oleh

Entah di Mana Gadis Afghanistan Itu Kini

-Cerpen-7.780 views

Gadis ini entah di mana kini. Mungkin ia tengah berjalan tersaruk-saruk membawa nasib. Mungkin juga tengah bersembunyi dalam pelukan bunda yang ketakutan.

Tiga tahun yang lalu, ia berdiri di pinggir jalan yang hendak dilalui tamu negaranya dari Indonesia, dengan kerudung berenda sedikit terbuka yang memperlihatkan rambut pirang dan matanya yang hijau. Salju tengah meluruh turun di kota Kabul, dingin mulai menusuk, tapi ia setia menahan dingin. Jarang ia melihat iring-iringan kendaraan pengantar tamu negara dari dekat. Tak banyak yang bertamu ke ibu kota Afghanistan.

Saya membayangkan ia begitu menikmati kebebasan kecil ini: berdiri di luar rumah, berdandan tipis, bersolek muka, dengan kerudung setengah terbuka dan memampangkan wajahnya kepada dunia. Kebebasan yang pernah terampas oleh Taliban di masa perang sengit di sana sepanjang 1996-2001.

Dan hari-hari ke depan, pemandangan seperti ini tak akan terulang. Taliban telah kembali. Presiden Ashraf Ghani menuliskan kata perpisahannya beberapa jam yang lalu. Pemerintahan berganti. Dan bayangan Afghanistan yang gelap pun kembali lagi: hukum pancung dan tembak mati di depan umum akan terasa biasa, perempuan tak boleh bekerja dan bersekolah, tak leluasa berkerudung setengah terbuka di pinggir jalan menanti tamu negara.

Hampir seabad silam, penyair dan wartawan Inggris yang pernah meliput di sana, Rudyard Kipling (1865–1936) menulis puisi muram:

Pabila engkau terluka dan tertinggal di dataran Afghanistan
Dan para wanita keluar untuk memotong apa yang tersisa,
Gulirkan saja senapanmu dan ledakkan sendiri otakmu
Dan pergilah ke Tuhan sebagai prajurit.

Bertahun-tahun tak jeda dihempas peperangan, sempat menikmati sedikit kebebasan, kini rakyat Afghanistan kembali dalam penguasaan Taliban. Berharap kepada dunia, mungkin tinggal impian belaka. Amerika telah pergi, dan Taliban sudah berjabat tangan dengan Cina.

Entah di mana gadis Afghanistan itu kini. Bendera yang dipegangnya sedang berkibar-kibar di seantero negeri bernama Indonesia yang tengah merayakan kemerdekaannya. Semoga ia selamat.

 

Oleh: Tomi Lebang

 

Tulisan ini telah dipublish nalarpolitik.com

Komentar

Jangan Lewatkan