oleh

Bergaduh di Balairung Raja

-Cerpen-135 views

Balairung megah itu penuh omel, riuh sekali. Orang-orang bersungut-sungut menggerutu bak kicau pipit pesta biji padi curian. Aduhai! Pangsa menunjukkan bangsa.

Ya, itu! itu! Koloni pipit mungil ingin tunjukkan kekuatan peribahasa: pipit pekak, makan berhujan. Sudahlah! Mereka tak peduli lagi bijian padi itu peruntungan siapa. Serupalah dengan mereka yang menggaduh di balairung itu. Tak peduli sambil menggerakkan anggota tubuh apa saja yang bisa diacakadutkan.

Gerakan ngawur itu sepertinya untuk imbangi beratnya kata-kata yang dihafal. Sungguh, tampak payah sekali. Kalau saja sang baginda tidak pukulkan godam dengan keras ke lempengan hingga pekak, mereka akan terus begitu dan begitu saja!

“Cukup!” seru sang raja.

Balairung sunyi, hanya terdengar embusan napas tersengal. Bengek seperti berasma.

“Bagaimana, baginda, bagus, kan?” tanya seseorang yang wajahnya sudah merah padam setelah isi otaknya terkuras habis dimakan kata-kata.

“Bagaimana kalian bisa kalahkan mereka kalau segini saja?” tanya baginda.

Sang raja kecewa. Padahal mereka itu sudah ngomel lama menghafalkan kata-kata baru. Tak heran muka mereka merah padam. Ada Arion, Bedros, Camaro, Damian, Cleos, dan yang lainnya. Para pengomel sudah berusaha yang terelok.

Kegagahan tubuh khas Spartan mereka seolah hilang pintang. Sepaket psikofisik yang diajarkan dengan karakter bisep-bisep tubuh seolah menguap. Kalah oleh kata-kata berhafal.

Akankah mereka besok datang ke balairung dan bertahan? Pilihan baginda ini ternyata berat.

Ahai, tak semudah ayunkan pedang!

Baginda ingin tandingi kerajaan sebelah dengan kedigdayaan lain yang tak umum bagi penyembah kekerasan dan kebiadaban. Prajurit pilihannya kini berjibaku mengumpulkan informasi yang dapat digunakan untuk sebanyak mungkin mengasosiasikan kata atau fakta.

“Hippopotamus!” Sebuah seruan ceria memecah lagi di sejuk fajar di balairung itu. Kata itu membuka perhelatan kebijakan yang akan memulai pembangunan peradaban baru.

Arion, yang tertua itu, bersemangat memberikan forma kata “hipppopotamus” setelah kemarin sore bergembira berkubang di Sungai Apletos yang jernih itu. Sang raja mulai sumringah sambil berperibahasa, “Siapa berkotek, siapa bertelur.”

Pasukan pun bersorak-sorai menyambut peribahasa sang baginda dan kata baru yang dipersembahkan si Arion itu.

“Kenapa kuda dan sungai?” tanya raja tiba-tiba menguji etimologinya. Pasukan terdiam, siap menyimak penjelasan bijak si Arion.

“Saya kemarin berendam di potamus (sungai) dan melihat yang mirip hippo (kuda) yang sedang berendam juga, baginda,” tegas Arion.

“Hmmm, masuk akal!” seru raja.

Muka Arion berbinar. Sedikit menghibur tubuhnya yang sudah jauh dari apa dicitakan ala Spartan: bercangkang kuat ala eksplorasi radikal otot tubuh. Tampilan Arion dan sejawatnya telah kacaukan atas semua gagasan tentang bagaimana seharusnya penampilan ala Spartan.

“Kalau kamu, Camaro, apa idemu?” tanya baginda lagi.

“Begini, baginda, maaf sebelumnya. Saya hanya menemukan si Onan kemarin malam sedang memainkan burungnya sendiri,” jelas Camaro malu-malu.

“Jadi?” baginda bertanya lagi.

“Onani, baginda!” jelas si Camaro.

“Ahai, baguslah kata-kata itu, Camaro!” baginda memekik gembira. Seolah telah menemukan tumpukan emas yang membukit.

Sungguh, suasana begitu damai. Bergairah, semangat berpikir dan merenung. Balairung kerajaan itu dibanjiri menu olah forma (ide) yang termuat dalam penyebutan nama benda-benda yang bijak dan bersemangat.

Guyuran kebijakan telah menumbuhkan kecerdasan yang berhubungan dengan konsep-konsep manusia secara objektif dan nyata. Berhasil sudah mengubah paradigma tentang keperkasaan ala Spartan.

“Kamu, Damian! Apa forma kata hari ini yang dapat kau persembahkan kepadaku?” tanya raja.

Damian maju dan berseru, “narsis!”

“Kok, bisa?” tanya raja penasaran.

“Begini, baginda, kemarin sore saya lihat si Narsisus berkaca mengagumi wajahnya di hilir Sungai Apletos, baginda!” seru Damian bersemangat.

‘Hmm, masuk akal!’ baginda riang.

Kini baginda yakin sekali pasukannya akan unggul. Satu per satu mereka bergiliran mempersembahkan kata-kata baru kepada baginda raja.

Pengalaman inderawi dan abstraksi intelektual pasukannya mampu bekerja sama dalam pembentukan dan pengembangan pengetahuan berbahasa. Mereka siang dan malam mengumpulkan data secara sistematis, menemukan pola, dan membuat kesimpulan dari penjelasan kausal yang mungkin saja bisa terjadi.

“Ketahuilah bahwa phusis itu adalah bahasa yang bersifat alamiah (fisei). Ia akan meledak setelah kalian padu dengan kaidah leksikal, fonetis, dan pragmatis,” jelas baginda tegas dan mulai serius mengampu.

Pasukan baginda menyimak tegang. Mereka mendapatkan hal yang benar-benar baru dalam sebuah peradaban kekerasan.

Mereka sebenarnya telah menciptakan setara materi. Bagian yang kekal, yaitu kata-kata yang tersusun rapi beserta maknanya. Mereka setara tuhan. Dilafalkannya, dihafal dan ditulis. Seakan ensefalisasinya atau pertumbuhan massa otaknya melaju terus hari demi hari.

Determinasi pasukannya dan tujuan pikiran murninya bergerak kencang. Melaju cepat menuju monograf-monograf kebahasaan yang bebas dan agung.

“Ingat, kata-kata adalah sesuatu yang arbitrer, manasuka. Kalian bebas mengembangkannya lebih dari tajamnya pedang musuh yang terasah!” lanjut baginda menutup olah kata hari itu.

Tahun berganti tahun. Tak terasa sudah, hari besar telah tiba. Laga dua pasukan bersedia sudah. Akankah pasukan pelaju kata-kata itu mampu mengimbangi pasukan pedang ala Spartan?

Dua pasukan berhadapan. Baginda tersenyum melihat pasukannya yang sudah tiada berpedang lagi. Yang ada, terlihat sekumpulan orang yang melakukan gerakan acak sambil mengomelkan kata-kata indah penuh kebijakan.

Sedang di punggung-punggung kuda pasukan baginda itu tidak lagi mengangkut perlengkapan perang. Terlihat jelas hanya ada tumpukan kertas yang terikat rapi menggantung hingga hampir menyentuh bumi.

Tak butuh lama, sekejap saja, pasukan pelaju kata-kata  baginda itu habis dibabat musuh! Arion, Bedros, Camaro, Damian, Cleos, dan lainnya bersimbah darah. Mulut mereka masih mengomel. Wajah-wajahnya tetap tersenyum tenang.

Pedang-pedang musuh yang berlumur darah  teracung malu, getir di atas kemenangan barbarnya sendiri. Sedangkan pasukan baginda terkapar gembira. Mereka telah persembahkan yang lebih kekal dari sebuah kemenangan berpedang, yaitu kata-kata dan peradaban baru.

Apa yang tertulis indah dan bijak pada kertas-kertas di punggung-punggung kuda pasukan baginda itu akan terus menang selamanya. Kekal abadi, tak mempan ditebas pedang yang menginginkan tetes darah.

Pedang musuh? Esok berkarat saja.

Putri-putri baginda berlarian terlihat tegar. Rakyatnya tenang menghampiri mayat-mayat para kesatria kata-kata itu. Mereka dengan hikmat menghormati jenazah itu dengan kata-kata yang terangkai indah. Bukan dengan kerasnya dentingan suara kosong sang pedang yang dipukulkan pada peradaban manusia.

 

Oleh: Yudho Sasongko

 

Cerpen ini sudah terbit di nalarpolitik.com

Komentar

Jangan Lewatkan