oleh

Lembaga Kerapuhan

-Cerpen-217 views

Kita membutuhkan warga negara yang cerdas dalam mengidentifikasi kerapuhan institusional dan merumuskan taktik guna melancarkan serangan balik.

Apa maksud dari pernyataan, “siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu”? (Matius 5:39)

Berdasarkan penafsiran sesuka hati saya, pernyataan Yesus itu ingin menegaskan bahwa ketika kamu ditampar oleh seseorang, bukan berarti kamu adalah korban yang lemah dan si penampar adalah pelaku yang berkuasa.

Sebaliknya, ini berkaitan dengan relasi kuasa teologis yang kemudian, mengutip Carl Schmit, dilembagakan dalam institusi sosial politik.

Mari amati ilustrasi berikut:

Kemarahan bukan hanya sekadar ekspresi emosional. Kemarahan juga adalah cerita tentang ketidakberdayaan, ketidaklengkapan, dan kerapuhan.

Singkatnya, ketika Anda memarahi seseorang, entah bagaimana caranya, Anda akan merasa terluka dalam pengertian yang sulit didefinisikan. Itulah mengapa orang yang menampar pipimu, memukulmu, dan memarahimu, sebenarnya, adalah korban dengan luka yang belum mampu ia namakan.

Ilustrasi ini akan menjadi penting dan membawa dimensi berbeda ketika kita hubungkan dengan lembaga politik.

Jika Anda ingin menemukan institusi paling rapuh di dunia ini, bertandanglah ke negara dan birokrasi militer.

Mudah saja mengidentifikasi basis material kerapuhan institusi semacam ini. Caranya dengan menghitung berapa banyak jumlah kekerasan dan intimidasi yang mereka lakukan terhadap warga negara.

Jika ada aparat yang mengintimidasi warga negara, bukan berarti bahwa institusi birokrasi negara itu berkuasa. Sebaliknya, ia rapuh karena tidak sanggup mengomunikasikan urgensi kepada khalayak. Ia rapuh karena bahasa dan wawasannya terbatas untuk membuat warga negara mengerti pesannya.

Hari-hari ini, di hadapan moncong senjata, media massa, dan teknologi pengawasan, negara menunjukkan kerapuhannya secara terang benderang, di mana-mana, setiap saat. Semua itu dimulai dengan langkah paling sederhana: membuat dimensi kerapuhan itu menjadi lembaga.

Namun, kita mesti ingat bahwa se-totaliter apa pun seorang pemimpin, rezimnya tidak akan pernah menguasai warga negaranya secara total.

Lalu apa yang mesti dibuat?

Belajar dari robohnya Orde Baru, kita membutuhkan warga negara yang cerdas dalam mengidentifikasi kerapuhan institusional dan merumuskan taktik guna melancarkan serangan balik. Tanpa ada kecerdasan dan strategi taktis semacam itu, sampai kapan pun kita selalu merasa sebagai korban dari kejahatan tata kelola negara yang dibayangkan paling berkuasa.

Akhirnya, memberi pipi kirimu ketika seseorang menampar pipi kananmu bukan berarti kamu adalah orang yang rendah hati; yang selalu ikhlas menerima apa pun yang terjadi. Sebaliknya, itu adalah cara melawan sejak dalam pikiran.

Tidak ada perlawanan tanpa dimulai dengan mengubah cara berpikir, termasuk cara merumuskan problem.

 

Oleh: Hans Hayon / Mahasiswa dari Flores Timur, NTT. Buku kumpulan cerpennya berjudul ‘Tuhan Mati di Biara’ (Ende: Indah Indah, 2015) dan kumpulan esai ‘Mencari yang Pintang, Menugur yang Terguncang’ (Yogyakarta, 2019).

 

 

Sumber: nalarpolitik.com

Komentar

Jangan Lewatkan