oleh

Laki-Laki dan Rasa Takutnya

-Cerpen-151 views

Jalan raya hidup seperti biasa. Lampu-lampu jalan menyala bersamaan dengan lampu kendaraan yang tak sedikit jumlahnya. Menikmati suasana malam setelah hujan reda ini memanglah hal yang indah, apalagi ditemani seorang kekasih.

“Minumnya mau apa?”
Tanya seorang wanita sambil meletakkan 2 piring nasi goreng. Wanita yang sudah setahun menjadi kekasihku.

Sebulan sekali, kami selalu meluangkan waktu untuk berkendara keluar. Kemana saja. Tidak perlu malam Minggu. Intinya berdua, berkendara dengan Vespa menikmati suasana hingga tengah malam.

Mataku terpejam, suara yang selalu kutakuti sudah terdengar walaupun samar samar.

Pinggir jalan raya memang menjadi tempat favorit kami, namun tidak jarang bisa menjadi tempat paling menakutkan untukku. Setiap mobil ambulan yang melaju kencang, diiringi dentuman jantungku yang selalu saja tak kuasa mendengar suaranya. Suara yang paling aku benci, karena selalu mengingatkanku kepada detik detik kepergian ibuku.

Terasa sentuhan dingin membelai pipiku. Aku membuka mata. Melihat wajah wanitaku dengan senyum manisnya.

“Dia hanya lewat” ucap seseorang paling kusayang.

Aku memegang tangannya. Memintanya untuk duduk di sampingku dulu sampai suara itu hilang.

“Keenan, kenapa kamu selalu begitu? Bukankah kamu pernah bilang kalau Tuhan itu baik? Dan bukankah manusia mati karena dipanggil Tuhan? Kenapa kamu benci jika mengingat kematian ibumu?”

Wanita itu berbicara dengan nada penasaran. Entah ini pertanyaan yang ke berapa kali. Dan entah untuk ke berapa kalinya aku tidak bisa menjawab.

“Nan, kematian itu ada ditangan Tuhan. Ibumu pergi, karena kasih sayang Tuhan. Mobil itu hanya mengantar jasad ibumu ke pemakaman. Dan itu semua adalah rencananya Tuhan. Jadi jika kamu ingin benci, kenapa tidak benci saja dengan Tuhanmu?”

Aku bisu mendengar kata-kata itu. Sangat jarang sekali wanita ini berkata menyeramkan seperti tadi.

Aku tidak pernah membenci Tuhanku. Aku hanya benci cara Tuhan mengambil ibu.

Dia melepas tanganku. Beranjak memesan minum yang padahal aku belum menjawab ingin minum apa.

Hp ku berdering.
“Halo za” ucapku menerima telepon Reza, teman akrab ku.

“Maaf pak, saya menemukan hp ini saat pemilik kecelakaan. Sekarang korban sedang di rumah sakit. Bapak bisa datang kesini?” Ucap seseorang yang tak kukenal suaranya. Aku berusaha untuk tidak panik mendengar kabar itu.

“Alamatnya dimana ya pak?” Tanyaku lalu langsung dijawab oleh suara diseberang sana.

Baru saja wanitaku sampai dengan 2 gelas es teh. Aku langsung berdiri.

“Loh, mau kemana?” Tanyanya bingung
“Kita ke rumah sakit. Reza kecelakaan” Ucapku sedikit ragu. Apa harus aku ke rumah sakit?

Aku membayar 2 porsi nasi goreng dan es teh yang sama sekali belum tersentuh lidah.

Di perjalanan, aku terus menutupi rasa panik dan takutku karena harus datang ke rumah sakit. Tempat paling aku hindari di dunia.

Namun sepertinya aku tidak bisa menyembunyikan apapun dari wanita ini. Dia mengetahui, merasakan, membaca apa pun yang ada di kepalaku.

“Kamu gapapa?” Suara itu selalu menenangkanku. Suara yang terdengar dari belakang, tepat di telinga kiriku. Walau terhalang helm rongsok bekas ayahku, suara itu tetap bisa terdengar jelas.

Aku meraih tangannya agar memelukku. Aku tak bisa menjawabnya dengan kata-kata. Jiwaku seperti hanyut di lautan langit malam yang tidak cerah ini.

Sampai di parkiran rumah sakit. Aku berkali kali menarik nafas agar rasa di dalam hatiku ini dapat kuatur. Telapak tanganku basah, aku yakin tangan wanita yang sedang kugenggam ini juga pasti merasakannya.

Setelah bertemu Reza yang ternyata mengalami patah kaki dan sudah tidur, aku dan wanitaku keluar rumah sakit berniat mencari minum. Aku terdiam, melihat mobil putih dengan orang-orang yang sibuk masuk kedalamnya lewat pintu belakang.

Tangan wanitaku mengajakku berjalan meninggalkan pemandangan itu. Pemandangan yang sudah tidak asing jika berada di rumah sakit.

Kami memutuskan untuk mampir di penjual ketoprak. Mengingat perut kami belum terisi apa-apa dan tidak akan kenyang jika hanya diisi air.

Baru saja aku meneguk air putih, melarutkan semua kecemasan, rasa takut dan benci terhadap rumah sakit ini. Wanitaku bersuara

“Keenan. Mati itu hal yang pasti. Kalau kamu takut mati, kamu tidak akan tenang menjalani hidup” ucapnya sambil mengaduk-aduk ketopraknya.

“Tapi aku tidak siap jika harus mati lebih dulu dibanding kamu, atau harus melihat kamu mati meninggalkanku lebih dulu. Apa boleh aku minta kepada Tuhan agar Ia memberitahuku kapan waktunya akan tiba? Agar tidak terasa menyakitkan seperti aku kehilangan ibu”

Ia berhenti mengaduk ketopraknya. Matanya menatapku dalam dalam menandakan bahwa ia ingin berkata serius.

“Aku ataupun kamu yang lebih dulu mati. Kita akan sama sama mati dan akan ketemu lagi nanti. Lagi pula, ada ataupun tidak adanya raga seseorang yang dicintai, perasaan itu akan tetap tumbuh. Kamu ngga akan kehilangan apapun”

Aku mengalihkan pandanganku dari matanya. Mengaduk-aduk ketoprak yang sebenernya sudah tak nafsu ku makan.

Wanita itu meraih tanganku. Dia selalu bisa mengambil hatiku. Aku kembali menatapnya. Dia bersuara lagi.

“Jika nanti aku mati lebih dulu, kamu harus percaya bahwa rasa cintaku untukmu tidak akan mati. Akan abadi, Keenan. Kamu jangan khawatir ya”

Malam ini, aku menatap mata wanitaku dalam dalam. Aku tersenyum membelai pipi Wanita cantik di hadapanku. Wanita yang akan selalu menjadi alasanku berani untuk hidup. Hidup dengan kata-kata indahnya yang selalu berhasil mengubur rasa takutku.

 

 

Oleh: Sri Purnamawati

 

 

Sudah dipublish di cerpenmu.com

Komentar

Jangan Lewatkan