oleh

Di Bawah Sinar Lampu Gas

-Cerpen-329 views

Juser berada di depan kelas memimpin pertemuan. Semua diam dan mendengarkan. Yang tukang ribut dan nakal pun diam menyimak. Dia bukan ketua kelas, tapi dia diminta untuk memimpin rapat. Persiapan untuk kegiatan Hari Pendidikan Nasional. Partisipasi kelas apa saja, dan siapa yang diutus mewakili kelas 2B. Rapat berjalan dengan baik dan menghasilkan keputusan bersama.

Juser memang begitu. Jiwa kepemimpinannya tinggi. Di antara semua siswa sekelas bahkan seangkatan, dialah yang kelihatan paling dewasa. Selalu mengayomi, bijaksana, menegur yang salah, mendukung yang benar, ramah, tenggang rasa. Anggota kelas merasa aman dan nyaman kalau ada dia. Guru-guru pun respek padanya karena kepribadiannya yang baik.

Di kelas ia unggul dalam bidang IPS dan bahasa Indonesia khususnya peribahasa. Nyaris semua peribahasa ia hafal dan bisa jelaskan maknanya. Tidak heran ketika pelajaran sastra, mengenai peribahasa, ibu Yuli senang karena Juser selalu mampu menjelaskan dengan baik makna setiap peribahasa.

Di luar kelas, saat jam olah raga, ia selalu menjadi pemimpin tim voli atau basket bagi yang setim dengan dia. Apapun komandonya, semua ikut dan bergerak bersama memenangkan tim.

Saat pembagian kelompok belajar, wali kelas menempatkan dia sekelompok dengan Jane, Yadi dan Ros. Sistem belajar kelompok ini adalah kiat sekolah untuk mengkondisikan pembelajaran rumah tetap berjalan. PR diselesaikan bersama.

“Mereka dilatih bersosialisasi, kolaborasi, interaksi dan koordinasi. Dengan demikian waktu bermain yang berlebihan dikurangi karena ada kegiatan belajar kelompok, ” jelas kepala sekolah di hadapan para guru.

“Kebijakan ini akan membentuk karakter siswa sebagai orang yang bisa kerjasama dalam tim. Kita menanam hal-hal positif dalam diri mereka. Di masa depan, mereka akan menuai hasilnya untuk kehidupan mereka. Saya yakin akan hal ini, ” lanjut kepala sekolah dengan keyakinan yang kokoh.

Juser ditunjuk sebagai ketua kelompok. Maka rumahnya menjadi tempat belajar kelompok. Sore tertentu dalam seminggu ada belajar kelompok. Kadang-kadang belajar sampai magrib bahkan malam.

Saat itu listrik di Soe kadang-kadang tidak menyala. Maka lampu gas menjadi solusi. Di bawah sinar lampu gas, Juser memimpin teman-temannya belajar bersama. Mata pelajaran IPS, PMP dan bahasa Indonesia dikuasainya dengan baik. Tapi Matematika ia menyerah. Begitu juga Yadi dan Ros yang rata net dalam bidang Matematika.

Untunglah dalam kelompok itu ada Jane yang jago matematika. Saat-saat seperti itu, mereka berempat tekun mencakar PR Matematika dibimbing Jane langkah demi langkah. Saat penjelasan, Juser, Yadi dan Ros tak berkedip memandang Jane yang fasih menjelaskan seperti guru. Entah mereka paham atau tidak, yang jelas pekerjaan Matematika tuntas. Hasil dari kerjasama di bawah sinar lampu gas. Dan di bawah sinar lampu gas itu, ada imajinasi yang mengembara dari sepotong hati yang menaruh rasa. Juser menyimpan semua perkara hati itu dalam hatinya. Memang, dia itu pemimpin yang mengayomi.

Juser juga memiliki jiwa petualangan. Selain disalurkan lewat kegiatan pramuka, ia juga berinisiatif mengajak kawan-kawan yang berminat untuk bepergian ke tempat tertentu dengan berjalan kaki. Pada suatu hari, ia mengajak Bun, Ipu, Prim dan Tilu, jalan kaki ke Kapan, ke rumah Prim. Kelima petualang remaja ini membawa bekal makan siang, bergerak dari rumah Bun, melintasi Oenasi, menuju Nonohonis. Sambil berjalan mereka berbincang segala macam hal. Dari yang remeh temeh sampai yang serius mengenai mata pelajaran tertentu. Juser selalu memimpin jalannya diskusi.

Di salah satu sumber air di hutan mahoni dekat Sakteo, mereka berhenti. Makan siang. Setelah segar, perjalanan dilanjutkan. Sampai di Sakteo, Juser sadar bahwa lencu atau sapu tangannya tertinggal di sumber air itu. Maka iapun menamai tempat itu Oelensu, air saputangan.

Sore hari para petualang itu tiba di rumah Prim di Kapan. Bapak dan mama ada di Asrama Polisi Soe. Maka kelima sekawan itu langsung mengatur segala sesuatu seperti di rumah sendiri. Tak ada listrik. Hanya lampu gas. Juser membagi tugas. Bun, Ipu dan Tilu memasak, dia dan Prim mengurus lampu gas. Malam itu mereka makan bersama, bercerita, berdiskusi, bermain kartu di bawah sinar lampu gas. Sampai lampu padam, lalu mereka tidur ngorok kelelahan.

* * *

Petualangan kedua, menuju kampung Ipu di Sakteo. Dengan mengambil rute Taman Wisata Bu’at, mereka jalan kaki melewati hutan menembus padang hingga muncul di Oelensu. Istirahat sejenak di situ sambil bernostalgia tentang pengalaman sebelumnya. Sakteo tinggal setengah kilometer. Malam itu Prim demam. Apa boleh buat, tahi kambing bulat-bulat.

Rencana rekreasi terhambat. Di bawah sinar lampu gas, keempat kawan itu merawat si sakit sampai demamnya turun. Rasa solidaritas bertumbuh. Senasib sepenanggungan. Peribahasa yang pas, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Juser tidak saja menghafal peribahasa itu, tetapi mewujudkannya juga dalam hidup. Malam itu, di Sakteo, saat temannya Prim sakit demam, dia tetap tenang, mengarahkan teman lainnya untuk mengurus si sakit sampai sembuh.

* * *

Petualangan ketiga, jalan kaki ke Nule, kampung halaman Tilu. Sekitar tujuh kilometer dari Soe. Tiba di Nule tengah hari. Pas jam makan. Bapak dan mama telah menyiapkan makanan. Para petualang yang kelaparan itu tidak dipersilakan dua kali. Dalam sekejap semua menyerbu meja makan.

Setelah makan mereka mendaki bukit Nule di seberang jalan. Tak sampai di puncak. Di lereng sebelum puncak yang agak terjal mereka berhenti, memandang ke arah desa Nule yang indah permai. Sawah menghampar hijau. Juga ladang yang subur dipenuhi aneka tanaman.

“Ayo, kita bikin tugu kenangan di sini,” kata Juser yang selalu ada ide cemerlang.
“Tiap orang cari batu masing-masing,” perintahnya. Bun, Ipu, Prim dan Tilu bergegas mencari batu di sekitar situ. Tetap berhati-hati agar tidak tergelincir dan terguling ke bawah.

Juser mencari posisi tugu batu yang pas.
“Sekarang kita doa dalam hati, sebutkan impian dan harapan untuk masa depan, lalu susun batu.” Suara Juser tegas dan pasti. Sesudah itu hening sejenak. Hati terangkat ke surga. Dalam doa diam yang khusuk. Menyatu dengan alam yang hening. Kontemplasi selesai.

Lalu masing-masing menyusun batu menjadi tumpukan yang kokoh. Matahari menggelincir ke barat. Para petualang muda itu beriringan kembali ke rumah. Malam itu, di bawah sinar lampu gas, mereka membahas kembali kegiatan yang sudah dilakukan sambil saling mengolok. Ketawa ketiwi sambil menikmati makan malam. Mereka benar-benar menikmati hidup penuh persaudaraan. Sahabat rasa saudara. Semua terjadi karena ide cemerlang sang pemimpin, Juser.

* * *

Tanggal 2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional. Perayaan telah dilakukan seminggu menjelang hari H. Aneka lomba diadakan. Juser mengatur teman-teman kelas 2B untuk ikut ambil bagian dalam aneka lomba. Hasilnya lumayan. Bidang olah raga voli juara 1. Bidang cerdas cermat juara 1. Bidang lain direbut kelas lain.

Hari H tiba. Tanggal 2 Mei. Semua bersukacita. Pasukan putih biru cemerlang berkumpul di lapangan upacara. Perayaan Hari Pendidikan Nasional itu diawali dengan apel bendera. Sesudahnya ada pengumuman juara, pembagian hadiah, lalu makan bersama.

Juser menjadi penggerek bendera andalan bersama Cici dan Sony.

Dalam sambutannya, kepala sekolah mengucapkan selamat dan terima kasih kepada semua guru, pegawai, dan siswa yang telah mengambil bagian dalam perayaan ini.

“Partisipasi dan kebersamaan dalam kegiatan Hari Pendidikan Nasional itulah yang penting. Bukan juara. Juara adalah hasil. Konsekuensi dari perjuangan bersama, partisipasi bersama. Semua itu adalah proses menuju juara. Dan proses itulah yang menjadi bagian dari pendidikan nilai untuk para siswa kita. Bersaing secara sehat. Melaluinya mereka dibentuk untuk menjadi pribadi yang matang, sportif, jujur, tulus, bijaksana. Proficiat untuk kita semua. Sukses selalu dalam perjuangan selanjutnya. Jayalah selalu SMP Negeri 1 Soe. Tuhan memberkati!”

Suara kepala sekolah menggema dalam kesunyian pagi. Masuk ke relung hati para guru, pegawai dan siswa. Pendidikan nilai telah meresap masuk ke dalam nubari. Membenih dan akan berbuah di masa depan, dalam hidup anak-anak didik ini.

Malam harinya, di rumah Juser, anggota kelompok belajarnya diundang berkumpul. Merayakan secara tersendiri, atas ide Juser.

“Teman-teman, sebagaimana saya sudah sampaikan sebelumnya, saya undang kita untuk bersyukur. Bersyukur karena anggota kelompok belajar ini telah menyumbang hadiah besar bagi kelas kita, yaitu juara 1 voli dan cerdas cermat. Kita bikin acara kecil ini. Makan bersama, bacarita, dan tukar kado. Saya sudah beritahu sebelumnya, jadi harap tidak ada yang lupa bawa kado.”

Jadilah malam itu, tukar kado di bawah sinar lampu gas. Kado itu menyimpan misteri hati yang terdalam. Juser menatap tangki lampu gas. Di situ ia menangkap sepasang mata yang memandang jauh menembus hati seseorang. Ia tersenyum. Senyuman arif sang pemimpin. Di bawah sinar lampu gas.

Tamat

Persembahan buat sahabat sang pemimpin dan petualang sejati yang mengilhami aneka bentuk pendidikan nilai, di SMP Negeri 1 Soe tahun 1984/1985

 

Oleh: Prim Nakfatu

Komentar

Jangan Lewatkan