oleh

Kisah Terindah

-Cerpen-28 Dilihat

Dari hitungan jejak terakhirku bahagia, telah terasa semakin menjauh perjalananku meninggalkannya. Dan kini kumulai melewati jalan terjal, menuju waktu terakhir dari sebuah perjumpaanku denganmu. Entah, aku pun masih belum sempat menanyakan pada diriku.

Sanggupkah kaki ini melangkah lebih jauh lagi?

Kini, udara perpisahan telah kuhirup, hingga aku merasa sesak untuk menghembuskan nafasku, seakan paru-paruku telah kuyup bersama siraman airmata hatiku yang tiada hentinya mengeja kenangan silam dengan tangisnya.

Gemersik angin pagi nan sejuk di Bukit Ranaka masih berusaha menenangkan kegundahanku, namun hanya sia-sia, tiada sedikitpun hati ini terbawa akan kesejukannya. Mungkin derita memang selalu menang. Meski hari ini aku masih menggenggam sedikit waktu bersamanya namun tak dapat kujadikan waktu itu sebagai kesempatan untuk menghapus air mataku.

Telah sekian tahun, sejak pertama kali seseorang yang memperkenalkanku dengan cinta hingga saat ini nama itu masih belum tercoreng dari hatiku. Dialah Marta, yang pertama kali mengajarkanku bagaimana menghiasi hati, ia adalah seorang gadis yang terpandang sederhana, namun bagiku sudah lebih dari sederhana.

Tatapan matanya yang membuatku susah untuk kulupakan begitu saja, akan tetapi segala yang kujalani bersamanya akan segera berakhir dengan perpisahan yang cukup panjang, karna sudah tinggal beberapa bulan lagi masa sekolahku akan habis, sedangkan aku hanya dapat dengan mudah menjumpainya sewaktu sekolah, di saat luar sekolah sangat jarang bagiku untuk melihatnya.

Saat api kehidupan membara dalam hati dan membakar segala kebahagiaan yang tersimpan di dalamnya, lenyap. Seakan tiada lagi harapan untuk memadamkannya. Hanya berkawan pasrah untuk membiarkan segalanya hangus terbakar menjadi abu kenangan.

Demikianlah yang tengah kurasakan saat ini, tiada lagi yang dapat kuperbuat selain mengais pengharapan pada Tuhan agar kelak Ia ciptakan kebahagiaan yang lain bersamanya setelah perpisahan ini.
Di bawah semburat terik sinar matahari, kujalani perjumpaanku yang terakhir dengannya.

Dialah gadis pertama yang melukiskan arti cinta yang sebenarnya dalam hatiku, namun tak pernah aku menyentuhnya bahkan berada di dekatnya pun hanya saat ini sebagai waktu pertama kali aku berada di sampingnya dan mungkin untuk yang terakhir kali sebelum perpisahanku nanti dengannya.

“Sebentar lagi engkau lulus dan kita akan berpisah sekolah, tak mungkin kita seperti ini lagi, Fan.” Kata-kata itu terdengar sangat memilukan, ia memalingkan wajahnya dari tatapanku dan menghapus bulir air mata yang mengembun di kelopak matanya yang indah itu, hingga aku pun tak kuasa menguasai suasana. Belum sempat aku berkata-kata, ia melanjutkan perkataannya.

“Sungguh, hati nurani akan terasa sangat sulit untuk menerima kenyataan ini, bagaimana denganmu Fan?” pertanyaan yang mungkin ia sudah mengetahui jawabannya, namun aku mencoba mencari kata yang pas untuk menjawabnya.

“Biarkan ujung celurit mengancam urat leherku, aku takkan peduli selagi gagangnya dalam kendali tanganku, namun saat waktu mengancam kebersamaan kita, tiada lagi yang dapat kugunakan untuk mengemasi air mata, meski waktu itu dalam rangkulanku. Tentu hatiku sebagaimana hatimu itu,” ucapanku membuatnya sedikit tersenyum seraya menatapku.

Sungguh indah, bening bola matanya yang masih terlihat basah oleh airmata itu seakan telah memadamkan kobaran api masalah dalam hidupku, membunuh keindahan Bukit Ranaka.

Sebuah bukit yang sudah lama menjadi salah satu tempat favoritku itu, lantaran susananya yang sejuk dengan kelebat angin kecil yang membelai tubuhku dan iringan nyanyian ragam kicau burung yang begitu merdu, namun bagiku segalanya telah terkalahkan oleh keindahan tatapan sepasang mata dari seorang Marta yang seakan membawaku ke dalam kehidupan baru.

Sekalipun hanya beberapa detik, namun semua itu telah cukup meredakan sesak dalam hatiku. Ingin sekali aku memiliki pemilik mata itu seutuhnya.

“Rifan?” diantara gemersik angin sore, suaranya terdengar lembut menyebut namaku.

“Iya Marta?”

“Apa yang kau harapkan dariku setelah kita berpisah nanti?” tanyanya penuh harap.

“Aku hanya mengharapkan keutuhan pertalian kita, semoga perpisahan kita nanti hanya akan menjadi penjeda semata dari kekekalan hubungan kita ini.”
“Amiin.”

“Lantas, jika aku menanyakan hal itu terhadapmu, apa yang kau harapkan Marta?” tanyaku padanya yang sedang mengusap muka setelah mengamini do’aku tadi.

“Aku pun mengharapkan demikian, namun masih ada harapanku yang lain padamu” “Sebutkanlah” katakuku penasaran.

“Aku berharap kelak engkau tak pernah merokok Fan.” Pernyataan itu sedikit membuatku tersenyum.

“Akan kuusahakan harapanmu itu bersama do’amu, Marta.” Jawabku sambil tersenyum padanya.

* * *

Retak, remuk, lalu kemudian hancur kebahagiaan ini menjadi kepingan luka yang bertaburan, tak ada lagi pembendung airmata seperti dahulu. Hari ini adalah hari terakhirku menginjakkan kaki di tanah Manggarai untuk pergi meneruskan pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Jawa.

Benar apa kata Marta, hati nurani akan terasa sangat sulit untuk menerima kenyataan ini. Semua barang-barang telah siap berangkat menemani perjalananku. Setelah aku pergi bersalaman pada kedua orang tuaku, kerabatku, dan tetangga terdekat, aku menyampaikan pesan pada Anton sahabatku yang selalu setia mendengarkan curhatku tentang Marta.

“Ton, sampaikan salam terakhirku pada Marta, dan katakan padanya kalau aku akan pergi sebentar, jangan bosan untuk menunggu kedatanganku,” ucapku pada Anton.

“Ma’af Fan, aku tidak bisa,” jawaban Anton mengundang tanya di benakku.
“Mengapa?”

“Aku tidak diperbolehkan oleh Marta untuk menyampaikan sesuatu darimu kepadanya sebelum kamu membaca isi surat ini darinya.” Aku sangat kaget mendengar pejelasan Anton. Sambil kuterima sebuah kertas putih terlipat rapi dari tangan Anton, karna penasaran kumulai membuka lipatan kertas itu untuk segera membaca isi suratnya.

“Sebaiknya kau baca ketika dalam perjalanan nanti,” kata Anton sambil menghentikan tanganku yang sudah hampir membuka semua lipatan kertas putih itu.

“Memangnya kenapa Ton?” tanyaku penasaran.

“Entahlah, itu juga perintah dari Marta mantan kekasihmu itu,” aku semakin tak mengerti dengan sahabatku itu yang tiba-tiba mengatakan Marta adalah mantanku, bukankah dia yang pertama kali kuberitahu bahwa aku mencintai dan menyayangi Marta, dan belum pernah aku menceritakan padanya kalau Marta itu telah menjadi mantanku.

“Mengapa kau bilang Marta itu adalah mantanku Ton?, kapan aku menceritakannya padamu?” tanyaku padanya, ia tersenyum mendengar pertanyaanku.

“Semua jawabanmu ada dalam surat itu.” Katanya lalu pergi meninggalkanku dengan beribu tanya yang membuatku teramat penasaran.

Mobil pengantarku telah datang dan barang-barang sudah siap dinaikkan ke atas mobil. Tetapi belum berangkat menuju mobil itu, perasaanku masih berkecamuk tentang ucapan Anton. Ingin segera kubuka surat itu untuk kubaca isinya, namun aku tak berani, lantaran perintah Anton tadi adalah perintah dari Marta untuk membukanya saat dalam perjalanan nanti.

“Benarkah, Marta melarangnya untuk membukanya sekarang? Lantas mengapa Anton mengatakan bahwa Marta adalah mantanku?” gumamku pelan.

“Fan, ayo cepat naik ke mobil.” Suara Ibu menyadarkan lamunanku.

“Iya bu.” Aku pun bergegas bersalaman pada orang-orang sekitar sebagai simbol ucapan pamitku, kemudian aku melangkahkan kakiku menuju mobil yang sudah siap mengantarku menuju kehidupan baru dan meninggalkan kenangan-kenangan yang sudah berlalu.

“Semoga kerasan disana, jaga dirimu baik-baik Fan.” Suara orang-orang bergantian di sekitarku saat aku sudah sampai diatas mobil, aku hanya menanggapinya dengan senyuman pada mereka. Saat mobil telah dinyalakan kembali hatiku terasa sangat sakit menanggung perpisahan ini, hingga airmataku pun menetes, namun cepat-cepat kuhapus dengan lengan bajuku.

Surat dari Marta masih dalam genggaman tanganku, perlahan kubuka lipatan surat itu karena saat ini aku sudah sedang dalam perjalanan artinya aku sudah boleh membacanya, sebagaimana perintah Marta.

Dalam surat itu tertulis.

Selamat malam, semoga Tuhan menyertaimu.

Salam terakhirku padamu Rifan
Maafkan aku yang tak dapat ikut mengantarkanmu, meski gejolak untuk dapat ikut mengantarkanmu amatlah besar, namun tak mungkin pula aku meninggalkan sekolah.

Mungkin, kita sementara waktu ini akan menangis karena perpisahan, tetapi setelah itu pula kita akan sama-sama sadar bahwa takdir memang tidak menghendaki kita untuk bersatu. Setelah sekian lama kita megukir kebahagiaan bersama menjalani senyum dan airmata bersama dan saat inilah kita berpisah untuk selamanya sebagai akhir dari sejarah kita.

Aku tahu kau akan sangat terpukul dengan kenyataan ini namun biarkanlah semuanya berjalan apa adanya, kau telah pergi meninggalkan segala kenangan disini bersamaku, lantas aku tak kuasa menanggung semua itu, maka relakanlah. Aku akan segera berusaha menghapus semua kenangan itu dari hatiku dan aku akan menggantinya dengan yang baru…  Maafkan aku.

……Jalani hidupmu yang baru dan lupakanlah aku: Marta.

Tanganku gemetar hebat degup jantungku semakin kencang menahan air mata yang memberontak keluar, aku mengusap mukaku dengan kedua tanganku mencoba meredakan kobaran api yang membakar habis dendang hati.

“Tak pernah terbayangkan, Tuhan akan menuliskan takdir ini dalam hidupku, tetapi apalah daya tiada lagi yang dapat kuperbuat selain merelakan segalanya mengalir dan merekat dalam lembaran sejarahku. Marta, terima kasih atas semua yang telah kau berikan kepadaku dahulu, meski kini kau telah pergi aku takkan pernah melupakan kenangan kita, lantaran disanalah detik-detik terindahku tersimpan yang masih belum tentu akan kujumpai di lain waktu.”

Hati Rifan mewakili jiwanya yang saat itu sedang menjerit meratapi semua yang telah terjadi. Hingga mobil yang membawanya seakan telah tersesat di jalan berduri.

 

Oleh: Lalik Kongkar

Komentar

Jangan Lewatkan