oleh

Catatan untuk Wulan

-Cerpen-85 Dilihat

Wulan, 7 April 2017, saya pernah menulis catatan untuk mu. Tentang pelatihan tenun ikat bagi Filomena Soares, Maria Lobato, perempuan-perempuan hebat dari tepian negeri di Kabupaten Belu.

Salah satu pesanku ketika itu adalah, dari Mama Maria Lobato, dkk, kita belajar tentang semangat hidup. Akses ke sumber penghidupan yang terbatas, membuat mereka menjadi kelompok rentan, dan pilihan untuk memperkuat keterampilan menenun adalah salah satu pilihan untuk dapat bertahan karena hidup dan kebutuhan akan terus berlanjut.

Wulan, hari ini adalah salah satu hari yang sangat istimewa, karena dari tepian negri, foto dan pesan dikirim oleh Mama Maria dkk. “Kami bisa buat motif baru seperti yang diajarkan, menenun sesuai arahan, dan hasilnya bagus. Kami ingin hidup kami menjadi lebih baik, kami ingin berubah dan membantu satu sama lain.”

Wulan, semoga dengan merangkai benang, kemiskinan pun bisa terurai dan harapan mereka untuk berubah dapat terwujud.

Wulan, membaca pesan dan melihat foto-foto ini, membuat saya ingat kembali, penggalan-penggalan kisah dalam “Burung-burung Manyar” pada bagian Aula Hikmah, ketika tokoh Larasati Jakatamsi, dengan nama manis Atik, mempertahankan tesisisnya. Untuk berkreasi, kita harus sanggup memilih. Kesanggupan memilih mengandaikan suatu kemampuan untuk menimbang, untuk mengendalikan nasib.

Sebab siapa berkemampuan untuk memilih, dia mengusai nasib. Jiwa yang memiliki harapan tidak menyerah atau hanyut, namun aktif menimbulkan fajar baru. Panggilan sebagai manusia adalah panggilan kepada jati diri. Suatu sumber kesadaran diri di dalam lubuk kedalaman hakekat, karena itu penting ada komunikasi.

Wulan, seperti membentuk pola, sebagai bagian utuh dari aktivitas menenun, kita juga perlu membentuk fondasi hidup kita dengan pola yang baru: dari takut menjadi berani, malas menjadi rajin, dari pecundang menjadi pemenang.

 

Oleh: Yos Boli Sura

Komentar