oleh

Diam Tanpa Alasan

-Cerpen-228 views

Sudah tiga hari engkau tidak membalas
pesan dan panggilanku. Engkau diam tanpa alasan.

Barangkali lupa kalau lidah adalah ibu dari setiap bahasa manusia.

Maka diam adalah kematian terbesar bangsa manusia.

Bicaralah melati hatiku,
selagi kupingku belum memerah,
selagi pecahan rindu masih tentangmu.

Jika esok tiada lagi gurau getar dan dering, ikhlaskan kepergian yang tidak menyakitkan hatimu dan hatiku. Delete saja nomor- nomor itu.

Diammu itu rintik-rintik hujan yang menghapus debu pada daun lalu
dari balik jendela kita tersenyum dengan seekor pipit yang kedinginan.

Aku sama sekali tidak menyesal, tiada kehilangan jika masih

Hidup puisi-puisi dan aku bahagia, walau engkau berani membenci.

Sudah tiga hari engkau tidak membalas
pesan dan panggilanku. Engkau diam tanpa alasan.

Diam tidak selalu menjadi jawaban. Bisa jadi sebuah pilihan untuk berdamai.

Namun bisa saja menjadi rumah bagi kebohongan.

Aku curiga bahwa engkau belum jujur
dan merasa diri paling benar.

Apakah mungkin aku menyukai bunga tanpa kelopak?

Berlabuh tanpa dermaga, mencintai tanpa bahasa?

Engkau diam tanpa alasan. Dan aku punya alasan

Untuk tidak diam. Aku ingin bilang, goodbye

Malam Itu Kau Menutup Pintu

Malam itu kau menutup pintu kamar.
Tidur sendiri dan aku terlempar dari
rasa saling percaya dan kita tak saling mengerti.

Tempat tidur yang selalu mendamaikan
sepasang manusia yang saling mencintai
kau cederai dengan salah paham.

Terpaksa matamu bergetar aku terpukul. Di meja tamu aku letakkan secarik pesan,

Jaga anak-anak karena merekalah bahagiamu. Aku pergi ke rumah yang bukan rumah kita. Belajar mencintai yang sulit dicintai.”

Sudah jauh dan kau menangisi diri membiarkan pintu terbuka siang malam.

Aku hanya fajar angin yang mengibas kain jendela.

Kau disejukkan lalu tertidur tanpa seorang suami.

Malam itu kau menutup pintu
Mengunci kejujuran sendiri
Dan aku tak sanggup tinggal
Di dalam kebohongan yang dibuat-buat

Laut

Laut tak pernah mati
Ia luas dan dalam
Bergemuruh, bergerak, riak, ombak
Laut tak pernah mati

Sore ini di pantai
Aku ingat engkau
Hidup dari pelabuhan ke pelabuhan
Sedang aku mengurus rumah merawat anak-anak

Laut pasti ke pantai
Tapi engkau tak selalu ke rumah

Dingin

Di kamar mandi
Air mengajakku bercanda
“Kawan, mari kita saling berkaca,” katanya
sambil melambaikan riak-riaknya yang kacau.

Apakah aku harus telanjang?
Telanjang adalah bahasa kenosis!
Tapi aku malu pada kemaluanku
Malumu itu dosa

Sesudah tanya-jawab di subuh waktu
Dengan berani aku arahkan wajahku ke genangan air

Aku lihat tubuhku sendiri
Tubuh dusta tubuh dosa tubuh fana

Air memelukku dengan kekuatan pelukan mahadalam

Sampai ke pedalaman tubuh
Aku dingin dan hilang segala ingin
Aku bersih aku lestari

Dingin: getaran hati nurani
Ketika engkau telanjang di hadapan air hidup

 

Oleh: Edy Soge

 

Artikel ini sudah terbit di nalarpolitik.com

Komentar

Jangan Lewatkan