oleh

Kematian bagai Gugur Daun

-Cerpen-119 views

Kematian tetaplah kematian. Ia tidak bisa divaksinasi atau diobati.

Leidsch Dagblad, 10 Agustus 2021, memberitakan kelahiran di kota Leiden (geboren in Leiden). Salah satunya Emilliana Marta Edna dv Mikael Migu Soge en H.L.A. Fricke. Emi lahir di Geboorthuiz van LUMC (Leiden University Medical center). Lahir tepat di minggu ke-39 5 hari. Berat badan (Gewicht) 3,165 kg, 49 cm. Didampingi oleh Eline, Paula, Hannie dan Papa, ayah Emi.

Di negeri Tulip dan Angin kelahiran berbunga. Saya gembira, tapi tertegun. Covid-19 masih aktif di dalam dunia. Tapi toh, hidup tak punah oleh pandemi. Pukul 01:29. Di rumah sakit Universitas Leiden (LUMC), kemenakan saya lahir dengan selamat. Saya beri pesan untuk saudara saya yang sudah punya momongan.

“Emson dan Hanna, selamat. Kalian sudah buktikan bagi dunia bahwa kalian adalah partner Tuhan sebagai co-creator Allah, melanjutkan peciptaan di bumi. Kelahiran seorang bayi ke dalam dunia merupakan peristiwa yang agung. Kelahiran itu keajaiban. Lumrah di dalam pengalaman, tetapi mengagumkan sebagai sebuah kejadian. Itu tak pernah sama dengan rekayasa teknologi. Betapa kehidupan, kelahiran begitu memesona dan agung. Selamat menjadi orang tua untuk buah hati kalian. Saya bahagia sekali, bahwa kita yang serahim ada yang sudah punya anak dan karena itu saya sudah punya kemenakan.”

Peristiwa kelahiran Emi tetap jadi memori privat saya. Ia menyentuh kesadaran saya dengan penuh pesona. Tapi hari-hari ini, kematian terus-menerus fenomenal. Kompas, Senin 23 Agustus 2021, di halaman depan tertulis judul berita, Puluhan Ribu Anak Kehilangan Orangtua.

Tjandra Yoga Aditama dalam opininya “Covid-19 dan Kemerdekaan” (Media Indonesia, 23 Agustus 2021) menulis, “Sampai 20 Agustus, Indonesia mencatat total 3.967.048 dan 125.342 warga kita yang wafat. Data dunia pada Agustus 2021 menunjukkan ada total 209.876.613 kasus di dunia dan 4.400.284 yang wafat akibat covid-19 di seluruh dunia.”

Ah, kematian bagai gugur daun. Sedemikian berderai. Bergerai daun-daun. Gugur helai demi helai. Ranting-ranting layu. Pohon kehidupan gegas meranggas. Alam hampir tiada kicau. Di rumah biara yang sunyi, saya tak lekas tenteram. Suasana hati tak menentu. Di depan mataku data itu berbicara: 125.342 warga Indonesia meninggal dunia dan warga dunia yang berpamit pulang berjumlah 4.400.284.

Apakah kematian bisa dibatalkan? Mengikuti term literatur Yuval Noah Harari, dari Sapiens ke Homo Deus, saya hampir yakin dengan keagungan rasionalitas manusia di dalam sejarah. Manusia sebagai subjek rasion bisa menguasai alam. Ia satu-satunya tuan rasional yang berpotensi dewa. Dalam Homo Deus – A Brief History of Tomorrow (2015) Harari menulis bahwa pada abad ke-21, manusia kemungkinan akan melakukan upaya serius menuju imoratalitas.

Contoh yang paling terkemuka adalah para gerontology Aubrey de Grey dan ilmuwan serbabiasa Ray Kurzweil (peraih US National Medal Of Techonology and Innovation tahun 1999). Pada 2012, Kurzweil ditunjuk menjadi direktur rekayasa di Google, dan tahun berikutnya Google meluncurkan anak perusahaan yang diberi nama Calico dengan misi “mengatasi kematian”.

Saya kurang simpatik dengan reduksionisme sains modern. Jika kematian bisa dibatalkan atau diperbaiki, ia hanya sebuah persoalan teknis mekanis. Fakta tubuh manusia hanya materi organis. Kompleksitas tubuh dikuantifikasi. Sains selah-olah sudah tiba pada renik bahwa ia sudah menemukan basis terdalam dari segala sesuatu. Sains menyederhakan yang kompleks dan mengeklaim diri sebagai pemenang.

Secara eksistensial dan ontologis kematian tak pernah bisa direduksi oleh ilmu pengetahuan. Tidak ada eksperimen di dalam sains yang membuktikan bahwa kematian (manusia) bisa dibatalkan atau difalsifikasi. Kematian itu conditio humana. Faksitas di dalam historisitas. Tak terelakkan. Determinisme dari keterbatasan manusia di tengah alam.

Vaksin diberikan untuk masyarakat, penanganan medis dan pengobatan pasien covid-19 diperketat, tetapi kematian tetaplah kematian. Ia tidak bisa divaksinasi atau diobati, apalagi di-rapid test. Saya kemudian hampir yakin dengan pesimisme Chairil Anwar pada bait terakhir Derai-Derai Cemara.

Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tidak terucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah

Dan tahu, ada yang tidak terucapkan. Hidup ini (termasuk di dalamnya covid-19) mekar dengan seribu perumpamaan. Kita hanya berjuang menciptakan analogi untuk sejauh dapat mejangkau kemungkinan-kemungkinan yang hampir tiba pada transendensi.

Saya respek terhadap analogi di dalam puisi dan filsafat. Analogi di dalam puisi bersifat terbuka (analogi kreatif) yang melimpahkan beragam makna dan penafsiran. Analogi di dalam filsafat bersifat tertutup (analogi logis-sistematis atau mengutip Descartes, clara et distincta) karena mengutamakan konsistensi dan koherensi di dalam penalaran.

Lalu apa kebenaran di dalam dunia ini? Kebenaran itu proses pemahaman. Itu hanya mungkin lewat bahasa. Bisa jadi, segala sesuatu adalah bahasa. Kebenaran di dalam dunia sama sekali bukan sebuah finalitas atau kategori terakhir yang apa adanya (das Sollen). Kebenaran objektif butuh eksperimen. Kebenaran subjektif butuh refleksi. Kita terus mencari makna, dan pencarian ini adalah pencarian yang memiliki dinamika analogis.

Kita bergerak di dalam tataran fenomenologis untuk mendekati yang oleh Kant disebut noumena (Das Ding an sich). Kita menemukan impresi kesamaan yang lebih kuat dan mempertegas diferensiasi dengan kosakata equivocal (tutur kata analogis), bukan univocal.

Kita berada di dalam dunia sama sekali tidak secara substantif dan final. Kita adalah pencari makna. Kebenaran adalah proses pemahaman, bukan penemuan. Namun kita bermegah di dalam sains dengan reduksionisme yang juga bisa otoritatif, filsafat dengan dialektika yang mungkin juga hiperbolis.

Saya berpikir bahwa sastra lebih berguna karena ia tidak mengeklaim bahwa ia memiliki kebenaran. Kebenaran di dalam sastra adalah permainan bahasa. Sebuah proses kreatif yang menghibur dan memberikan katarsis. Namun bisa juga sastra, seperti puisi tidak cukup beri jawaban. Seni mungkin tak tepat jua.

Theodor W. Adorno bilang, menulis puisi sesudah Auschwitz adalah kebiadaan (Nach Auschwitz ein Gedicht zu schreiben, ist barbarisch). Bahasa artistik tentang penderitaan memiliki legitimasi tiranik yang mempermiskin kenyataan atau memperkaya secara berlebih sehingga memungkinkan permainan bahasa yang menghibur.

Namun demikian Adorno tetap mengakui juga bahwa para korban mesti diingat sebab “penderitaan yang berkepanjangan mempunyai hak untuk diungkapkan sebagaimana orang yang dirajam mempunyai hak untuk berteriak” (Das perennierende Leiden hat soviel Recht auf Ausdruck wie der Gemarterte zu brüllen).

Apakah mesti diucapkan kalau akhirnya ada yang memang tak terucapkan? Ludwig Wittgestein menulis sebagai proposisi terkahir dari bukunya Tractatus Logico-Philosophicus – 7 “Tentang apa yang tidak bisa dikatakan, seharusnya kita diam”. Yang mistis dan misterius, yang tremendum et fascinosum, dari hidup dan mati manusia tak pernah diselesaikan bahasa.

Bagai pdi merunduk, manusia belajar berdiam diri. Mengapa? Wittgentsein sendiri menjawab di dalam buku yang sama: (5.6) – “Batas bahasa saya adalah batas dunia saya”.  (5.61) – “Kita tidak bisa memikirkan apa yang tidak bisa kita pikirkan; oleh karena itu kita juga tidak bisa mengatakan apa yang tidak bisa kita pikirkan.”

Lalu saya memilih posisi mana. Saya menulis puisi sebab puisi adalah sabda dari lubuk hati di jalan sunyi, seperti doa yang meneguhkan, seperti air suci yang menyucikan batin. Martin Heidegger mungkin benar bahwa puisi memungkinkan eksistensi autentik “karena memiliki karakteristik yang paling mampu menghadirkan makna dan melimpahi dan meneguhkan kesadaran.”

Saya ingat berita di kompas itu, Puluhan Ribu Anak Kehilangan Orangtua. Lalu saya hanya menulis puisi ini.

Air Mata Meleleh di Kaca Jendela

Kali ini kudengar dering air mata yang berbeda
Dari dekat sekali kehilangan itu berderai
Dinding pasrah memantulkan resah yang menyala
Lantai lapang menyimpan hentakan tangis duka

“Ia kehilangan ayah!”
Terlontar lewat jendela
Jatuh dan membasahi rerumputan

Kematian bagai gugur daun. Musim hidup umat manusia. Meski ranggas akan tumbuh kembali. Demikian Emi negeri di Belanda terus bertumbuh berkembang. Juga di tempat ini, Wisma St. Arnoldus Janssen, Nita Pleat, Maumere, saya masih menulis puisi-puisi.

 

Oleh: Edy Soge / Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, dan anggota Kelompok Menulis di Koran Ledalero (KMKL)

 

Artikel ini sudah dipublish di nalarpolitik.com

Komentar

Jangan Lewatkan