oleh

Cinta Dalam Diam

-Cerpen-39 Dilihat

Hai, namaku Azhar. Aku adalah mahasiswa ngetop di Fakultas Ekonomi, alasan ngetopku bukan karena wajahku yang tampan tapi karena IP ku yang selalu 4,0 di setiap semesternya. Bagaimana tidak 4,0 semua mata kuliah yang disampaikan dosenku bisa kuserap dengan mudahnya.

Semua mata kuliah Ekonomi kukuasai dengan baik, bahkan tak jarang banyak temanku yang bertanya padaku. Tapi, dari sekian banyak yang kutahu hanya satu yang tidak kumengerti yaitu Riana.

Riana adalah temanku kuliah sekelas. Jika kau mendengar namanya pasti kau akan mengira kalau dia adalah cewek yang ekstra feminin tapi kenyataannya jauh dari kata feminin alias tomboy abis.

Setiap hari ia selalu membuat mataku malas dengan penampilan tomboynya. Semua teman perempuanku berpakaian selayaknya gadis pada umumnya namun tidak dengan Riana.

Setiap hari ia memakai jilbab pendek instan, kaos oblong, celana jeans dan sepatu cats. Dan tidak pernah memakai make up sedikitpun di wajahnya. Rasa benciku padanya semakin memuncak saat papa membicarakan pernikahanku dengan Riana.

“Tidak Pa. aku belum siap berumah tangga. Aku masih ingin kuliah pa, lagian sekarang aku masih semester 6” protesku.

“Iya, papa tahu tapi kalau kau menikah, kau kan bisa menunda punya anak dulu jadi no problem, kan,” ucap Papa bersikeras.

“Aku belum bekerja Pa, mau aku hidupi dengan apa nanti dia? Lagian papa ini kenapa sih kok tiba-tiba mau menikahkanku dengan gadis yang tidak kukenal.”

“Zhar, papa ini sudah terikat janji dengan om Gito untuk menjodohkan anak kami jika lahir berlawanan jenis. Papa harap kau mengerti”

“Siapa dia? Papa punya fotonya?”
“Sebentar, fotonya ada di HP papa” ucap Papa sambil mengusap HPnya.

“Ini dia Zhar. Kau suka kan?” ucap papa sambil menyodorkan HPnya padaku
“Riana?!” ucapku.

“Kau mengenalnya?” Tanya Papa dengan muka berbinar.

“Cewek ekstra tomboy yang membuat mataku malas melihatnya setiap saat. Nggak ada yang lain yang lebih jelek lagi pa?”

“Hush! Ngomong apa kamu ini?”

“Nggak Pa, sampai kapanpun Azhar nggak mau menikahinya,” ucapku sambil berlalu meninggalkan papa dan tiba-tiba … bruk

“Papa! Tolong-tolong papaku pingsan!”

Cepat-cepat pak Darso, pak Ucin dan mbok Darmi membantuku menggotong papa ke kamar. Kemudian aku segera menghubungi dokter pribadi kami. Beberapa menit kemudian dokterpun datang.

“Pak Handi hanya kelelahan saja Mas. Jangan khawatir. Saya bikinkan resep dulu ya nanti ditebus di apotek biasanya”

“Baik dok,” sahutku

“Zhar.. Azhar”
“Papa.. papa sudah sadar?”

“Sudah, tapi masih sedikit pusing” ucap Papa dengan wajah pucatnya.

“Syukurlah pak kalau bapak sudah siuman. Bapak hanya kelelahan saja, tidak apa-apa kok pak.”

“Terimakasih dok”

“Kalau begitu saya pamit dulu ya. Mari..”

“Mari Dok”

Setelah mengantar Dokter sampai ke pintu depan, aku kembali ke kamar Papa. Kulihat papaku sedang memikirkan sesuatu. Apakah sikapku tadi terlalu berlebihan padanya?

“Pa, Azhar minta maaf kalau tadi Azhar sudah berlebihan ke Papa”

“Tidak Zhar, papalah yang harusnya memikirkan perasaanmu. Kau sangat jijik pada Riana mana mungkin kau mau menikah dengannya” ucap Papa.

“Tapi pa, Azhar mau melihat papa sehat sudahlah pa biarlah Azhar menikah dengan Riana”

“Kau yakin anakku?”

“Yang penting papa sehat” ucapku

Hari pernikahanku dengan Riana telah tiba tapi aku masih tetap saja illfeel melihat si gadis tomboy itu. Entahlah apa yang akan terjadi pada rumah tanggaku selanjutnya, karena aku berpikir pernikahanku bukanlah sebuah rumah tangga tapi sebuah kompromi kesehatan Papa. Rencanaku nanti malam aku akan tidur di sofa saja.

Maafkan Azhar Pa..

“Mas, aku perhatikan dari tadi pagi kau cemberut terus? Kenapa mas?”
“Nggak papa” jawabku cetus
“Ya udah kalau gitu aku tidur dulu mas. Selamat malam”
“Malam”

Keesokan paginya aku bangun tidur, kulihat tak ada Riana di kamar tapi ada selimut yang menyelimutiku, entah siapa yang melakukannya. Akupun bangun dan melipat selimut itu kemudian ke kamar mandi. Setelah bersih-bersih badan kulihat Riana di dapur sedang memasak.

“Mas, sarapan dulu. Aku sudah buatin sarapan buat kamu Mas” ucap Riana ramah
“Iya” jawabku singkat dan aku langsung sarapan.

“Oh iya Ri, setelah ini aku mau ke kampus”
“Loh Mas bukannya sekarang nggak ada kuliah kan?”

“Bukan urusan kuliah tapi yang lainnya”
“Iya Mas”

Jujur, setelah aku menikah dengan Riana aku merasa menjadi manusia pembohong besar. Bagaimana tidak aku telah membohongi Papa, diriku sendiri dan Nabila. Nabila adalah wanita terindahku. Di mataku, hanya Nabilalah yang pantas menjadi pendampingku bukan Riana si gadis tomboy.

Sudah 3 bulan aku menikah dengan Riana dan tinggal satu atap bersamanya. Papaku menghadiahkan sebuah rumah kecil padaku sebagai hadiah pernikahanku. Bagiku, 3 bulan adalah waktu yang sangat panjang dan menyiksa. Aku sudah berusaha sekuat tenaga menahan diriku tapi aku tak bisa, hatiku tetap tidak bisa menerima Riana, hingga suatu ketika..

Malam itu aku sedang duduk di ruang tamu sambil memandangi foto Nabila, tak terasa air mataku jatuh terurai dan entah sejak kapan Riana ada di belakangku.

“Foto siapa itu Mas?”
“Ri, ini foto Nabila”

“Siapa dia Mas? Mengapa kau memandanginya sampai berlinang air mata?” Tanya Riana penasaran

“Dia kekasihku. Ri, maafkan aku. Aku tidak pernah bisa mencintaimu karena hatiku telah dimilikinya”

“Aku tahu mas. Sejak hari pertama kita menikah kau selalu cemberut bahkan aku juga tahu kalau kau sangat illfeel padaku.

Kenapa kau tidak bilang sejak awal mas?”

“Aku hanya mengkhawatirkan kesehatan Papa Ri tapi setelah 3 bulan aku tidak bisa.”

“Aku tahu kenapa kau tak bisa, pasti karena mbak Nabila sangat cantik dan kalau aku perhatikan dia gadis yang cerdas.”

“Kau benar Ri. Dia pernah membuat sebuah essay yang ternyata essaynya itu sekelas mahasiswa S2 padahal waktu itu ia masih kelas 2 SMA”

“Wau pintarnya! Sekarang dia dimana mas?”
“Dia menjadi mahasiswi fakultas kedokteran di Bandung.”

Riana terdiam, ia menatapku sambil berusaha tersenyum tenang kemudian ia duduk di sampingku.

“Mas, sekarang apa rencanamu?”

“Aku ingin kita bercerai Ri”

“Apakah kau sudah memikirkannya masak-masak?”

“Sudah Ri. Bagaimana menurutmu?”

“Aku terserah padamu mas. Apapun keputusanmu aku ikut”

“Aku sudah mantap Ri, aku ingin kita bercerai”

“Baik mas aku akan beres-beres barangku dulu”

* * *

“Kau akan menceraikan Riana?”

“Iya Pa aku sudah tidak bisa membohongi diriku lagi. Maafkan aku”

“Lalu bagaimana dengan Riana? Apakah ia setuju?”

“Dia menyerahkan semuanya padaku Pa. Apapun keputusanku dia ikut”

“Baiklah nak, jika beberapa bulan yang lalu kau telah berkorban untuk Papa sekarang giliran Papa yang harus berkorban untukmu”

Sertifikat duda sudah ada di tanganku, kini aku sudah terbebas dari belenggu menjadi suami Riana dan sudah tiba saatnya bagiku meyakinkan Nabila. Sore itu, masih libur semester aku mengajak Nabila bertemu di sebuah Café favorit kita.

“Sayang, aku sudah bercerai dari Riana”
“Mana buktinya?”

“Lihatlah. Ini sertifikatnya”
“Kau sangat membenci Riana?”

“Iya sangat. Dia tak seperti yang aku inginkan, hanya kaulah yang aku inginkan sayang. I Love You”

“Sayang, I love you to” ucap Nabila sambil menggenggam tanganku

Hari itu kurasakan kembali kebahagiaan yang telah lama hilang dalam hidupku, Nabilaku nafasku. Sebentar lagi aku sudah semester 7 lalu semester 8 dan wisuda kemudian aku akan berkerja supaya bisa dengan segera melamar Nabila.

Semangatku kuliah sangat menggebu-nggebu bahkan akupun mulai mencari lowongan kerja khusus S1 Ekonomi.

Semangatku membuahkan hasil juga, tepat semester 7 lebih 3 bulan skripsiku sudah selesai dan akupun juga sudah mendapat panggilan kerja di sebuah perusahaan ternama.

Oh iya, seusai bercerai denganku Riana tetaplah Riana gadis tomboy dengan sejuta tawa. Ia masih saja bercanda dengan kawan-kawannya seputar film komedi. Riana.. Riana kau tetap saja tak bisa berubah.

Hari itu kudapati Riana tengah bercanda seputar film komedi dengan kawannya di koridor kampus. Aku perhatikan ada yang lain dengan pakaiannya, sepertinya pakaian itu adalah seragam karyawan love café.

“Apa kabar Ri?”

“Oh.. Mas. Kabarku baik? Mas gimana kabarnya?”

“Baik. Kau sekarang sudah kerja Ri?”
“Iya Mas di Love Café, lumayan mas bisa buat bayar kuliah dikit-dikit”
“Sejak kapan Ri”

“Sejak bercerai denganmu. Daripada diem nggak ada kesibukan mending aku kerja”
“Ooo”

“Kamu gimana Mas? Nglamar kerja dimana?”

“Aku udah dapat panggilan kerja di perusahaan ternama di Bandung Ri”

“Wahh jauh banget mas tapi Mas jadi dekat dengan mbak Nabila dong”

“Iya rencananya aku mau menikahinya 2-3 bulan lagi. Do’ain ya Ri”

“Iya Mas semoga lancar” ucap Riana sambil tersenyum manis

Hari ini adalah hari wisudaku, hari dimana aku mendapat gelar Sarjana dan bukan hanya itu, di hari itu juga aku mendapatkan sebuah pelajaran besar yang telah meruntuhkan keangkuhanku.

Pagi itu wisudaku dilaksanakan di sebuah gedung kebanggaan kampus. Aku duduk di salah satu kursi yang telah disiapkan dan tanpa kusadari wisudawati sebelahku adalah Riana.

“Riana”

“Hei Mas. Kamu datang ke sini sama siapa?”

“Sama Papa dan Istriku, Ri”

“Istri? Mbak Nabila sudah menjadi istrimu mas?”

“Iya. Kami menikah sudah sebulan yang lalu”

“Alhamdulillah. Selamat ya Mas. Semoga awet sampai surga”

“Amin. Makasih do’anya”
“Sama-sama Mas”

Para perwakilan kampus satu persatu memberikan sambutannya pada wisudawan dan wisudawati, ya kurang lebih mereka menghabiskan waktu 2 jam. Kulihat Riana sudah tidak betah ingin ke kamar mandi.

“Mas, aku ke kamar mandi sebentar ya” ucap Riana berlalu begitu saja meninggalkanku.

Lama sekali ia belum kembali ke kursi wisudawati, aku takut dia tertinggal prosesi pemberian ucapan selamat dari Rektor, tanpa pikir panjang kutelfon dia ternyata HPnya tertinggal di kursi. Kuambil HP itu dan…

“Ri, tadi HPmu tertinggal” ucapku sambil menyodorkan HP Riana.

“Makasih ya mas” ucap Riana gugup.

“Kenapa kau sembunyikan perasaanmu dariku Ri? Kenapa kau tak pernah bilang kalau kau sayang padaku?”

“Mas, kau bicara apa? Aku tak mengerti”

“Ri, kalau kau tidak menyayangiku kenapa kau menyimpan kontakku dengan nama yank? Dan kau juga memakai fotoku sebagai foto desktop hp,” ucapku menatap Riana lekat-lekat tapi Riana masih gugup dan bingung.

“Mas, sejak dulu aku memang sayang sama kamu. Cita-citaku adalah hidup bersamamu tapi setelah menjadi istrimu aku mengerti kalau di hatimu hanya ada mbak Nabila. Jadi, aku harus melepasmu.”

“Apakah hatimu tak sakit melihatku dengan Nabila?”

“Kalau sakit, iya memang sakit mas tapi rasa sakit itu hanya di awal saja, seiring berjalannya waktu rasa sakit itu akan berubah menjadi bahagia karena aku telah melihatmu bahagia dengan pilihanmu”

“Bagaimana bisa kau melakukan itu untukku?” tanyaku berlinang air mata
“Mas, jika kita mencintai seseorang kita tidak boleh egois karena keegoisan kita akan menyakiti hati orang yang kita cintai dan aku tidak ingin menyakitimu terlalu lama”

“Kenapa ini harus terjadi sekarang, Ri? Kenapa ini harus terjadi saat aku sudah menikah dengan Nabila? Seandainya kuketahui sebelum kumenikahi Nabila pasti aku akan memilihmu, Ri” ucapku menahan sesaknya isak

“Sudahlah mas, anggap saja yang tadi itu adalah angin lalu yang penting sekarang adalah rumah tanggamu dengan mbak Nabila.

Tugasmu adalah menjaganya supaya tetap kuat, cukuplah denganku yang retak jangan dengan mbak Nabila” ucap Riana sambil tersenyum menahan tangis.

“Iya Ri akan kujaga rumah tanggaku. Maafkan aku, Ri”

“Iya Mas, aku sudah memaafkanmu sejak dulu”

Kupandangi wajah tenang Riana, sosok wanita yang pernah hadir di hidupku walau hanya sekejap tapi ia telah mengajarkan satu hal yang berarti padaku. Jika ingin bahagia dalam bercinta, maka buanglah keegoisan. Maafkan aku Riana.

 

Oleh: Hamida Rustiana Sofiati

 

 

Sumber: cerpenmu.com

Komentar

Jangan Lewatkan