oleh

Awal Cerita

-Cerpen-1 Dilihat

Ini adalah tentang aku dan cerita-cerita lama yang sudah terpendam –mungkin juga tentang cerita baru yang ingin berlabuh. Ini juga tentang bagaimana aku mulai jatuh cinta dengan benar –kurasa begitu. Ini tentang ceritaku yang tak menemukan tempatnya untuk berlabuh (lagi). Sebab, kata hilang adalah satu kata yang cukup untuk mendeskripsikan banyak hal tentang ini semua. Tentang aku, tentang kamu, tentang cerita kita. Awalnya aku tak ingin menulis ini, sebab tadinya cerita ini punya tempat berlabuh. Kamu. Ya, kamu adalah bagian terbesar dari ini semua. Jadi, bisakah aku berbagi lewat cerita singkat ini?

Aku ingin mengawali saat dimana kita memulai perkenalan pertama. Bagiku itu adalah satu hal yang paling tak ingin kulewatkan. Sebab, itu adalah awal dari cerita besar kita. Perkenalan kita cukup sederhana, bagian terpenting ketika sapaan dariku kau jawab dengan hangat. Cukup untuk meyakinkanku bahwa ini adalah awal yang baik. Sapaanku kita sambung dengan banyak obrolan ringan, namun tetap hangat dan menyenangkan. Kau baik. Dugaanku saat itu.

Aku bersyukur kita berkesempatan untuk saling mengenal lebih jauh. Aku mengenalmu sebagai orang yang periang. Kau orang yang tepat untuk diajak berbicara banyak hal. Kau selalu bisa menghidupkan obrolan ketika aku sudah tak tau ingin berbicara apa padamu. Kau selalu punya ribuan cerita, kau selalu punya cara agar obrolan kita tetap hidup. Seperti pada saat dimana kau hanya sekedar menyebut namaku, aku sudah bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya.

Banyak cerita darimu yang akan mengisi ruang obrolan HP ku. Sesederhana itu. Aku tak tau mengapa, kita begitu mudahnya sangat akrab. Kau tau banyak tentangku, yang tentu saja tidak diketahui oleh banyak orang. Begitupun sebaliknya, aku tau banyak tentangmu, yang membuat pandanganku padamu berbeda dengan cara orang menilai, melihat, dan memperlakukanmu. Dengan mengalirnya banyak cerita, dengan berlanjutnya banyak obrolan, singkatnya, kita sangat mudah untuk bisa saling percaya. Hampir tak ada batas untuk cerita yang kita bagi –tentu ini semua sebatas kita berdua. Semua mengalir begitu saja.

Dari banyak hal yang sudah kita bagi, untuk sedih dan tawa yang kita lalui, dan kepercayaan yang sudah sama-sama kita beri, ada satu hal penting yang membuat itu semua kurang lengkap. Pertemuan. Ya, setelah perkenalan kita di media sosial beberapa waktu lalu, kita hanya saling berbagi lewat pesan singkat dan juga mengobrol lewat telepon genggam. Pertemuan adalah satu hal yang sangat kunantikan. Apakah kau pun demikian? Jika ya, aku senang sekali. Sebab, aku penasaran bagaimana kamu berbagi cerita tidak dengan cara mengetik, aku ingin melihat bagaimana ekspresimu ketika bibirmu berucap hal yang ingin kau bagi, aku ingin melihat bagaimana kamu ketika tertawa, tidak hanya tertawa lewat chat saja. Aku ingin melihat bagaimana kamu merangkai cerita-ceritamu. Aku ingin tau semuanya. Secara langsung dan nyata. Singkatnya, kita bertemu. Dugaanku tidak salah, kau memang berbeda. Aku suka ketika kau berbagi dengan wajah yang ceria itu, tanpa beban kau tertawa. Aku suka caramu merangkai cerita, mimik wajahmu lucu ketika berpikir. Obrolan kita terus berlanjut –tentu kau adalah dalangnya.

Sejak saat itu, tanpa sadar, tanpa aba-aba sesuatu menggelitik hatiku. Pada caramu tersenyum, caramu tertawa, caramu berbagi cerita, caramu menghiburku. Aku menyukai semuanya. Tentangmu, padamu, aku jatuh cinta. Tentu semuanya hanya kusampaikan lewat tulisan ini saja. Sebab kau sendiri tau, kan? Kalau aku tidak mahir dalam menyampaikan sesuatu secara langsung, apalagi soal perasaan seperti ini. Aku memang pemalu.

Kurasa cukup. Bagiku, ini adalah cerita awal yang tidak terlalu buruk, meski perpisahan menjadi akhirnya. Ini adalah satu dari sekian banyak yang ingin kusampaikan padamu. Terimakasih sudah pernah singgah, terimakasih juga sudah pernah menghibur, untuk banyak cerita yang sudah kita bagi, terimakasih sudah pernah percaya. Jika nanti kau rindu tentang ceritaku, datanglah, aku masih disini. Tak ada yang berubah, semua sama seperti kau mengenalku dulu. Namun, jika kesibukan telalu mengekangmu, aku sudah menyiapkan beberapa tulisan untuk sajianmu ketika istirahat. Bacalah, itu akan membuatku sangat senang. Sekali lagi, terimakasih. Tetaplah sehat, tetap bahagia. Aku sayang padamu.

 

Oleh: Burju

 

Cerpen ini telah dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Komentar

Jangan Lewatkan