oleh

Listrik, Energi yang Sangat Vital

-Cerpen-343 views

Listrik. Energi yang sangat vital dalam kehidupan manusia masa kini. Daya untuk menghidupkan Alat-alat elektronik yang dipakai manusia untuk kesejahteraan hidup. Ketika daya ini hilang, banyak hal jadi macet. Terutama komunikasi, koordinasi dan kerja sama terhambat dalam rangka penanggulangan musibah. Ketika energi ini dipasok lancar, banyak urusan manusia berjalan baik untuk kesejahteraan pribadi maupun umum.

Maka saat Kupang lumpuh oleh badai, pasokan listrik terhambat. Macet. Karena kerusakan mencakup pula jaringan listrik di jalan-jalan. Beberapa waktu belakangan ini, Kupang menjadi seperti kota mati di malam hari. PLN tetap berjuang keras untuk memulihkan keadaan. Butuh waktu. Dan tidak pasti kapan selesai. Sementara kebutuhan akan listrik tak bisa menunggu. Maka genset menjadi pilihan dan solusi sementara.

Di toko-toko alat listrik, genset laku keras. Laris manis. Tapi juga pembeli meringis. Karena harga melonjak drastis. Ada yang pesimis, tak bisa beli. Ada yang optimis, tetap membeli. Ada yang menangis. Ada yang berjuang beli, dengan hati teriris. Hukum ekonomi cenderung tak kenal belas kasih dan solidaritas. Rada bengis, di tengah situasi tragis, tapi itulah yang terjadi. Hukum kasih agak ditepis. Ini perhitungan ekonomis. Bukan pertimbangan moralis.

Listrik. Membuat banyak orang tercekik. Tapi hidup terus berjalan. Manusia terus beradaptasi. Juga mencari solusi. Gerakan solidaritas sosial pun terus mendominasi. Pelan namun pasti, sinergi banyak pihak mengerucut pada solusi. Meski pasokan listrik masih terbatas.

Listrik itu energi. Kekuatan yang menggerakkan dan menghidupkan sarana elektronik dll. Semua jadi berfungsi dan melayani manusia. Tanpa listrik semua sarana itu tidak berfungsi. Banyak hal macet. Manusia mengalami kesulitan di tengah kemelut musibah.

Tapi kesulitan ini tidak mematikan manusia. Kekurangan energi listrik menyulitkan hidup manusia, tetapi tidak mematikan. Manusia masih bisa hidup. Dan inilah yang penting. Tetap hidup dan mampu beradaptasi dengan situasi.

Listrik itu energi. Manusia butuh energi ini. Tapi jangan lupa, manusia lebih butuh energi kasih yang bersumber dari Allah. Tanpa energi listrik, manusia masih bisa hidup. Tapi tanpa energi kasih, manusia bisa saling menghancurkan. Justeru dalam situasi musibah, biarpun ada krisis energi listrik, tapi energi kasih mesti tetap ada dan terus menguat.

Krisis listrik diterima dengan sikap realistis. Asal jangan terjadi krisis kasih. Krisis kasih justeru membuat manusia tega menjadi serigala bagi manusia lain. Bahkan dalam musibah bersama. Ini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Sialnya bertubi-tubi.

 

Oleh: Rm. Sipri Senda

Komentar

Jangan Lewatkan