oleh

Benci Jadi Cinta

-Cerpen-276 views

Aku lalu bergegas pulang dari Cafe itu. Cafe Rainbow Day. Aku menemui mama yang sedang duduk santai bersama papa di taman depan rumah. Mereka lalu menyuruhku untuk berganti pakaian dulu sebelum membicarakan sesuatu yang katanya penting bersamaku.

Setelah berganti pakaian, aku mengambil minuman hangat yaitu 3 gelas cokelat panas untuk menemani pembicaraan kami.

Ternyata hal yang ingin mereka bicarakan adalah tentang PERJODOHAN. Ya, kalian tidak salah baca, PERJODOHAN. Refleks, aku langsung menyeburkan cokelat panas yang baru kuseruput itu.

“Apa? Perjodohan? Bagaimana mungkin Ma, Pa?,” tanyaku terheran.

“Ya, itu harus Sa. Kau akan dijodohkan dengan anak sahabat mama dan papa, mereka telah banyak berjasa untuk kita,” jawab Papa.

“Tapi kenapa harus aku?” tanyaku lagi.
“Sudah kau tak perlu banyak bertanya nak, pergilah dan istirahatlah. 5 jam lagi kita akan berangkat, ya sekitar jam 19.00 ya sayang,” pinta Mama.

Aku lalu berjalan lesu menuju kamarku yang ada di lantai atas. Langsung kurebahkan tubuhku di spring bed kesayanganku seraya mengambil ponsel. Satu tujuanku, ingin menceritakan semua ini pada Kania. Aku langsung membuka WhatsApp ku mencari namanya lalu memulai chattingan dengan Kania.

Setelah menceritakan semuanya, Kania berkata “Kamu harus mengenal siapa orang yang akan dijodohkan denganmu, barulah aku bisa beri tanggapan Sal,” kata Kania.

“Iya Kan, doain aku ya?” Pintaku.
“Sudah tentu,” jawabnya.

Aku lalu menyimpan ponselku dan memejamkan mataku sebentar untuk merasakan istirahat siang.

2 jam kemudian aku bangun dari tidurku. Tak ada niat untuk pergi ke acara perjodohan itu namun apa daya aku harus menuruti perkataan orangtuaku. Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul 17.00. Tersisa 1 jam untuk bersiap. Aku lalu turun sebentar ke bawah. Mengambil minum di kulkas dan meneguknya untuk menghilangkan dahaga.

“Salsa, gaunmu sudah mama belikan yang baru. Mama letakkan di lemarimu. Ambillah dan pakai itu malam nanti,” ucap mamaku dari kejauhan.

“Iya ma,” jawabku sedikit lesu.

Handuk biru tua sudah aku taruh di bahuku. Waktunya mandi. Selesai mandi aku bersiap menggunakan gaun biru muda dengan hiasan yang cantik sekali. Aku melirik jam yang menunjukkan pukul 18.00. Masih 30 menit lagi waktu untuk berangkat.

Aku lalu mengambil ponsel dan menghubungi Kania bahwa sebentar lagi aku akan pergi dan ia hanya berkata ‘Semangat dan semoga sukses my bestiee’.

“Salsa, ayoo berangkat,” ajak mamaku.
“Iya ma,” jawabku.

Ternyata mobil kami diparkirkan di sebuah restoran yang mewah. Aku lalu turun dengan pelan dari dalam mobil. Kami bertiga berjalan bersama ke dalam resto mewah itu.

Mata para lelaki tak kukenal melihatku dengan senyuman mereka. Aku hanya membalas dengan senyuman tipisku. Kami sampai di meja di mana ada orangtua sosok yang akan dijodohkan denganku.

Dan blarr… orang yang akan dijodohkan denganku tak lain dan tak bukan adalah Vernandho Christian. Sontak aku kaget saat kedua orangtua dari kedua belah pihak mempersilahkan kami untuk berkenalan.
“Elo?,” ucap aku dan Tian hampir bersamaan sambil mengacung jari telunjuk seolah tak percaya.

Kedua orangtua kami sontak berkata, “Ohh ternyata kalian sudah saling kenal?,” tanya mereka tak percaya.

“Yaampun, ngapain gue dijodohin sama cowok brengsek ini,” batinku.

Aku lalu diseret Tian menjauhi kedua orangtua kami.

“Lo ngapain coba mau dijodohin ama gua?” tanyanya.

“Heh, siapa juga yang mau dijodohin sama lo. Kalo gue tau elo orang yang bakal dijodohin sama gue yakali gue mau,” jawab aku tak mau kalah.

“Udah mending lo jujur,” katanya tak puas.
“Ehh nih anak, udah gue bilang gue gak tau apa-apa soal perjodohan ini,” jawabku.

“Ngapain coba mama sama papa mau jodohin aku sama kucing galak gini,” katanya mengejek.

“Idihh, siapa juga yang mau sama lo Harimau Brengsekk,”
“Udah ah, intinya gue gak mau dijodohin sama lo,”
“Gue lebih malah,”
“Tapi..,” katanya..

“Tapi apa?,” tanyaku lagi.
“Gimana sama kedua orangtua kita yang udah terlalu berharap?” katanya balik bertanya.

“Mending kita jujur aja,” jawabku
“Gue cuman gak mau ngancurin perasaan mereka doang,” katanya lagi.

“Selama ini aku selalu nurut sama apa yang mereka bilang,” lanjutnya.

“Tapi sumpah, kita berdua gak cocok banget,” kataku lagi..

Tak terasa kami berbicara dengan kepada dingin dan sangat akrab tak seperti di sekolah.

Kemudian kami membuat keputusan bahwa kami akan pura-pura saling cinta dan suka di depan orangtua saja dan tidak dibelakang.

Singkat cerita, kami sudah pulang.
Aku langsung menuju tempat tidurku dan mengangkat telpon dari Kania.

“Halo Sal,” ucap Kania.
“Haii Kan,” jawabku.

“Gimana soal perjodohan kamu?” tanyanya.
“Emm.. tau gak orang yang dijodohin sama aku itu Tian,” jawabku.

“Whattt?? Tian?,” tanyanya lagi tak percaya.
“Iya,” kataku.

“Bagus dongg, yeayyy,” katanya senang.
“Loh kok gitu sih?,” tanyaku.

“Iya dong yang jelas aku senang bangett karena Tian itu kan udah ganteng, baik, pinter, populer lagi, dan yang bakal dijodohin sama dia itu sahabat aku sendiri,” katanya memperjelas.

“Tapi tetep aja ngeselin,” kataku tak suka dengan tanggapan Kania tentang Tian.
Lama berbincang tak lama aku memutuskan telepon dengan alasan ingin beristirahat karena kecapekan.

Hari berganti hari dan gosip tentang perjodohan kami sampai pada telinga Vera. Dia lalu mencegatku dan menamparku kemudian keluar darah segar dari hidung dan sudut bibirku. Aku menangis dan segera menuju kelas.

Bukannya tak ingin melawannya, tapi aku tak ingin masalah ini diperpanjang dan guru-guru menganggap bahwa aku ini cewek gak baik. Aku lalu berlari menuju kelas sambil menutup hidung dan mulutku.

Saat itu adalah jam istirahat sehingga banyak siswa/i dari kelasku yang tak ada di kelas karena sedang jajan di kantin.
“Hei, Sal. Lo dari mana aja? Kalo lo kenapa napa ntar mama lo jadi nyemprot gue lagi,” kata suara yang tak lain adalah Tian.

Dia memang ditugaskan untuk menjagaku di sekolah dan selalu mengawasi aku dalam belajar dan hal lainnya. Karena memang kami dijodohkan jadi itu tanggung jawabnya.

Ketika ia ingin melanjutkan pembicaraannya, aku memberi isyarat untuk bergeser dari bangkuku. Aku mencari tisu dan mengelap darah yang keluar dari hidung dan bibirku sedari tadi yang aku sembunyikan dari Tian. Sontak ia kaget dengan apa yang aku alami.

Tanpa berkata ia pergi ke UKS dan mengambil obat. Dia datang dan membersihkan lukaku dan membalutnya.

Aku melihat dengan jelas wajahnya yang begitu dekat denganku. Batinku berkata, “Ternyata dia itu savage di luar dalamnya hangat,”.

Dia lalu bertanya mengapa sampai aku bisa seperti ini. Aku enggan menceritakannya tapi ia terus memaksaku karena khawatir apa yang harus ia beritahukan pada Mama saat akan mengantarku pulang. Aku lalu dengan terpaksa menjelaskan semuanya.

Dia lalu menarikku dan membawaku pada Vera. Mulailah kata kasarnya keluar pada Vera di kantin. Refleks dia memegang tanganku erat dan kejadian itu disaksikan semua siswa/i yang tengah jajan di kantin.

“Lo punya masalah apa sama Salsa hah?,” tanya Tian kasar pada Vera.

“Gue suka sama lo dan lo dekat sama dia,” jawab Vera.

“Sekali lagi lo celakain Salsa, gue gak akan segan-segan laporin ini semua sama Kepsek,” ancam Tian.

“Emang lo ada hubungan apa sama Salsa sih?” tanya Vera.

“Salsa tunangan gua. Puas lu,” jawab Tian sembari berlalu sambil menggandengku pergi dari kantin.

Vera hanya bisa menganga melihatku dan Tian. Semua mata tertuju pada aku dan Tian. Aku terkejut atas pengakuannya pada Vera.

Apa ia mulai menyukaiku?

Ahh, tak mungkin. Dia hanya takut di omeli mama saja soal keadaanku mesti begitu.

Dia lalu membawaku ke kelas. Dia menyuruhku duduk dan menyodorkan Teh Botol padaku.

“Makasih ya Yan, soal tadi,” ucapku.
“Udah yang penting lo gak papa kan?,” tanyanya.

“Iya gue fine aja kok,” kataku.

Singkat cerita, hari-hari kulalui aku mulai nyaman saat berada di dekat Tian. Aku merasa dia pun begitu. Setiap harinya kami menjalani hari bersama agar tidak membuat orangtua kami curiga.

Dia mengajakku ke taman, membelikan es krim, mengajakku belanja (walau aku tak begitu suka berbelanja), berangkat dan pulang sekolah bersama juga hal lainnya. Hal itulah yang memicu kedekatan kami. Walau semua ini hanya skenario kami namun kami mulai merasa nyaman dengan itu.

Aku mulai merasa jatuh cinta pada sosok Tian. Sosok yang kuberi julukan ‘Harimau Brengsek’ itu kini berubah menjadi ‘Kelinci Imut yang baik hati’. Aku berharap ia bisa begini terus dan ini bukan hanya skenario namun bisa menjadi realita hidupku.

Suatu hari saat ulang tahunku, ia memberi ku sebuah kado. Dengan ucapan selamat ulang tahun dan untaian kata cinta yang menyatakan bahwa ia benar-benar mulai mencintaiku, juga terdapat beberapa fotoku yang ia ambil diam-diama di sela-sela kebersamaan kami.

Ada juga foto dimana aku sedang tertidur saat ia mengantarku pulang. Dan ada foto dimana kami berdua bersama. Walau foto kami berdua itu hanya untuk membuktikan pada orangtua kami bahwa kami benar-benar saling mencintai namun aku suka benar dengan foto itu. Aku mengucap terimakasih yang amat mendalam padanya yang dibalasnya dengan anggukan dan senyuman dengan lesung pipitnya yang dalam.

Tanpa aku sadari, ia naik ke panggung dan hendak membicarakan sesuatu.

“Untuk kamu yang selalu ada. Makasih ya udah menemani aku sejauh ini. Kadang suka ngeselin tapi kamu yang pertama kali buat aku jatuh terlalu dalam pada sebuah kata bernama ‘Cinta’. Ku pikir semua ini hanya skenario tapi aku mulai benar-benar menyukaimu. Wahai matahariku, jangan pergi lagi. Aku ingin selalu bersamamu. Terimakasih putri cantikku,” katanya di atas panggung.

Kupikir ia hanya bercanda namun kemudian ia melanjutkan kata-katanya dengan memintaku untuk naik ke panggung.

“Aku mencintaimu. Aku ingin ini bukan hanya menjadi skenario, tapi menjadi suatu kenyataan kita. Berjalanlah bersamaku, raihlah semua bersama. Karena bahagiamu bahagiaku, tangismu adalah tangisku.

Maukah kau menerimaku apa adanya dengan segala kekuranganku?,” ucapnya panjang lebar sambil menyodorkan kue cokelat kecil berbentuk hati dengan sebuah cincin biasa namun begitu indah.

Aku tak percaya dengan semua ini. Sebuah hal yang aku inginkan terjadi sekarang menjadi kenyataan.

“Ya,” jawabku mantap seraya menerima kue itu.

Sorak riuh beserta tepuk tangan menyemarakkan malam ulang tahunku.
Mama dan Papa memberi selamat tak lupa dengan kado mereka. Juga sahabatku, Kania hadir disana. Ia memelukku, menyodorkan hadiahnya, mengucapkan selamat ulang tahun dan berkata, “Sudah kubilang. Awas nanti bencinya jadi cinta,” katanya.

Terimakasih Tuhan sudah mengadirkan 4 orang terindah dalam hidupku.
Mama, Papa, Kania dan Tian.

I Love You Tian.
Jangan pergi lagi
Terimakasih sudah hadir

 

 

Oleh: Gravity Grace

 

 

Sumber: cerpenmu.com

Komentar

Jangan Lewatkan