oleh

Ayahku Pastor, Ibuku Suster

-Cerpen-14.667 views

Hari ini atau besok atau lusa. Atau menunggu 10 tahun lagi. Saya harus bicara. Entah kenapa, ayah saya seorang pastor dan ibu saya seorang suster.

Hampir puluhan tahun kami tak bertemu. Saya sama sekali tidak tahu rupa orang tua saya. Saya anak yang terlampau kesepian. Terlantar di luar rumah. Terberkati di depan altar.

Saya anak yatim piatu? Saya bertanya dalam hati saat duduk sendiri di tepi dermaga. Memandang lepas pantai. Di kejauhan perahu diayunkan ombak yang damai. Laut teduh. Saya ambil secarik kertas lalu menulis puisi ini.

Aku di Mana?

Aku memungut angin
Di daun kering

Tiada menemukan apa
Tak pula jumpa siapa

Aku di mana?
Malam hari diterbangkan badai

Pagi hari di tepi dermaga
Kapal telah jauh

Aku di mana?

Sesudah menulis saya tiba-tiba merindukan mereka. Andaikan ayah di sini pasti ia bercerita tentang laut. Ayah saya dari keluarga nelayan. Ia hidup dari laut dan mungkin juga mati di laut. Ibu akan membelai kepalaku sambil curhat tentang masa lalu ketika keluarga tak merestui cinta mereka.

Saya menerawang. Menggapai awan. Menemukan diri sebagai anak manusia yang kesepian. Jauh dari jangkauan tangan kasih dunia. Saya ditinggalkan begitu saja di rumah orang tua ibu saya. Di bawah asuhan mereka saya bertumbuh sebagai anak yang memiliki kesepiannya sendiri. Namun kemudian saya menemukan rumah di gereja dan di biara.

Saya akui dengan susah payah oma dan opa mengasuh dan membimbing saya. Bahkan mereka bersedia menyekolahkan saya. Kebetulan kakek seorang pensiunan guru jadi bisa membiayai saya sekolah sampai di SMA.

Saya ingat waktu kelas enam SD. Guru agama bercerita tentang pastor dan suster. Katanya pastor tidak menikah. Begitu juga suster. Mereka hidup untuk melayani Tuhan dan demi Kerajaan Allah mereka menyerahkan diri secara total untuk Tuhan.

Waktu itu saya mulai membayangkan kalau pastor dan suster memiliki kesepiannya sendiri. Seperti saya hidup tanpa orang tua, mereka juga hidup tanpa pendamping hidup. Kami sama-sama di jalan nasib yang ganjil dan pelik. Lahir dari rahim seorang ibu tapi dibilang anak haram. Pastor dan suster memiliki erotika tapi tidak menikah. Tidak kawin? Pastor tidak punya istri. Suster tak punya suami. Kami sama-sama orang tak punya.

Nasib ini saya pikul pada setiap jejak langkah. Di sekolah saya dihina karena tidak memiliki ayah dan ibu yang jelas. Teman-teman menjauh. Bahkan ada guru yang bersikap sinis terhadap saya. Ternyata dunia memiliki sinisme yang kuat. Ada pula eufemisme dan peyorasi.

“Salam buat bapamu,” kata guru wali. “Dia seorang pekerja keras.”

“Kamu pasti punya keluarga yang baik,” seorang teman berbicara.

“Dasar anak yatim!” yang lain mengejek.

Saya tak tahu siapa ayah saya. Kenapa dia titipkan salam. Bagaimana saya harus menyampaikannya. Ayah saya juga bukan seorang pekerja keras. Ia mungkin penganggur yang telanjur adiktif pada alkohol dan rokok. Ibu saya mungkin hamil waktu masih di bangku sekolah. Tentu keluarga saya bukan keluarga yang harmonis.

Ya, saya seorang anak yatim. Kamu masih mengejeknya. Betapa batin saya disayat-sayat oleh lidah sesama yang kadang menjadi belati melukai lubuk hati. Namun saya tetap di jalan puisi. Memilih tempat sepi di sudut sekolah. Membaca puisi seorang diri. Chairil Anwar meneguhkan,

Biar peluru menembus kulitku.
Aku tetap meradang menerjang…
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari…
Hingga hilang pedih peri,,,
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi…

Kata-kata puisi adalah hati yang bicara. Hati saya disentuh secara mendalam oleh bahasa hati penyair. Membaca puisi berarti membiarkan hati disentuh, dibasuh, dibersihkan menjadi hati yang terbuka bagi hidup. Noda kemelut jiwa saya bisa dihapus dengan puisi. Puisi memberi pelajaran berharga tentang citra rasa kemanusian dan imajinasi kreatif. Puisi memiliki teritori interior, lubuk hati. Biar mata saya bicara dalam rintik tangis, hati saya tetap tegar pada setiap baris puisi.

Saya tidak pernah lupa. Pada leleh pertama setiap lilin yang saya bakar selalu saya nyalakan juga bisik hatiku, “Tuhan berikanlah aku rezeki puisi pada sunyi hari-hariku, agar tidak lapar dan sendiri.”

Kesendirian di sudut sekolah ditemani buku-buku puisi memberikan saya bekal rohani untuk memantapkan suasana hati. Namun saya tetap butuh bekal material, kasih dan perhatian dari orang tua. Ini mutlak. Saya terpaksa menemukan kehadiran mereka dalam pribadi oma dan opa. Apalagi di rumah saya hanya bersama mereka berdua.

Saya memeluk mereka merasakan hangatnya kasih sayang. Namun tetap ada yang tidak lengkap. Hati seorang anak tetap membutuhkan hati orang tuanya.

Saya melewati hari hidup dalam pencarian akan rumah di mana saya menemukan orang tua saya. Setiap kali saya bertanya oma dan opa di mana bapa dan mama, mereka hanya menjawab mereka merantau ketika engkau masih sangat fajar, usia 2 tahun. Terus saya tanyakan, tetapi keduanya seolah menyembunyikan kebenaran tentang ayah ibu saya.

Ternyata orang tua yang saya anggap arif masih tetap berbohong. Malu membuka aib keluarga sendiri. Hidup pada mulanya dibayang-bayangi oleh rasa takut, curiga, malu, dan merasa diri paling baik. Saya memang tak punya rumah.

Hari Minggu. Senja berkabut mampir di bubungan atap katedral. Lonceng gereja berbunyi. Begitu sendu. Suara dari melodrama agama. Saya bingung. Hari-hari di masa silam gereja ini begitu damai. Bahkan ia menjadi rumah bagi semua. Kini ia menjadi panggung tragedi.

Saya memberanikan diri masuk. Membuat tanda salib. Tepat di pintu itu saya rasakan udara yang pengap, bau alkohol, juga aroma-aroma tubuh perempuan yang terlantar karena dijarah oleh nafsu. Saya juga melihat uang berhamburan di lantai. Tak ada lilin di altar. Kacau. Tiba-tiba saya ingat bagian terakhir dari puisi Khotbah W. S. Rendra.

Cha-cha-cha.
Mereka maju menggasak mimbar.
Cha-cha-cha.
Mereka seret padri itu dari mimbar.
Cha-cha-cha.
Mereka robek-robek jubahnya.
Cha-cha-cha.
Seorang perempuan gemuk mencium mulutnya yang bagus.
Seorang perempuan tua menjilati dadanya yang bersih.
Dan gadis-gadis menarik kedua kakinya.
Cha-cha-cha.
Begitulah perempuan-perempuan itu memperkosanya beramai-ramai.
Cha-cha-cha.
Lalu tubuhnya dicincang.
Semua orang makan dagingnya. Cha-cha-cha.
Dengan persatuan yang kuat mereka berpesta.
Mereka minum darahnya.
Mereka hisap sungsum tulangnya.
Sempurna habis ia dimakan.
Tak ada lagi yang sisa.
Fantastis.

Saya sadar bahwa komunio adalah kolektivitas buas segerombolan serigala. Umat beriman membangun kekuatan destruktif membunuh pelayannya sendiri.

Namun dalam pemikiran Nietzsche komunio itu merupakan suatu perbondongan (Herde) yang lemah karena diperbudak oleh moral universal. Bisa jadi kata fantastis dari Rendra menegaskan suatu antitesis bahwa kelompok manusia yang dipimpin juga memiliki kehendak untuk berkuasa (Will zur Macht) dan sanggup mengalahkan pemimpinnya.

Saya berada di dalam ruang dan waktu penuh kontradiksi. Rumah Tuhan dijadikan gudang dosa. Waktu berdoa menjadi waktu untuk menyebarkan kebohongan dan amarah. Saya berjuang beberapa langkah untuk bisa menempati bangku paling belakang. Memandang ke depan altar. Begitu lengang. Tak ada apa-apa lagi. Saya duduk merenung. Lalu saya sampai pada suatu kenangan.

Di tempat ini saya pernah didampingi oleh seorang pastor dan suster. Saya ingat sabda mereka. Anak, jadilah dirimu sendiri. Mereka mendampingi saya bertahun-tahun selama masa studi. Bahkan mereka mengongkos sekolah saya di pergurun tinggi. Mereka telah menjadi orang tua saya. Dari mereka saya menemukan rumah di gereja dan di biara. Dekat mereka saya merasa tidak asing karena saya sudah mendengar tentang mereka saat masih di kelas 6 SD.

Malam telah turun. Saya meninggalkan gereja katedral. Saya tak punya rumah lagi. Saya terus ke dermaga. Di tengah jalan saya membuka Hp. Ada dua pesan.

“Anak, selamat ulang tahun,” pesan dari ayah. “Saya mendoakanmu di altar kudus ini.”

“Nak, selamat ya,” pesan ibu. “Kamu ulang tahun. Selamat ultah. Panjang sabar dan penuh kasih setia. Saya doakan kamu selalu di depan tabernakel.”

Setelah sekian tahun baru kali ini mereka memberi pesan. Itu pun karena saya ulang tahun. Mereka tidak lagi bertemu saya secara langsung. Mereka lupa kalau saya membutuhkan mereka setelah saya tahu saya tak punya orang tua kandung. Saya sangat rindu kehadiran ayah saya seorang pastor dan ibu saya seorang suster.

Di tepi dermaga. Rumah tapal batas. Saya adalah anak yang hilang yang tak pernah kembali. Kehilangan rumah. Kehilangan gereja. Namun tetap merasa memiliki puisi. Puisi adalah hati yang berbicara. Maka saya menulis isi hatiku di tepi dermaga.

Tuhan, kapal kami dihempas badai
Labuhkanlah jangkar-Mu agar gelisah kami reda.

 

Oleh: Edy Soge / Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, dan anggota Kelompok Menulis di Koran Ledalero (KMKL)

 

Sumber: nalarpolitik.com

Komentar

Jangan Lewatkan