oleh

Bait Rindu untuk Aprilia

-Cerpen-193 views

Sayangku, Aprilia, aku tidak cukup kuat lagi dengan hidup. Lingkungan telah berhasil mendepakku dengan sangat lembut.

Suatu masa dengan jangkauan dalam sekejap mata, ada ide yang hanyut, ada canda yang terusik, dan ada rasa yang terabaikan. Di tengah kerumunan warna, saat mata terlelap, gelap yang tak lagi sunyi, terang yang tak lagi suci, kicau burung hanya dering buatan yang tak lagi terdengar merdu.

Malam tak lagi sejuk, sayang. Logam-logam genggam dengan berbagai macam kilauannya telah mengisi kekosongan hidup setiap manusia. Mimpi saat lelap bukan lagi tanda yang bermakna untuk ditafsirkan.

Sadarku hanyut. Kadang napasku sesak seakan tertimbun debu. Aku abai dengan orang di sekelilingku. Tidak ada tanggapan untuk pertanyaan dari suara lisan. Mereka malas bicara kecuali untuk mengolok-olok, sayang; malas mengulurkan tangan meski orang di sampingnya tersendat-sendat karena minta pertolongan.

Mentari yang dulu kita puja sebagai anugerah, kini dicerca karena sengatannya membuat manusia seperti tersengat lebah.

Hari-hariku dulu bersamamu sangat indah. Hari-hari di mana bibirmu masih kukecup dengan lembut dan pinggangmu masih kupeluk dengan erat.

Tapi sekarang, sayang, saat katup mataku terbuka setiap pagi, aku melihat dunia yang selalu berubah dari hari ke hari. Orang-orang telah sibuk dengan percakapan-percakapan kecil, menari dengan nada dan melodi yang bagiku terdengar bising. Daun-daun kering yang dulu beraroma menenangkan telah disapu bersih dan diganti dengan kulit-kulit keras dari belerang yang tak lagi tercium sengat.

Bumi kini sangat bersih, sayang. Bahkan aku tidak lagi dapat mencium aroma cumi bakar yang dibungkus dengan daun pisang.

Aku ingin bercerita sekaligus mengenang tiap helai rambut yang membuatku jatuh cinta padamu. Dunia ini makin maju. Kulit manusia saat ini terlihat tak berkerut sama sekali. Tulang pun terasa tak rapuh lagi meski dengan umur yang cukup tua. Setiap bulan ada layanan khusus untuk itu dan menjamin soal fisik akan terlihat sempurna sampai ajal menjemput. Bahkan dalam kuburan, fisik manusia diklaim akan abadi, sayang.

Di tengah hari yang menyengat, aku membayangkan rambutmu akan selalu utuh, dengan rona merah bibirmu bagai senja. Bagaimana jadinya jika itu nyata? Namun itu khayali. Sebab kau sudah pergi karena kecerobohanku.

Maaf, sayang. Aku tidak bisa menjagamu tetap cantik seperti orang-orang sekarang.

Sungguh, sayang. Dunia dengan kacanggihannya telah membentuk tatanan baru. Pejabat dengan kursi panasnya, pengusaha dengan perusahaannya, pekerja dengan alat-alatnya, dan rakyat dengan fasilitas yang mewah dari negara, mereka tidak akan bicara jika bukan karena diri mereka sendiri.

Harmoni hidup? Jangan pernah tanyakan itu, sayang. Namun, bagi mereka yang masih memegang teguh prinsip dan filosofi kesederhanaan demi merawat alam, hanya bertugas mengumpulkan tumpukan jutaan sampah plastik kemudian diserahkan ke perusahaan untuk didaur ulang. Tidak ada yang peduli dengan minoritas, sayang. Bagi negara dan rakyat pada umumnya, yang menerima fasilitas canggih dari negara, mereka, minoritas, hanya setara dengan tumpukan jutaan sampah plastik yang akan didaur ulang itu.

Dulu, saat walang kerik beradu lirik dengan gelombang angin di malam yang hening, sekarang entah suaranya ke mana. Daun-daun telah gugur, membawa pergi kenangan. Hingga yang tertinggal hanyalah angan.

Kini, dunia serba memakai kode, sayang. Tumpukan kata dalam kode yang terselip tiap sudut pemberitahuan di atas layar jutaan warna dengan narasi berbeda-beda, entah membawa pesan dari siapa dan untuk apa. Tapi yang jelas, jutaan manusia sangat senang menanggapi kode-kode itu dengan tumpukan narasi yang tak begitu baik untuk dilihat oleh mata orang bermoral.

Mereka yang terabaikan makin terasing dan luput dari bahasa kode surat-surat kabar yang ada. Mereka tidak lagi adu mulut seperti aku dan kamu saat bersama dulu, sayang. Aku kadang cemburu saat menyaksikan bulan merekah, cahayanya menelanjangi kegelapan.

Sayang, satu hal yang penting saat ini yang aku pikirkan dan barangkali ke depannya, pikiran manusia hanya nomad. Berpindah karena semburan tema-tema dari dunia yang terbuka. Dikontrol untuk percaya bahwa hari esok akan lebih baik dengan jaminan material yang lebih banyak. Pikiran tiap individu tak lagi punya bentuk, sayang.

Sayang, sebelum aku menulis curahan hati ini, air mataku berlinang deras di atas kuburanmu. Tetesannya yang hangat barangkali terserap sampai ke tulangmu di bawah nisanmu. Aku jenis manusia yang lemah tanpa tuntunanmu. Manusia yang cengeng tanpa suaramu. Manusia yang buta tanpa sinar matamu dengan alis tebal yang memesona itu.

Tiap hari dengan penyesalan saat ingatanku harus kembali ke masa-masa yang sangat suram. Apakah di bawah sana engkau memaafkanku?

Semua orang menganggapku bodoh karena sering membasahi kuburanmu dengan air mata. Kadang kalimat tersebut membuatku sadar. Jarak mata kita tak begitu jauh dengan bantuan kristal kecil berwana kemerah-unguan jika saja aku pasang di balik papan lahadmu sebelum engkau dikuburkan.

Aku bukan tidak mau melakukan itu. Hanya saja, apakah aku akan bahagia melihat matamu yang tidak lagi bisa dibuka itu? Dan dapatkah aku dikatakan manusia jika mencela keyakinan yang kupegang?

Ya, sayang. Hanya aku satu-satunya manusia yang masih mengunjungi gundukan tanah merah milikmu selama 22 tahun terakhir. Yang lain sudah serba dekat meski jaraknya sangat jauh.

Sayangku, Aprilia, aku tidak cukup kuat lagi dengan hidup. Lingkungan telah berhasil mendepakku dengan sangat lembut. Aku tidak pernah mau memilih pilihan yang disajikan oleh orang lain, apalagi dari mereka yang berusaha mengontrol pikiranku. Memilih hidup berarti memilih menyediakan pilihan bagi diri sendiri.

Aku tak ingat lagi alasan untuk hidup selain karenamu. Pun saat aku menemukannya setelah kau pergi, itu tidak cukup meyakinkan aku untuk tetap hidup.

Sayang, jika engkau sedang bersama Tuhan, sampaikan salamku pada-Nya, siapa tahu Dia akan segera merindukanku juga.

 

 

Oleh: Anas Kurniawan

 

 

Sumber: nalarpolitik.com

Komentar

Jangan Lewatkan