oleh

Jiwa Sehat di Jam Olah Raga

-Cerpen-149 views

Pagi hari. Mentari bersinar cerah. Pukul 07.00 di lapangan voli SMP Negeri 1 Soe. Pak Mias, guru olah raga, mengatur siswa untuk praktik. Kali ini lari dalam tim. Setiap tim terdiri dari 5 orang. Satu orang bertindak sebagai ketua tim. Tugasnya memastikan kelompok berlari sampai finis dalam keadaan utuh.

“Selamat pagi, Anak-anak.”
“Selamat pagi, Pak.”

“Hari ini kita praktik olah raga lari. Lari dalam tim. Pembagian tim sudah saya berikan kemarin dalam pengumuman. Rutenya, lewat depan sekolah, belok kanan ke lapangan Puspenmas, lalu belok kanan ke arah Oenasi, lalu di pertigaan belok kanan lagi melewati rumah Ovi, salah satu teman kamu. Terus sampai ke belokan paling ujung, lalu belok mendaki ke arah Oekefan, belok kanan menuju pasar, lewat depan pasar, lalu kembali ke jalan Ki Hajar Dewantoro, masuk kembali ke lapangan ini. Finis di sini.”

Semua perhatian terarah kepada penjelasan Pak Mias. Tak ada yang berbuat ulah. Yang terbiasa usil dan nakal kelihatan sopan. Siapa mau cari perkara pagi-pagi?

“Lari adalah olah raga paling murah dan mudah dilakukan. Olah raga ini sangat bermanfaat bagi kesehatan. Tapi juga untuk prestasi dan prestise. Ingat, pelari terkenal dari TTS sudah sampai di tingkat nasional. Ada Eduardus Nabunome. Juga Katarina Nesimnasi. Saya mau lihat, apakah ada bibit pelari dari kelas kamu ini. Siapa tahu bisa diorbitkan menjadi pelari nasional. Ini mimpi saya.”

Semua diam menyimak perkataan itu.
“Pepatah Latin yang menjadi motto olah raga adalah mens sana in corpore sano. Dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat pula. Saya berharap kamu sehat secara fisik berkat olah raga, dan itu berdampak pada sehat secara mental pula.

Jadi, dengan olah raga, kalian semua sehat jasmani dan rohani. Oleh karena itu, setiap tim bersiap untuk lari melalui rute tadi. Jangan lupa pasang nomor tim di dada pelari paling depan dan punggung pelari paling belakang dalam tim. Hati-hati supaya tidak terjadi kecelakaan. Ketua tim bertanggung jawab. Siap?”
“Siaaaap!”

Satu persatu tim dilepas guru olah raga ini. Dari nomor urut satu sampai tujuh. Tim keenam diketuai Ron. Anggotanya Jo, Kety, Emy, Sely. Ron mengatur timnya. Sely paling depan, disusul Emy, Kety, Jo. Dia paling belakang dan memberi komando serta motivasi. Tutwuri handayani. Dari belakang memberi dorongan untuk tetap maju dalam kesatuan tim.

Ron memberi semangat kepada timnya untuk berlari. “Jangan lari cepat-cepat, ya? Ini bukan uji lari. Kita lari santai dalam tim. Jaga supaya kita tetap bersama.”

Tim ini bergerak perlahan tapi pasti. Semua tertib di bawah komando Ron. Sampai di lapangan Puspenmas mereka melewati tim keempat dan kelima yang kedodoran karena saling mendahului seperti uji lari. Menurun ke Oenasi dan seterusnya Ron mengatur agar timnya tetap dalam formasi dan berlari santai, tidak terburu-buru. Perhitungannya tepat. Tim ketiga pun mereka lewati. Ada yang sakit “kuk naik” sehingga istirahat. Di belakang mereka tim keempat dan ketujuh saling mengejar.

“Aduh, mama beranak e, beta sonde kuat lagi,” seru Kety sambil menunduk. Larinya mulai pelan. Segera Ron memerintahkan Sely untuk lambatkan lari. Sesuaikan dengan Kety. Yang lain pun demikian.

“Bagaimana, Kety? Masih bisa?”
“Su cape. Nafas mau habis sudah.”
“Bertahan sedikit lagi. Kalau begitu, kita jangan lari dulu. Jalan santai dalam tim, ambil nafas, kalau sudah agak pulih barulah kita lari. Yang penting jangan berhenti, ya?”

Ron terus mendorong timnya untuk tetap maju, walaupun hanya berjalan. Ternyata tim pertama dan keduapun mengalami hal yang sama. Ada anggota tim yang kewalahan. Mereka pun memilih berjalan dalam tim.
Semua tim tampak ngos-ngosan. Kety hampir menyerah. Terpaksa Ron meminta Jo ke belakangnya. Ia berjalan di sisi Kety. “Ayo, pegang saya punya lengan. Bertumpu di sini, kalau cape. Sambil tetap jalan, ya?”

Kety tersenyum malu. Tapi ia tak bisa menolak tawaran itu. Ia pun memegang lengan kiri Ron dan setengah bergantung padanya. Tim ini terus bergerak mendekat tim pertama dan kedua. Setelah dirasa agak kuat, Kety melepaskan pegangannya.
“Ayo, kita lari lagi,” ajaknya.

Ron segera berpindah ke belakang dan memerintahkan untuk berlari lagi.
“Pertahankan semangat, Kawan-kawan. Lari biasa. Jangan buru-buru.”

Mendaki Oekefan, tim kesatu dan kedua terlihat berjalan saja. Tidak sanggup berlari. Tim keenam pun akhirnya berjalan pula. Kali ini Emy juga merasa tidak kuat lagi. Terpaksa Jo pun membantu menopang Emy. Sedangkan Ron menopang Kety. Untunglah Sely si kecil mungil tetap stabil. Biar bertubuh kecil, dia kelihatan kuat.
Perlahan tapi pasti mereka membuntuti kedua tim terdepan. Akhirnya sampai juga di perempatan tugu. Keempat tim lain sementara berjalan mendaki Oekefan.

“Ayoooo, semangat! Kita lari lagi. Ini sudah tidak ada mendaki lagi. Rata. Pasti bisa.” Ron mengajak timnya berlari lagi. Semangatnya tetap tinggi. Ia terbiasa berlari karena selalu bermain bola kaki. Hampir setiap sore ia ikut bermain bola kaki bersama kawan-kawan sepermainan di lapangan Puspenmas. Omnya pemain bola kaki Perss Kabupaten TTS. Makanya ia juga bercita-cita menjadi pemain kabupaten kelak.

“Mens sana in corpore sano. Jiwa yang sehat ada dalam tubuh yang sehat. Ayo, semangat. Jiwa sehat itu nampak dalam semangat yang kuat. Finis tinggal sedikit. Jangan kendor.” Ron terus memberikan semangat kepada anggota timnya sambil berlari kecil. Di depan pasar mereka melewati tim kesatu yang tampak kelelahan.

Salah satu anggota tak mampu berlari maka mereka terpaksa berjalan. Tim kedua telah mendekati perempatan Sri Solo, menuju sekolah. Tim keenam terus bergerak maju dengan semangat masih terjaga. Jiwa mereka tetap kuat walaupun raga sudah melemah. Ron tetap sesekali memberi motivasi. Sely masih bertahan.

Si kecil ini kuat. Emy dan Kety berjuang mengikuti Sely di depan. Jo beruntung bisa bertahan pula walaupun tidak biasa main bola kaki. Kerja fisik di induk semangnya membuat dia terbiasa bertahan dalam kerja keras yang memakan tenaga. Ron mampu mengatur nafas dan menjaga semangat sehingga tetap bertahan.

Akhirnya tim ini tiba di garis finis sebagai pemenang kedua. Pak Mias memberikan apresiasi khusus karena dari urutan keenam, mereka mampu mencapai urutan kedua di garis finis.

Mereka beristirahat sampai semua tim tiba di garis finis. Pak Mias memberikan penilaian. Ia memuji tim kedua dan keenam yang mencapai garis finis lebih dahulu dalam kondisi lengkap. Tim tetap utuh. Sedangkan yang lain ada yang tidak utuh.

“Praktik olah raga hari ini bukanlah sekedar olah raga biasa. Lari itu biasa, tapi lari dalam tim itu luar biasa. Tentu saja luar biasa bagi yang bertahan sampai finis. Saya memberi apresiasi terhadap tim yang mencapai finis dalam tim yang tetap utuh. Hebat kalian.”

Tepuk tangan menggema. Tak ada suit-suitan. Semua masih ngos-ngosan.
“Pelajaran apa yang dapat kamu ambil dari olah raga hari ini?”

“Saya, Pak.” Ron mengangkat tangan. “Menurut saya, kami dilatih untuk kompak dalam tim, setia kawan, saling membantu, tetap semangat, terus berjuang sampai finis.”

“Bagus, Ron. Itu yang dimaksudkan. Dengan demikian, lari dalam tim seperti ini bukan hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga menyehatkan mental kamu, jiwa kamu, kepribadian kamu. Kamu ingat, mens sana in corpore sano. Jiwa yang sehat ada dalam tubuh yang sehat. Lari dalam tim membuat kamu bukan hanya sehat tubuh, tetapi juga sehat jiwa. Mengerti?”

“Mengerti, Pak.” Suara para pelari itu terdengar lesu. Pak Mias mengerti.
“Baiklah. Pelajaran kita sampai di sini. Silakan berbenah dan istirahat.”
“Terima kasih, Pak.”

Sebagian bergegas menuju kelas dan sebagian ke kamar mandi. Kety, Emy dan Sely memilih duduk istirahat di bawah pohon rindang. Mereka masih bercerita hangat tentang pengalaman tadi. Bangga dan puas bisa mencapai finis. Kety tersenyum, mengingat apa yang terjadi di pendakian Oekefan. Rasanya ingin berlama-lama di pendakian itu.

Ups, terima kasih, pendakian Oekefan. Ia membatin. Pendakian itu telah membuat jiwanya makin sehat. Jiwa yang sehat di jam olah raga.

Tamat

 

Oleh: Prim Nakfatu

Komentar

Jangan Lewatkan