oleh

Karena Hadirmu (Part 1)

-Cerpen-187 views

Asha adalah seorang gadis berambut panjang yang cantik. Ia tinggal berdua dengan ibunya di sebuah desa daerah Bogor. Ayahnya menderita penyakit kronis dan ibu Isna (Ibunya Asha) sampai meminjam uang yang cukup banyak untuk menyembuhkan penyakit ayahnya namun takdir berkata lain, ayahnya tidak dapat diselamatkan.

Empat bulan setelah kematian ayahnya pada suatu hari…

“Isna, keluar kamu! Mana hutang yang telah kau pinjam” teriak seorang laki laki paruh baya yang berdiri di depan pintu rumah Asha. Dia adalah pak Hantoro seorang rentenir kejam di desa itu bersama tiga anak buahnya.

“Maaf saya belum punya uang untuk membayar hutang itu,” ucap ibunya Asha.

“Aaaagh dari kemarin-kemarin kau hanya bilang begitu,” ucap pak Hantoro sambil menampar ibunya Asha. Sontak Asha yang baru saja pulang sekolah pun berlari dan segera menghampiri ibunya.

“Ibu, ibu tidak apa apa kan,” ucap Asha khawatir.

“Baiklah Isna aku ada satu saran untukmu, jika kamu rela putrimu menikah denganku maka aku akan menganggap hutang-hutangmu lunas,” ucap pak Hantoro.

“Tidak! Asha tidak akan menikah sebelum ia lulus SMA,” jawab ibunya Asha.

“Baiklah, saya akan menunggu hingga ia lulus,” ucap pak Hantoro sambil meninggalkan Asha dan ibunya.

Keesokan harinya di sore hari…
“Asha kemari ibu ada kabar gembira untukmu,” ucap ibu Asha yang baru saja pulang mencari pekerjaan.

Asha pun langsung mengahmpiri ibunya “lbu mendapat tawaran pekerjaan nak gajinya cukup besar tapi ibu berkerja di luar negeri,” sambung ibunya.

“Apa! Lalu bagamana denganku bu apa ibu tega meninggalkanku sendiri? Aku tidak mau sendiri di sini bu aku takut kalau tiba tiba pak Hantoro…”

“Ibu kan belum selesai bicara. Kamu tidak akan tinggal di sini nak. Tadi ibu bertemu dengan bu lcha kau tahu ibunya Aman? kau akan tinggal di sana”

‘Aman siapa dia?’ batin Asha

Aman adalah teman Asha sewaktu kecil mereka pernah tetanggaan. Namun Asha tidak ingat siapakah Aman itu apalagi ibunya wajar saja karena Aman pindah waktu usianya masih 5 tahun sedangkan Aman sudah berusia 7 tahun saat itu, tapi ia harus mematuhi ibunya dari pada ia sendiri di rumah.

Dua hari kemudian di pagi hari Asha dan ibunya pergi ke alamat yang telah diberikan ibu lcha hingga akhirnya mereka sampai ke alamat tersebut dilihatnya sebuah rumah besar dan mewah lengkap dengan halaman yang cukup luas pula.

Awalnya Asha dan ibunya tidak yakin kalau itu memang alamat yang benar tapi setelah bu lcha keluar dan mempersilakan mereka masuk baru ibunya yakin kalau itu memang alamat yang benar.

Mereka berdua bercakap-cakap hingga akhirnya ibunya Asha harus pulang dan menitipkan Asha pada ibu Icha dan berjanji akan kembali lagi dalam waktu tujuh hari untuk memastikan bahwa Asha betah di rumah itu.

Setelah ibunya pulang Asha malah membantu mengerjakan pekerjaan rumah dengan para pembantu disana mulai dari mencuci piring, menyiram tanaman sampai menyiapakan makanan.

Berulang kali bu Icha melarang Asha untuk melakukanya namun Asha tetap saja bersikeras. Sorenya Aman pulang dan berteriak di ruang tamu.

“Bi Siti,” teriak Aman di ruang tamu. Entah ia baru darimana yang jelas ia jarang ada di rumah.

Karena Bi Siti sedang belanja ke pasar akhirnya dengan terpaksa Asha yang menghampiri Aman. “Bi Siti tidak ada di rumah ia sedang belaja ke pasar,” ucap Asha.

“Kau siapa?” tanya Aman
“Aku…”

“Kau pasti pembantu baru disini kan” Ucap Aman memotong perkataan Asha. “Kalau gitu bawakan aku makanan buatkan aku teh juga! Gak pake lama,” lanjutnya.

‘Biarin deh apa boleh buat daripada aku diusir dari sini’ batin Asha. Akhirnya Asha pun terpaksa menurutinya.

Setelah membawakan makanan dan membawakan teh Asha langsung kembali menghampiri Aman. Tapi saat itu juga ibu Icha datang mengetahui semuanya dan memarahi Aman.

“Aman! Dia itu bukan pembantu disini melaikan tamu jadi kamu tidak pantas menyuruh-nyuruhnya” bentak bu Icha pada Aman

“Ooh. Aku pikir dia pembantu baru,” jawab Aman dengan entengnya.

“Sudahlah tante tidak mengapa lagian saya juga sedang nggak sibuk kok,” ucap Asha dengan suara lembut.

Sikap Aman pada Asha cuek banget. Jangankan ngobrol parahnya ia juga tidak menanyakan namanya. Tapi tujuh hari kemudian ibu Isna datang kembali untuk memastikan Asha betah di sana yang membuat sikap cuek Aman berubah.

“Tante lsna, apa kabar? Tumben tante kesini ada urusan penting ya? Oiya tante sendiri aja nih anak tante mana yang dulu suka main sama aku waktu kecil?” Tanya Aman yang terus menerus setelah membukakan pintu untuk bu Isna.

“Ibu!” Teriak Asha sambil berlari.
‘Ibu? Jadi dia dia anak tante lsna yang dulu selalu bermain denganku, mengapa selama ini aku tak pernah menyadarinya,’ batin Aman

Setelah tante Isna pergi karena besok ia harus berangkat ke luar negeri Asha menangis di kamarnya dan memikirkan bagaimana ia akan betah tinggal di rumah ini selama berbulan bulan sementara dalam tujuh hari saja ia tidak betah. Akhirnya Aman pun menghampirinya

“Kamu nggak perlu nangis nanti cantiknya ilang loh, ibumu juga pasti akan kembali lagi kan. Oiya ngomong ngomong siapa namamu?” Ucap Aman dengan nada lembut.

“Aku Asha Prishilla kamu bisa panggil aku Asha. Namamu?”

“Namaku Salman Aditya. Biasanya semua orang memanggilku Aman. Kau ingat dulu waktu kita kecil kita selalu bermain bersama, oiya saat aku pindah kamu kasih kalung ini untukku katanya sebagai hadiah ulang tahun,” ucap Aman sambil memperlihatkan kalung yang ia pakai.

Namun Asha hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Sejak saat itu Aman dan Asha menjadi sahabat yang tak terpisahkan kemana pun Asha pergi Aman selalu mendampingi sekaligus melindunginya begitu pun sebaliknya.

Sejak saat itu pula Aman jadi betah di rumah. Walaupun mereka selalu bersama tapi mereka tidak selalu berdua terkadang selalu ditemani oleh Candra atau Bagas sahabatnya Aman.

Kebersamaan itu membuat perasaan Aman berubah ia menyayangi Asha lebih dari seorang sahabat, diam diam Aman mencintai Asha tapi ia tidak berani mengungkapkanya. Berulang kali ia mencoba untuk mengungkapkan perasaanya namun berulang kali itu pula ia gagal.

Di acara ultah pernikahan orangtuanya itu Aman berencana untuk menyatakan persaannya pada Asha tapi ia tidak berani karena di tempat itu sangat ramai, ia pun mengambil kertas dan menuliskan perasaannya namun ia salah.

Kertas yang seharusnya di lempar pada Asha malah ia lempar pada ibunya sendiri, seketika ia panik takut ibunya memarahinya namun ibunya malah mendukung.

Di sisi lain Asha sangat kaget karena pak Hantoro juga ada di sana hingga ia lari ke loteng rumah. Melihat Asha lari Aman pun mengikutinya.

“Kenapa lari?” Tanya Aman
“Lagi cari udara segar,” ucap Asha bohong.

Setelah itu mereka sibuk ngobrol sampai Aman lupa bahwa ia sebenarnya akan menyatakan cintanya ‘pokoknya besok harus berhasil,’ batin Aman.

 

 

Oleh: Kirana Beta FK

 

 

Sumber: cerpenmu.com

Komentar

Jangan Lewatkan