oleh

Bukan Cinta

-Cerpen-224 views

Hei, apa kabarmu? Apa kau masih menyimpan erat janji konyol itu?

5 tahun sejak aku pergi keluar kota. Kami sama sekali tidak memiliki kontak. Aku tidak yakin dengan rasa ini. Yang jelas, janji adalah janji. Aku bukan orang yang ingkar begitu saja. Tapi Dia tak kunjung datang. Akankah dirinya sudah dengan yang lain? Tidak mungkin.

Sampai kapanpun aku akan terus menunggu. Bukankah aku sudah berjanji untuk menunggunya? Dia juga berjanji untuk menjemputku. Apa yang sebenarnya terjadi?

Kenapa tak kunjung kemari? Apakah, dia juga merasakan hal yang sama denganku?
Huh. Aku sudah awas dan ragu dengan perasaan ini sejak lama. Aku tidak berdebar saat mengingat dia menggenggam tanganku, atau tidak terluka saat berpisah. Apakah wajar itu cinta?

Sepertinya aku harus memastikannya.

Aku mulai memejamkan mata. Membayangkan kenangan itu.

Tidak ada debaran. Sekejap rasa bersalah mulai menyelimutiku. Kenapa aku baru sadar? Ini bukan cinta, hanya rasa sayang kepada lawan jenis karena dia sudah baik padaku. Dan tanpa melibatkan cinta. Apa ini nyata? Bodoh.

Lantas kenapa masih menunggu? Itu karena aku tidak enak ingkar janji. Aku bodoh sekali. Untuk apa membuang waktu hanya untuk lelaki yang tidak kucintai? Sebenarnya apa yang kuharapkan darinya? Menikah?
Itu tidak akan pernah terjadi.

Aku menyayanginya, bukan mencintainya. Lalu apa arti hubungan ini?
Sungguh tak masuk akal.

Banyak lamaran yang datang. Aku… hanya ingin menepati janji. Hingga hari ini, genap sudah 15 lamaran kutolak. Mama papa hanya tersenyum simpul. Aku tahu, mereka tidak akan menikahkanku dengan orang lain tanpa cinta. Karena mereka tahu aku akan menunggunya.

Seseorang memanggil namaku dari luar kamar. Kubuka pintu, mama papa tersenyum hangat.

Aku menelan ludah. Pasti pembicaraan yang serius. Dan benar saja, itu tentang pernikahan.

30 menit berlalu, aku masih ditempat duduk yang sama. Mama papa sudah keluar dengan muka kecewa. Lagi-lagi aku menolak harapan mereka.

Ucapan terakhir mama sebelum melangkah keluar masih terdengar jelas.
“Mama penasaran siapa laki-laki yang membuatmu menunggu seperti ini. Berhentilah memikirkannya. Kau membuat kami sedih. Mama dan papa sangat ingin melihat cucu.”

Aku termenung. Bayangan laki-laki itu mulai buram. Sekuat apapun aku mengingatnya, tidak tampak. Hilang. Hanya kenangan yang tersisa.

Aku tidak pernah mencintainya.
Bagaimana jika dia dengan erat mengenggam kokoh rasa itu?

Aku beranjak. Melangkah dengan mantap. Aku akan meminta izin pergi ke desa itu menemuinya. Walaupun sepertinya mama papa sudah bosan dengan keinginanku yang sama. Tapi mendengar aku akan kembali dan menerima pernikahan itu, mama papa memperbolehkan. Batas waktu maksimal 1 malam.

Aku tidak bisa apa-apa dengan ini semua. Cukup. Inilah alasan dia tak kunjung datang. Aku menunduk lebih dalam. Merasakan tatapan bersalah laki-laki itu.

2 menit lengang. Aku mengangkat kepala, tersenyum.

Laki-laki itu terlihat kikuk, mengalihkan pandangan. Jelas sekali wajahnya merah.

“Aku tidak apa-apa. Pergilah. Istri dan bayi kecilmu sudah menunggu. Lupakan janji konyol itu. Aku baik-baik saja.” Suaraku bergetar. Merasa terkhianati, walaupun aku tidak cinta. sia-sia sudah 5 tahun itu.

“Apa kau menungguku?” Laki-laki itu menatapku lamat-lamat. Aku langsung menunduk. Sangat tidak tahu diri jika aku menerima tatapannya. Dia jelas sudah menyadang status suami orang.

“Untuk apa kau bertanya?” Rasa kecewa mulai memenuhi, membuatku enggan menatapnya.

Dia meminta maaf untuk ke-20 kalinya.

Aku melirik jam tangan. Baiklah.
“Aku akan pergi.”

“Aku selalu mencintaimu-
“Hingga sekarang? setelah bertahun-tahun kau dengan wanita lain?”

“Aku terpaksa, Cha. Aku bahkan tidak memiliki rasa padanya-

“Setelah kau memiliki keturunan?”
“Acha, jangan potong dulu. Biarkan aku bicara untuk terakhir kalinya.” Matanya meredup.

Aku sedikit salah tingkah. Dia masih menyebut namaku seperti itu.

“1 minggu setelah kau pergi, ibuku meninggal. Dan beliau berwasiat untuk aku menikahi wanita yang sudah dipersiapkan sejak lama. Aku tidak punya tenaga untuk membantah, lalu ibu pergi. Dan pernikahan itu terjadi 2 minggu setelahnya. Apa aku mencintai wanita itu? Tidak tau. Tapi aku berusaha untuk seperti itu. Aku sebagai anak harus memenuhi keinginan ibu sendiri. Biarlah aku berbohong pada hati. Biarlah aku dianggap kurang ajar mengingkari janji itu. Biarlah. Asal di mata ibu aku tetap anak yang baik dipenghujung umurnya. Walaupun hati ini tidak bisa berbohong.”

Dia menatapku. “Jangan alihkan matamu dariku. Izinkan aku menerima tatapan itu. Untuk kali ini saja.”

Rasa bersalah memenuhiku. Aku menatapnya dengan hangat. Aku juga menyayanginya, tapi ini bukan cinta. Hanya sebuah rasa simpati, tidak enak. Begitulah.

Aku harus mengatakan perasaan ini. Aku tahu ini berat baginya, tapi jika aku berada diposisi istrinya jauh lebih berat.

“Rehan…” Suaraku bergetar. Aku harus mengatakan itu.

“Saat kita berpisah dulu, aku tidak terluka sedikitpun. Aku bingung, apa aku juga tidak merindukanmu? Yang kulakukan hanyalah menunggu.

Rasa tidak nyaman untuk mengingkari janji itu membesar hingga sekarang. dan aku sadar, selama ini aku tidak memiliki perasaan yang sama denganmu. Aku hanya sayang, dan itu bukan cinta. Maafkan aku…”

Dia tersenyum perih. Aku tersenyum menguatkan. Lalu melangkah melewatinya.

“Istrimu amat mencintaimu. Jelas ia membutuhkan rasa cinta yang tulus. Lupakan aku yang tidak punya cinta padamu.”

Kata terakhir saat aku melewatinya.

 

Oleh: Nazai

 

 

Sumber: cerpenmu.com

Komentar

Jangan Lewatkan