

Kereta berhenti di stasiun Gresik  cukup lama karena harus menukar posisi kepala kereta. Aku sudah sibuk mendengarkan musik yang kuputar. Di tengah fokusku telah mengalir lancar dalam musik yang kudengar tiba-tiba entah sejak kapan masker yang menutupi wajahnya telah dia lepas.

Setelah tidak sengaja melihat wajahnya tanpa masker itu, aku langsung membuang pandanganku kearah jendela demi menutupi ekspresi anehku. Dia cantik.

“Jadi teringat sesuatu, sorot matanya sekilas mirip salah satu teman kuliahku. Tapi bisa kupastikan, yang kulihat saat ini begitu mempesona”

Selepas itu aku memutuskan untuk menunggunya memperlihatkan wajah dengan jelas tanpa topi dan masker. Masalahnya, dia akan turun di stasiun mana? Kalau ternyata dia turun di stasiun tepat setelah Gresik? Apa aku bisa ikhlas?. Ya ampun aku sampai tidak sadar bahwa musik yang kudengar telah berhenti.

Banyak hal yang menarik dalam setiap perjalanan. Dari mulai cerita tentang pengalaman hidup, cita-cita masa depan hingga harapan-harapan untuk melepas rindu selepas merantau jauh mungkin?.

Tapi sepertinya sulit untuk percaya seseorang akan jatuh cinta dengan orang asing yang baru dia temui. Dalam gerbong kereta pula? Aku tidak bisa membayangkan cara jatuh cinta sekilat itu. Jatuh cinta bagiku tidak semudah sepeti memasak mi instan.

***

Stasiun demi stasiun telah dilalui. Perempuan berkaos hijau tosca ini pun tidak kunjung bersiap untuk turun. Aku malah fokus pada bagian depan kaosnya yang sepertinya memuat tulisan cukup menarik. Sialnya ada satu kata yang tidak bisa kulihat dengan jelas karena tertutup rambutnya.

“…..al women is whoever she want to be” kata-kata yang kubaca dibagian depan kaosnya. Otaku berputar untuk mencari kata yang cocok. Namun sepertinya belum berhasil kutemukan. Tiba-tiba alam bawah sadarku seakan berkata dengan nada menggoda padaku.

“Cie… headsetnya sama nih. Cuma beda warna. Dia putih, kamu hitam.” Aku memperhatikan headset yang saat ini dia kenakan. Memang cukup mirip. Untuk memastikan secara sempurna, aku harus mengetahui ujungnya yang saat ini masih tergantung dikedua telinganya. Tapi itu tidak mungkin bukan?

Kediri, Ngadiluwih, Kras, dan Tulungagung sudah berlalu. Hal yang kuputuskan untuk kutunggu lebih dari stasiun yang kutuju pun tidak kunjung terjadi. Satu-satunya yang bisa kuingat hanyalah wajahnya yang tersenyum denga rambut diikat dua lengkap dengan poni. Tersenyum manis di walpaper gawainya tadi.

Semenjak dari stasiun Gresik kurasa, dia masih mencoba untuk tidur dengan berbantal jaket jeansnya. Tinggal satu stasiun lagi aku akan turun. Kenapa pesonanya seolah membuatku secara diam-diam memperhatikannya dari tadi?

Mau berkenalan? Sudah telambat. Sejak kapan aku berani mengajak bicara seorang perempuan apalagi untuk berkenalan?. Aku mulai gelisah melihatnya tidur sedari tadi. Khawatir kalau ternyata dia telah melewatkan stasiun tujuannya. Akhirnya saat kereta berhenti di stasiun Sumbergempol, aku memberanikan diri membangunkannya.

“Enu, turun di mana?” ujung gawaiku menyentuh kakinya, untungnya berhasil.

“Stasiun Blitar” jawabnya setelah membuka masker. Mendengar jawabannya malah membuatku merasa bersalah telah membangunkannya.

“Oh terakhir, ya sudah aman.” Untunglah, jawabanku terasa normal.

“Nana turun mana?” tanyanya balik padaku.

“Malang” jawabku singkat dan normal tentu saja.

Kereta sudah melaju kembali. Kulihat dia kembali mengenakan masker namun matanya belum memejam lagi. Beberapa saat kemudian, suara pemberitahuan terdengar.

“Persiapan, stasiun Blitar. Cek kembali barang bawaan anda, jangan sampai tertinggal ataupun tertukar dengan penumpang lain. Persiapan, stasiun Blitar.” sepertinya perasaanku tertinggal di hati penumpang lain pak.

Entah karena tahu aku akan pamit untuk pergi setelah kami berdua sama-sama mendengar pengumuman bahwa sesaat lagi kereta akan berhenti di stasiun Malang. Atau memang gara-gara aku yang membangunkannya sehingga dia tidak dapat tidur kembali.

“Duluan enu.” Sambil sedikit membungkukkan badan tanda hormat yang biasa kulakukan.

“Iya nana.” Jawabnya. Aku lalu berjalan menuju pintu kereta. Sejatinya inilah yang aku tunggu dari awal. Tujuan selanjutnya adalah rumah.

“Special women is whoever she want to be” Sepertinya aku menemukan kata yang cocok. Semoga waktu mengizinkanku bertemu dengannya sekali lagi. Sampai jumpa.

 

Oleh: Lalik Kongkar

Komentar

Jangan Lewatkan