oleh

Makanan Kaleng dan Air Mineral

-Cerpen-180 views

Aku, sambil mendekap makanan kaleng dan botol mineral yang kami curi, memejamkan mata, berharap batu itu lebih kuat daripada keberanianku.

“Keparat!” bentak suara di belakangku.

Kami berdua, sambil membopong beberapa makanan kaleng dan 4 botol mineral, berlari menembus pasar yang sumpek nan padat itu. Kami merangsek ke setiap celah-celah keramaian dengan tubuh mungil kami. Penjual itu makin dekat, dari suaranya aku pikir dia tinggal 5 langkah lagi untuk meringkus kami berdua.

Aku terus berlari. Doni berteriak, jangan lihat belakang, teruslah berlari! Namun suara Doni samar-samar menghilang, apakah dia tertangkap? Jangan-jangan dia tertangkap? Aku berusaha menghilangkan pikiran-pikiran itu dengan menggelengkan kepala tanpa mengurangi kecepatanku berlari.

“Hoy, anak kampret, maling anjing!” umpat suara di belakangku yang juga samar-samar menghilang.

Aku terus berlari kencang, tapak kakiku yang tanpa alas itu pun seperti tidak menapak tanah. Apa kau pernah berlari seperti itu? Berlari karena suatu hal yang sangat memengaruhi hidupmu? Jika pernah, aku yakin apa yang kau kejar merupakan hal yang sangat penting dalam hidupmu atau jika kau sedang dikejar, berarti kau sedang dikejar oleh mimpi paling burukmu.

Setelah berlari melewati beberapa blok di pasar itu, aku menemukan pintu rahasia kami. Iya, pintu rahasia yang akan menuntun kami menuju tempat persembunyian. Pintu itu merupakan tembok yang telah hancur, berlubang seperti gua tikus. Hanya badan-badan seperti aku dan Doni ini yang bisa masuk ke sana.

Aku melempar makanan kaleng dan air mineral itu, lalu melihat ke sekeliling untuk melihat apa persembunyian kami ini dilihat orang. Setelah aku pikir aman, aku masuk dan menutupnya dengan papan yang kami curi dari toko material 2 minggu lalu.

Aku terduduk lesu di pojokan ruangan berdebu dan apek itu, menyelonjorkan kaki yang kelewat batas pegalnya, sambil sesekali mengintip ke luar. Di mana Doni? Ketakutan kembali menyergapku, apakah dia tertangkap betulan? Aku melihat sekeliling dari celah itu, siapa tahu Doni lewat dan bisa langsung kubukakan papan agar ia langsung bisa menyelinap masuk.

Beberapa menit kemudian, aku melihat Doni keluar dari belokan gang, menuju ke sini. Aku tersenyum lega dan beranjak ke pintu untuk membukakan papan agar Doni bisa langsung masuk. Namun, sebelum aku beranjak, air muka Doni menunjukkan satu hal yang tidak beres.

Benar saja, tidak sampai 3 meter di belakangnya, penjual tempat kami mencuri makanan kaleng dan botol mineral itu berada tepat di belakangnya. Kali ini, ia membawa 2 temannya. Jika bukan karena ukuran badan dan kelincahan Doni, mungkin ia sudah akan tertangkap dengan sekali sapuan tangan penjual itu.

Tapi tiba-tiba aku seperti enggan membuka pintu. Dengan jarak yang begitu dekat itu, sia-sia saja tempat persembunyian ini. Jikapun Doni berhasil masuk, letak persembunyian kami tetap akan ketahuan. Doni harus mencari jalan memutar untuk mengelabui 3 orang itu. Tapi sepertinya ia enggan melakukan hal tersebut, raut mukanya menunjukkan itu.

Sial, kalau begitu, aku juga akan ketahuan, pikirku. Tapi jika tak kubukakan, Doni bisa tertangkap dan konsekuensinya bisa sangat fatal baginya. Tapi jika dia masuk, kemungkinan besarnya aku pun akan tertangkap.

Aku berpikir keras, sedangkan jarak Doni sudah makin dekat dengan pintu itu. Entah setan apa yang memengaruhiku, aku langsung merangsek ke pintu persembunyian kami dan menahan pintu itu dengan batu. Iya, ini pilihan yang aku ambil. Lebih baik salah satunya saja, bukan, yang tertangkap? Doni lah justru membawa petaka itu ke tempat persembunyian ini. Andai saja dia bisa lebih cepat, dia tidak akan terlalu dekat dengan mereka dan akan kubukakan pintu ini.

Tiba-tiba datang sebuah gedoran di pintu itu, kencang sekali. Batu penyangganya bergeser dan pintu terbuka sedikit. Sekujur tubuhku lemas karena ketakutan.

“Buka papannya!” teriaknya panik. “Faris!”

Aku, sambil mendekap makanan kaleng dan botol mineral yang kami curi, memejamkan mata, berharap batu itu lebih kuat daripada keberanianku.

“Faris! Anjing!” umpatnya, suaranya mulai serak. Dia tetap berusaha mendobrak papan itu.

Dari celah yang terbuka sedikit itu, mata kami bertemu. Mata kemarahannya dan mataku yang penuh dengan ketakutan bertemu. Ia masih mengumpatiku sambil menyebutkan hal-hal yang tidak terdengar jelas. Aku menutup kedua telingaku sambil mendekap hasil curian kami.

Beberapa detik kemudian, terdengar teriakan beberapa pria dewasa. Berbarengan dengan itu, teriakan Doni juga makin samar, umpatan-umpatannya.

Setelah agak lama, aku memberanikan diri mengintip keluar. Lengang, tidak ada orang sama sekali. Tiba-tiba rasa bersalah menghinggapiku, bodoh sekali. Aku membiarkan temanku tertangkap. Teman macam apa aku ini! Masih berurai air mata, aku meratapi tindakan bodohku ini. Jika memang tertangkap, harusnya aku juga ikut ditangkap.

Tapi seketika itu pula, muncul perasaan waswas. Bagaimana jika Doni memberitahu penjual dan teman-temannya itu lokasi persembunyianku di sini. Bagaimana jika Doni memberitahu mereka jika pencuri satunya lagi adalah temannya, yakni aku. Perasaan bersalah itu cepat sekali berubah menjadi perasaan takut kembali.

Sial, pasti setelah apa yang aku perbuat, Doni akan melakukan hal itu, pikirku. Saat itu juga, aku keluar dan mencari tempat persembunyian baru.

Selepas dua minggu dari peristiwa itu, aku tetap mencuri untuk memenuhi perutku. Selain itu, aku juga selalu mencari informasi tentang Doni, kalau-kalau aku bisa bertemu dengannya dan meminta maaf atas kepengecutanku ini.

Beberapa kali aku melihat pengumuman “pemotongan tangan”, namun di sana tidak terlihat wajah dan nama Doni. Perasaan waswasku akan dilaporkan Doni juga sama besarnya. Jangan-jangan, hukumannya ditangguhkan karena dia memberi informasi tentangku, dan sekarang mereka sedang mengejarku. Memikirkan itu membuatku bergidik. Kedua tanganku berkedut-kedut, seperti enggan terlepas dari lengannya.

***

“Jadi begitulah ceritaku, sampai akhirnya, minggu ini, hukuman itu akan tiba, aku tetap belum bertemu dengan Doni untuk mengungkapkan maafku,” ujar Faris lesu.

Faris melihat kembali jadwal hukuman “potong tangan” yang akan dihadapinya beberapa hari lagi. Setiap pelaku yang akan dieksekusi, akan dipertemukan dengan para pelaku yang sebelumnya telah dieksekusi. Kebijakan ini dimunculkan untuk menambah “ketakutan” ke para pelaku sebelum eksekusi. Pertemuan ini semacam diskusi antara yang “akan” dan yang “sudah”.

Namun, pertemuan ini dilakukan acak, tanpa mereka bisa memilih akan mengobrol dengan siapa. Begitu juga, mereka tidak boleh saling berkenalan nama.

“Malang sekali Doni itu, mempunyai teman tak berguna sepertimu,” ujar lelaki di depan Faris dengan nada yang mengejek.

Faris hanya tersenyum kecut, sambil sesekali melihat lengan lelaki itu yang sudah tidak bertelapak itu. Ia menatap wajahnya sambil sesekali mengernyitkan dahi. Lelaki ini memakai tudung yang menutupi setengah wajahnya. Orang tolol macam apa yang memakai hoodie di tengah cuaca terik seperti ini.

“Harusnya hukumanmu berbarengan dengan temanmu itu, bukan tertunda bertahun-tahun seperti sekarang ini,” ucap lelaki itu tak minat.

“Keberuntunganku habis minggu lalu,” ucap Faris tak bertenaga.

Setelah obrolan singkat itu, mereka berdua diam. Dua menit lagi sesi mereka habis dan Faris kembali masuk ke selnya.

Lalu, lelaki itu beranjak sambil membetulkan hoodie-nya dengan lengannya yang tak bertelapak. Ia berucap santai, “Oh iya, tidak sakit, jadi tidak perlu terlalu takut. Rasa sakitnya hanya seperti terjatuh saja.”

Faris menanggapi ocehan lelaki itu tanpa minat sedikit pun. Ia hanya membuang muka dari tatapan lelaki itu.

“Dulu, saat eksekusi, ada rasa sakitku yang melebihi eksekusi itu. Bahkan rasa sakit saat eksekusi itu termakan habis oleh rasa sakit yang kurasakan, rasa sakit ini melebihi eksekusi itu sendiri,” ucap lelaki itu.

Faris masih bergeming, ia seperti sudah tak minat sama sekali. Ia hanya memainkan jari-jarinya, yang beberapa hari lagi akan hilang dari pandangannya.

Saat lelaki itu hendak keluar, Faris juga beranjak menuju selnya. Sebelum lelaki itu menutup pintunya, sedang Faris masih merapihkan bajunya, lelaki itu berucap pelan, “Cobalah, saat eksekusi nanti, pikirkan teriakan-teriakan putus asa Doni. Siapa tahu, itu bisa menggantikan rasa sakit saat eksekusi nanti, Ris!”

Faris tersentak, namun pintu sudah keburu tertutup. Lelaki itu telah pergi.

 

Oleh: Raflidila Azhar

Komentar

Jangan Lewatkan