oleh

Ceria Remaja Putih Biru

-Cerpen-251 views

Orangnya selalu ceria. Banyak tertawa. Suka guyon dan menikmati masa remaja dengan sukacita. Namanya Caca.

Di sekolah, Caca sekelas dengan beberapa kawan yang terkenal ceria pula. Ada Filo yang terkenal suka guyon, usil, eksentrik, baik hati. Ada juga William saudaranya yang berkarakter mirip. Ada Riri yang cerewet, supel, selalu ketawa lepas, suka iseng, tak mau kalah dalam berdebat. Ada juga Mul yang suka nyanyi, murah senyum, gesit, suka ikut ramai. Tak ketinggalan pula Gusti si unyu unyu yang cerewetnya melebihi teman perempuan.

Di kelas, tak ada mereka, tidak ramai. Sepi. Keenam sekawan ini menjadi motor penggerak keramaian kelas. Terutama saat guru tidak masuk karena sakit atau ada rapat. Terkadang Pak Ar atau Pak Mias muncul tiba-tiba dan menegur. Saat itu biasanya Filo, William, Gusti dan Mul kena tempeleng. Caca dan Riri beruntung karena perempuan, dan biasanya cuma menimpali ulah ketiga temannya dengan tertawa.

Meskipun kena tempeleng, mereka tidak kapok. Setiap kali ada kesempatan, selalu ribut. Tertawa ceria. Yang lain juga ikut tertawa menikmati guyonan dan usilan eksentrik Filo dan kawan-kawan.

* * *

Pada suatu hari, Pak Ar menyuruh seisi kelas menghafal teks Proklamasi, Pancasila, dan Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Sesudah itu setiap siswa maju satu persatu di depan kelas menghafal semuanya dengan suara lantang.

“Kalau teks Proklamasi, itu gampang sa. Ko itu beta punya nama juga na,” kata Gusti. “Tapi Pembukaan UUD 45 ini yang parah.”

“Itu sudah. Terpaksa harus hafal mati-matian. Ayo, kita dua uji hafal supaya saling membantu,” ajak Caca.

Pak Ar memberi waktu 30 menit untuk menghafal. Dalam sekejap seluruh kelas berdengung. Filo dan William yang biasa usil, tampak komat-kamit menghafal teks Pembukaan UUD 1945. Mul telah lupa syair lagu yang biasa dinyanyikan. Penuh konsentrasi ia menghafal seperti biasa menghafal syair lagu. Riri menatap langit-langit sambil mulutnya komat-kamit menghafal. Hari ini tak kelihatan tampang lucu mereka.

Tiga puluh menit berlalu. Suara Pak Ar menggelegar. Semua berhenti mendengung. Sunyi seketika.

“Sudah siap?” tanya Pak Ar.
Tidak ada jawaban seperti biasanya. Semua diam dan berdoa, semoga bukan dia giliran pertama.

“Tuhan Yesus, tolong saya. Gerakkan hati Pak Ar supaya tunjuk orang lain dulu. Saya belum hafal semua. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin,” doa Filo dalam hati.

Doa yang mirip meluncur dari hati Mul, Gusti dan William. Mereka menunduk supaya tidak beradu pandang dengan Pak Ar.

“Orang pertama, maju! Agnes, ketua kelas.” Keenam sekawan bersorak dalam hati. Ada kesempatan untuk menghafal lagi sampai beres. Agnes menjalankan tugasnya dengan baik. Orang pertama lolos. Orang kedua, Cici. Ini pun lolos.
“William!”

“Aduh, mati beta.” Ia menutup mukanya dengan tangan. Mau tak mau harus maju. Dengan gemetar. Gugup juga. Maka hasilnya tidak lolos, dan dihukum berdiri di depan kelas.

Satu persatu mendapat giliran sampai selesai. Yang berhasil menghafal bisa duduk kembali. Tapi yang tidak berhasil dihukum berdiri di depan kelas dan menghafal sampai bisa. Dari keenam sekawan itu, hanya Caca dan Mul yang lolos. Empat yang lain membaur bersama teman lain yang tidak lolos.

Hari itu mereka berjuang sampai bisa menghafal seluruhnya. Terutama teks Pembukaan UUD 1945. Semua serius. Tak ada muka lucu dan usil. Bisa jadi inilah hari teraman di kelas dari ulah mereka.

* * *

Sore. Ada pertandingan bola kaki di lapangan Puspenmas. Keenam sekawan itu janjian nonton bersama. Filo dan William yang selalu mengendarai motor bebek Honda Super 800 ke sekolah, tiba di lapangan lebih dahulu. Mul dengan RX King menjemput Caca ke lapangan. Gara-gara ini, Caca bertengkar dengan Sony yang ternyata menyukai Caca. Filo menjemput Riri, lalu singgah di toko Cumping, membeli gula-gula Hopis. Gusti sendirian jalan kaki karena rumahnya dekat lapangan.

Mereka menonton pertandingan dari sisi timur selatan, duduk di lapangan voli. Pertandingan antara Kecamatan Mollo Utara vs Kopeta Soe. Perhatian mereka cuma terarah sebentar saja ke pertandingan. Saat seperti ini, ide usil Filo selalu muncul. Tak lama kemudian mereka lebih banyak ngobrol sambil saling mengolok. Filo menyentil Riri yang cerewet, gampang emosi dan suka membantah. Tak mau kalah, Riri balik mengolok Filo selalu kena tempeleng dari Pak Ar. Topik lalu berpindah ke mereka yang tidak lolos hafal Pembukaan UUD 1945.

Akhirnya mereka lupa menonton pertandingan karena sibuk menceritakan ulang kejadian di kelas dengan mimik lucu. Semua tertawa ceria. William dengan wajah lucu menceritakan saat namanya disebut Pak Ar.

“Aduh, Tuhan e, rasa seperti jantung mau copot sa. Padahal beta su berdoa, Tuhan Yesus tolong do, kasi giliran di orang lain.”

“Hahahahahaaaa, saya juga. Berdoa setengah mati, akhirnya lupa hafal. Sial ko tidak,” timpal Gusti.

“Kamu fokus di doa, na. Tidak fokus di hafal,” kata Mul sambil tertawa berderai.

“We, itu hari memang kita pung kelompok ni tidak ada model betul. Mati kutu. Hiii, Pak Ar memang e. Talalu,” kata Riri sambil menggeleng kepala. Caca sibuk ketawa terpingkal-pingkal sampai menahan perutnya.

Pertandingan selesai. Mereka tidak tahu tim mana yang menang. Bagi mereka itu tidak penting. Yang penting adalah bisa bertemu, berbagi cerita, tertawa atau menertawakan diri sendiri. Hidup bukan soal kalah atau menang. Hidup adalah berbagi kebahagiaan.

“Ayo, kita bubar sudah, te pertandingan sudah selesai,” ajak Caca.

Mul mengantar Caca pulang. Filo mengantar Riri. William dan Gusti berjalan ke rumah Gusti sambil bercerita. Filo akan menjemput William di rumah Gusti.

Canda tawa yang dialami sore itu membuat mereka tetap semangat menjalani hari-hari di bangku sekolah. Tiada hari tanpa keceriaan. Selalu ada hal lucu yang membuat semua tertawa gembira. Caca yang biasa tertawa terbahak-bahak, paling suka mendengar cerita lucu dari Filo, Gusti atau William. Ia tidak peduli pada sepasang mata yang memandang tajam penuh cemburu ke arahnya. Ia yakin, keceriaan dalam persahabatan yang tulus lebih indah daripada hubungan spesial penuh cemburu.

Sampai tamat, kelas itu selalu diwarnai oleh keceriaan khas remaja. Keceriaan yang berangkat dari ketulusan persahabatan. Usil, iseng, eksentrik, lucu, adalah kekhasan keenam sekawan ini. Tak ada mereka, kelas sepi. Ada mereka, kelas ramai. Itu ko tidak…

Tamat

 

Oleh: Prim Nakfatu

Komentar

Jangan Lewatkan