oleh

Jokowi Tiga Periode; PDIP vs Massa Pemilih

-Cerpen-2 Dilihat

Terkait masa jabatan presiden (tiga periode), sikap politik dari Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDIP) ternyata cukup berbeda dengan massa pemilihnya sendiri. Ada penolakan tegas di sisi PDIP, sementara dukungan kuat justru datang dari massa pemilih partai politik berlambang “banteng hitam bermoncong putih” itu. 

Lewat rilis dan webinar survei SMRC hari Minggu,  (20/6/2021), pihak PDIP Ahmad Basarah menolak tegas isu presiden (Jokowi) tiga periode. Ia menilai isu itu sengaja diembuskan untuk kepentingan sekelompok orang. 

“Gagasan tentang masa jabatan presiden ditambah menjadi tiga periode ini jelas jauh dari pandangan dan sikap politik PDIP,” kata Basarah. 

Penolakan PDIP juga mengarah ke narasi presiden dipilih MPR. Jikapun ada amandemen, pihaknya hanya menghendaki yang terbatas, yakni supaya MPR bisa menetapkan GBHN. 

“Hanya menambah satu ayat di pasal 3 UUD 45, yaitu MPR diberikan wewenang untuk menetapkan haluan pembangunan nasional.” 

Tak sejalan, massa pemilih PDIP justru bersikap lain. Survei nasional SMRC memperlihatkan, ada 66 persen yang setuju/sangat setuju dengan pendapat bahwa Jokowi bisa kembali menjadi calon presiden untuk ketiga kalinya di pemilihan 2024 nanti. 

Dukungan besar turut datang dari partai non-parlemen (60 persen), PAN (53) persen, dan NasDem (52 persen). Sementara yang getol menolak—tentu saja adalah Gerindra dan PKS (masing-masing 78 persen) serta Demokrat (71 persen). 

Demikian hal di sisi pemilih capres. Sementara pendukung Prabowo (86 persen) dan warga yang kurang puas/tidak puas dengan kinerja Jokowi (80 persen) menolak, pemilih Jokowi (55 persen) malah mendukung. 

“Jokowi atau mati.” Begitu kira-kira.

 

 

Oleh: Maman Suratman / Mahasiswa Filsafat UIN Yogyakarta asal Mamuju, Sulawesi Barat

 

 

Sumber: nalarpolitik.com

Komentar

Jangan Lewatkan