oleh

Aku Kembali Belajar Rindu

-Cerpen-98 views

Kepada embun yang bertengger di ujung daun

Kepada mimpi-mimpi yang membadai
Seolah-olah dirampok para penyamun
Juga kepada kata-kata yang tiba-tiba dingin ditelan kabut halimun

Kepada jalan setiap pagi yang tubuhnya disesaki anak-anak sekolah

Orang-orang yang berangkat ke pasar, ke kantor, ke pabrik, ke tempat yang bisa menyangkutkan mimpi

Aku kembali belajar rindu kepada sajak-sajak

Yang dirangkai kata-kata tak berjarak

Yang selama ini dibuat jurang di antara kelompok

Juga kepada tubuh-tubuh yang menjadi puisi, saat senja akan menjauh, dan malam yang akan luruh

Juga, tentu kepada dirimu
Aku kembali belajar untuk rindu

Di Sudut Kedai Andara Kafe Kumenanti Kabarmu

Masih di tempat yang sama beberapa malam yang lalu. Kedai kopi Andara menjadi tempat yang nyaman beberapa hari ini. Masih di kursi yang sama, tepat di sudut ruangan. Musik yang berisik namun asyik didengar dan suara beriik kendaraan tepat di depan kedai itu.

Aku masih menanti kabar darimu, kau yang hilang sepekan terakhir bersama rindumu. Ungkapan rindu telah kau dengarkan namun hilang perjuangan menggapai rindu. Ada apa denganmu? Ketika kau memisahkan rindu dan cinta. Ada apa dengan sikapmu? Diam dan dan menanti kehendak Tuhan tanpa perjuangan yang nyata.

Aku di sini menanti kabar darimu, suara-suaraku tak kau hiraukan hingga rindu ini mulai jenuh. Dua kursi kosong menanti kedatanganmu, bersama kopi yang telah siap disajikan. Ada tegukan yang nikmat di bibir gelas ketika menatapmu. Suara ramah dan tertawa pelan masih kurindu. Di sini, sudut kedai kopi menjelang malam.

Untaian Rindu

Lembayung senja telah tampak
Kerumunan burung pun telah terlihat
Mereka bernyanyi dan berirama bersama
Matahari pun akan diambil alih posisinya dengan sang waktu

Bagaimana dengan rindu ini?
Belum ada yang mengambil alih
Ia masih saja berkekeh untuk tetap tinggal di sisipan kehidupan
Sebenarnya aku sudah memberontak!

Seraya hati ingin mengusirnya untuk segera pergi dari sini.

Tapi nyatanya ia enggan untuk pergi.
Bahkan ia memilih untuk sementara tinggal di relung hati ini
Ah, aku bisa apa

Sedangkan untaian rindu yang hadir masih saja tetap ingin tinggal di sini

Kini…
Sayup-sayup ingin terus mengibatkan embusan perembusan

Semillir angin akan terus kurasakan
Terima kasih, rindu, kau selalu hadir dalam catatanku

Apakah Kita?

Apakah aku hanya menduga-duga?
Atau kita sesungguhnya memang
Tengah berbicara lewat semiotika?

Saling berucap rindu tanpa harus berkata-kata

Sebab kita tahu rasa itu selalu ada di sana, di relung dada

Andai saja aku dapat hadir di sana
Saat padamu gundah gulana mendera
Tapi apa daya kita terpisahkan oleh realitas

Bahwa kita telah berada dalam himpunan yang berbeda.

 

Oleh: Lalik Kongkar

 

Artikel ini telah dipublish di nalarpolitik.com

Komentar