oleh

Haru Biru Cinta Putih Biru

-Cerpen-393 views

Seragam putih biru. Seragam kebanggaan di SMP. Sekolah favorit di kota dingin, Soe. SMP Negeri 1. Sekolah ini menampung ratusan anak dari pelbagai SD di sekitar kota Soe.

Tahun 1983. Bulan Juli. Udara pagi yang dingin menyengat seluruh tubuh. Para pelajar yang baru masuk berkumpul di sekolah untuk mendengar arahan kepala sekolah. Semua pelajar berseragam putih biru. Dan sepatu bigbos. Lengkap dengan segala atribut. Seragam baru. Masih bau toko. Tapi rata-rata terbalut jaket atau sweater. Saking dinginnya. Tapi wajah mereka berseri bangga.

“Selamat pagi, Anak-anak. Selamat datang di SMP Negeri 1 Soe. Saya, Yosef David Parera, kepala sekolah di sini. Selama tiga tahun kalian akan dididik di sini. Para guru akan mendampingi kalian. Mengajar dan mendidik kalian menjadi manusia cerdas yang berkepribadian.”

Suara kepala sekolah menembus udara dingin. Anak-anak itu mendengarkan sambil berimajinasi. Tak sepenuhnya pikiran terarah kepada suara kepala sekolah. Perkenalan para guru berlangsung sesudah itu. Anak-anak mulai mengenal siapa guru bidang studi dan siapa wali kelas. Ada enam kelas paralel.

Cici berdiri dekat Rara temannya dari SD yang sama. Ia mulai menghafal dan menandai guru sebisa mungkin. Yang ini Pak Amos, guru biologi. Ada Tunu guru PMP. Lalu pak Fanggidae guru Matematika. Ibu Lassa, guru Fisika. Ibu Yuli guru bahasa Indonesia. Ibu Sel, guru Biologi. Pak Ar, guru Geografi. Guru bahasa Inggris Pak Lakapu dan Pak Tanelap. Dan seterusnya….

Setelah itu pengumuman jadwal pelajaran. Semua siswa kelas 1 sekolah siang, karena ruang kelas tidak cukup. Cici, Jo, Bill, Sony, Tuki di kelas A. Nona, Sely, Ima, Yadi, Selvi, Steven di kelas B. Agnes, Ishak, Minggus, Eben di kelas C. Nias, Berto, Atang, Udin, Mery, Aldo di kelas D. Gusti, Filip, Ipu, Ance di kelas E. Kety, Ojus, Nini, Mery, Tetty, Bun, Tabita, Rara di kelas F. Tiap kelas berjumlah 30 anak. Berasal dari SD yang berbeda. Termasuk seorang anak dari SD GMIT Kapan 1. Sendirian dia dari SD di Mollo Utara. Tapi ada juga beberapa anak yang berasal dari sekolah yang sama. Kini berada dalam kelas baru. Berseragam baru. Putih biru. Mereka membaur dan mulai berkawan.

* * *

Kelas mulai bergairah. Materi demi materi mengalir dari para guru. Siswa-siswa baru ini menyerap dengan penuh semangat. Bagi yang suka pelajaran tertentu dan cocok, pelajaran menjadi momen indah menyerap ilmu. Bagi yang tidak cocok atau tak ada minat, pelajaran menjadi momen neraka. Jarum jam terasa berabad-abad. Menunggu lonceng bunyi, jam pelajaran berakhir atau jam bubar sekolah.

Cici yang kalem, rambut sebahu, bangga berseragam putih biru. Apalagi dibalut sweater wool penahan dingin. Tampak cantik dengan senyum lesung pipinya. Sesekali ia mendengung lagu kesukaannya. Memang hobinya menyanyi. Suaranya merdu sekali. Membuat beberapa kawan laki-laki terpesona padanya.

Agnes selalu bergaya rambut kepang dua. Hitam manis dan agak manja. Baik hati, tapi kalau ada yang mengganggu, urusan bisa sampai satu minggu. Selalu suka membantu teman yang butuh bantuan.

Hari ini ada apel bendera. Komandan upacara dari kelas B. Namanya Steven. Jiwa kepemimpinan sudah kelihatan. Semua tertib di bawah komandonya. Penggerek bendera tiga orang. Dua teman cowok mengapiti cewek pembawa bendera. Ojus dan Sony mengapiti Cici. Upacara berlangsung hikmat. Kepala sekolah memberi wejangan seputar disiplin belajar.

* * *

Setahun berlalu dengan banyak peristiwa yang tak bisa diceritakan satu per satu. Singkat cerita, remaja putih biru yang beraneka ragam watak itu menyatu dalam persahabatan unik dan menyenangkan. Masing-masing dengan kekhasannya. Ada yang suka bikin ulah di kelas seperti Nias dan Gusti. Ada yang suka bikin emosi guru sampai kena toki seperti Kety. Ada yang suka baca cerita detektif, katanya mau selidiki hubungan cinta putih biru yang dirahasiakan. Ada yang suka peribahasa dan jago menerangkan peribahasa. Ada yang ketakutan dan teriak saat bola voli menerpa. Ada yang hobi bahasa Inggris tapi matematika mematikannya. Dan seterusnya. Dan sebagainya.

Tahun 1984. Bulan Agustus. Kelas II SMP. Keremajaan mulai mengental dalam ketertarikan satu sama lain. Cinta bersemi melihat kawan yang cantik atau ganteng. Membuat hati bergetar. Kety diam-diam menaruh hati pada Ony. Yadi menyukai Nona. Cici ketiban cinta Berto. Sementara Berto justeru dicintai Rara. Agnes kasmaran pada Tino yang adalah musuh bebuyutan saat lomba bidang studi tingkat SD dulu. Musuh dalam ilmu, tapi cinta dalam hati. Yano diam-diam menulis surat cinta dan menyisipkannya dalam buku catatan Kim. Tabita mabuk kepayang dengan teman sebangku, Atang.

Haru biru cinta putih biru. Dalam aneka kegiatan di kelas maupun di luar kelas, selalu ada cerita yang menggayut di hati. Cinta itu seperti “Nul kali nul sama dengan nul, ” kata Pak Fanggidae, guru matematika. Cinta itu adalah “Enersi yang berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain,” kata ibu guru Fisika. Cinta itu membuat “Mens sana in corpore sano,” kata Pak Mias, guru olah raga. Cinta membuat seorang murid tiba-tiba jadi penyair yang menulis banyak puisi dan dipuji ibu Yuli, guru bahasa Indonesia.

Semua mengalir. Dalam keseharian yang unik menakjubkan. Cinta putih biru yang mengharubirukan sukma. Memberi kekuatan untuk berprestasi dalam belajar. Juga prestasi bagi sekolah dalam ajang lomba. Para juara kelas yang selalu ikut lomba menang di banyak ajang. Prestasi sekaligus prestise sekolah. Ada Nona, Tino, Rara, Agnes. Di bidang olah raga, khususnya voli dan basket, ada Tabita yang gesit dan lincah, Yadi yang atletis, Ojus yang sigap. Di bidang tarik suara, ada Cici yang selalu tampil memukau dan menyabet juara. Semua karena cinta. Cinta tulus kepada sekolah. Juga cinta pada si dia yang mendukung dari belakang.

Tahun 1985. Kelas III. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Berto terpilih menjadi ketua OSIS. Banyak kegiatan dilakukan. Kesempatan untuk mengukir prestasi dan prestise dalam balutan cinta yang mengharubiru.

“Teman-teman, kita ikut kegiatan cerdas cermat yang diselenggarakan kantor Dikbud. Utusan kita Nona, Tino, Rara. Mari kita dukung mereka. Siap?” Kata-kata ketua OSIS disambut dengan teriakan siap, membahana di halaman upacara. Semua ikut mendukung, dari persiapan, saat lomba hingga merebut juara.

Kepala sekolah bangga. Guru-guru tersenyum puas. Angkatan ini unik. Angkatan ini akan melahirkan banyak orang hebat. Kepala sekolah membatin. Matanya menerawang. Harapan baik untuk masa depan anak didiknya membumbung ke angkasa. Berpaut pada awan di langit Soe, mengantar ke balik langit, sebagai doa. Doa diam seorang kepala sekolah yang sederhana.

* * *

Awal Mei 1986. Ujian Ebtanas. Berto memimpin apel pagi sebagai komandan upacara sebelum ujian. Komandonya tegas. Semua rapi berbaris. Siap mengikuti ujian dengan hati bercampur aneka rasa. Arahan kepala sekolah dalam amanat dirasa terlalu lama. Semua berharap lulus dengan NEM tertinggi.

“Sudah siap, ko? Beta belum siap betul, e. Agak grogi.” ujar Ima kepada temannya Sely. Sely juga menimpalinya dengan hal yang sama. Grogi menghadapi ujian. Tapi bagi Nona, Berto, Rara, Udin, Owil, Tino, Agnes, dan lain-lain, ujian ini dijalani dengan tenang. Ada keyakinan diri bahwa akan lulus.

Dua hari ujian berlalu. Wajah ceria mengukir senyum. Tak ada lagi keraguan. Hanya ada keyakinan bahwa semua lulus. Kepala sekolah dan para guru pun yakin. Pengumuman tiba pada waktunya. Angkatan ini lulus 100%. NEM tertinggi diraih Tino.

Hari terakhir berseragam putih biru. Penerimaan STTB dan NEM. Semua datang dengan wajah berseri. Tapi ada juga sekelumit galau menggantung di sudut mata. Terlebih bagi yang mengalami haru biru cinta putih biru. Sebentar lagi akan berpisah. Tiap orang punya cita-cita. Mungkin ada yang lanjut bersama di SMA. Tapi ada juga yang berpisah. Hidup terus mengalir. Kisah kasih tetap membekas di lubuk hati.

Di depan pintu gerbang SMP. Sepasang remaja putih biru yang baru lulus berdiri menghadap ke sekolah.

“Sesudah ini, kamu lanjut ke mana?“
“Saya ke seminari di Atambua.”
“Seminari itu apa?”
“Sekolah untuk jadi pastor.”
“Apa? Mau jadi pastor?” Air mata tergenang di pelupuk matanya. Tak ada tanggapan balik. Hanya sunyi. Sunyi yang panjang. Masing-masing terbawa ke masa-masa indah di sekolah ini. Jemari keduanya saling menggenggam.

“Mari kita pergi. Menuju masa depan masing-masing.” Suara itu memecah kesunyian. Lalu menghilang dalam waktu. Tinggal misteri. Sang detektif pun tak mampu menemukan, siapa sepasang remaja putih biru ’86 itu.

Tamat

Terima kasih kepada teman-teman alumni angkatan ’86 yang sudah berbagi kenangan dan memberikan banyak ide untuk cerpen ini.

 

Oleh: Prim Nakfatu

Komentar

Jangan Lewatkan