oleh

Medikalisasi Kehidupan

-Cerpen-182 views

Medikalisasi menjadi suatu proses yang berhasil ketika pengaruh narasi medis justru mengontaminasi seluruh aspek komunikasi kita.

Pandemi Covid-19 telah mengantar kita pada suatu normalitas baru. Kita memang harus terbiasa (kalau tidak ingin dibilang terpaksa) menerima situasi pandemi dengan semua kompleksitas kehidupan “baru” yang melilit kita secara multidimensi. Berbagai bidang kehidupan mesti dijalani dengan “gaya baru”.

Situasi mengharuskan kita demikian. Pandemi membuat semuanya berbeda; menciptakan sekat-sekat perjumpaan fisik, membangun kewaspadaan individual, menjarakkan aktivitas berbasis komunal dan membuka perjumpaan virtual. Di samping itu, seluruh instruksi medis mesti dijalankan secara tertib.

Namun, ada yang mesti kita sadari. Pandemi Covid-19 seakan tidak menunjukkan gejala hilang dari peradaban kita. Kita melewati titik terberat dan termudah hampir setiap saat. Waktu yang padat dan bermakna hanya dilewati dalam bayang-bayang narasi tentang naik turunnya angka kasus Covid-19. Dunia dan kehidupan manusia seakan ‘dibredel’ oleh narasi pandemi.

Lantas, normalitas baru yang sering diucapkan mendapat titik paling dilematis; kita menerima suatu normal baru yang penuh ketidakpastian atau ketakpastian adalah normalitas baru. Pada titik ini, hemat saya, titik tersulit kembali dipikirkan. Arah kehidupan ini dirasa amat tidak pasti.

Lebih dari ketidakpastian itu, kita kembali menemukan betapa pandemi ini mengangkat otonomi sains-dunia medik secara gamblang. Sadar atau tidak, dunia dikuasai otoritas sains yang mendasarkan diri pada observasi eksperimental dan verifikasi positifistik. Angka penyebaran Covid-19 adalah bukti verifikasi saintifik.

Dunia medis adalah data base yang sangat diandalkan. Pola pikir saintifik yang mendasarkan diri pada observasi selalu diandalkan dewasa ini. Pandemi Covid-19 adalah suatu “transfer” otoritas sains untuk menguasai kehidupan manusia karena sains memiliki andil besar dalam menentukan kehidupan kita hari-hari ini.

Posisi sains yang sedemikian strategis ini acap kali dilihat dalam perspektif yang sangat matematis. Sains adalah kekuatan pamungkas untuk memastikan daya dobrak pandemi. Sains adalah kalkulasi Covid-19 yang menentukan iklim kehidupan kita.

Sains sungguh suatu tumpuan kehidupan. Kita terkesiap, tatkala kekuatan sains dan penemuan-penemuan baru, entah mengekspos suatu kebaruan observasi maupun klaim bahwa dunia kita sedang diperparah oleh atribut politis-ekonomis yang dibawa oleh para globalis, begitu diandalkan.

Posisi sains memang tetap strategis. Di sini, dunia yang pelik ini kerap dilihat semata-mata dalam perspektif medis-sains. Pandangan ini diakibatkan oleh setiap klaim medikal yang sangat kuat. Kita hidup dan percaya pada narasi medis karena memang dunia kita—mau tak mau—adalah kendali medis. Tepat pada titik inilah medikalisasi kehidupan begitu terasa.

Secara sederhana, medikalisasi kehidupan ialah kehidupan yang selalu dipandang dari perspektif medis (Nurul Agustina: 2021). Menurut Agustina, dalam Kompas 28 Juni 2021, medikalisasi kehidupan ditandai oleh tiga hal.

Pertama, bahasa komunikasi kita setiap hari. Munculnya kosakata baru seperti lockdown, PPKM, PSBB, work from home, google meet, dll adalah indikasi bahwa fokus bahasa kita berubah. Bahasa sebagai pola pikir kita dan semacam “bentuk kekayaan” rasionalitas kita bergeser. Apa yang berubah? Language games kita dipengaruhi oleh klaim narasi medis terhadap peningkatan dan penurunan pandemi Covid-19.

Medikalisasi menjadi suatu proses yang berhasil ketika pengaruh narasi medis justru mengontaminasi seluruh aspek komunikasi kita. Kita menggunakan kosakata baru yang sebelumnya jarang bahkan tidak pernah digunakan. Seluruhnya ialah dampak dari sentralisasi medik hari-hari ini.

Arus utama komunikasi publik ialah persoalan medis-sains. Keputusan sains terhadap pandemi memengaruhi seluruh kebijakan global. Inilah dirasakan betapa kekuatan bahasa medik ‘mendobrak’ kehidupan kita.

Kedua, kalkulasi matematis yang berlebihan dalam mencermati angka peningkatan dan penurunan kasus Covid. Pikiran kita terkuras hanya dalam soal kuantitas Covid; berapa yang meninggal, dan berapa yang terpapar. Persepsi kita setiap hari bahkan dibentuk oleh angka-angka ini. Pola pikir kita direduksi menjadi pola pikir kalkulatif.

Konsentrasi kita dipengaruhi oleh angka. Maka, kehidupan yang demikian kompleks ini dipandang hanya dalam ihwal angka. Medikalisasi sebagai eksplisitasi peran sains sangat dominan dirasakan. Seluruh kebijakan publik adalah dampak dari naik turunnya angka Covid. Hampir pasti, seluruh kebijakan krusial yang diambil oleh siapapun ditentukan sepenuhnya oleh angka kasus pandemi.

Ketiga, Covid-19 mengubah pengalaman kita akan kematian sesama. Akibat penerapan aturan yang ketat, kita tidak boleh berada di dekat kelurga dan kerabat yang meninggal.

Kematian semata-mata adalah peristiwa individual. Kematian bukan lagi peristiwa komunal yang melibatkan massa. Manusia meninggal dalam kesendirian. Pemakaman diatur sesuai instruksi yang ketat. Hidup mendapat pendasaran dalam soal aturan medis. Ada medikalisasi kehidupan. Mengapa? Karena hidup dan mati kita diatur sesuai instruksi medis.

Medikalisasi kehidupan memang sesuatu yang wajar ketika dunia dihantam oleh pandemi. Virus memang hanya diobservasi lewat metode sains. Kehidupan manusia pun sangat ditentukan oleh penemuan sains terutama dalam hal medis. Kehidupan manusia dibantu bahkan dikendalikan oleh penemuan sains.

Namun, perlu juga disadari bahwa medikalisasi kehidupan yang radikal ini suatu identifikasi terhadap betapa kuatnya peran sains dalam kehidupan pada era modern ini. Tentang evidensi sains yang mendasarkan diri pada observasi, kelemahan sains secara gamblang ditunjukkan. Adelbert Snijders (2006) menulis, “Kebenaran diverifikasi oleh observasi. Di sinilah letak batasan ilmu alam yakni terbatas pada apa yang dapat diobservasi.”

Di hadapan pandemi ini, medikalisasi kehidupan justru harus “diperdamaikan” dengan aspek kehidupan lain. Kehidupan dewasa ini cenderung menganut suatu saintisme radikal ketika seluruh narasi publik dikendalikan oleh narasi saintifik.

Seluruh kehidupan adalah hasil observasi. Kehidupan ditentukan oleh observasi. Padahal apa yang diobservasi bisa juga belum sampurna benar. Sebatang pensil yang dicelupkan dalam air akan terlihat bengkok, padahal kenyataannya tidak demikian. Kita harus dengan teliti menelusurinya. Covid-19 dengan saintisme itu suatu gejala yang sangat benderang.

Medikalisasi hari-hari ini tumbuh subur. Situasi kita bukan hanya diperparah oleh Covid-19 melainkan narasi tentangnya. Apa yang diumbar ke publik adalah klaim medikal.

Kita memang dideterminasi oleh klaim medikal. Namun, ketepatan medikal itu tetap niscaya. Kita sedang mencari kepastian walau belum tentu mencapainya. Kita sedang dalam perjalanan mencari dan kepastian kita adalah mencari. Kita memegang apa yang benar karena telah diverifikasi, tapi (mungkin) jangan pernah menjadikannya doktrin komprehensif yang membenci kritisisme.

 

Oleh: Paul Ama Tukan / Biarawan SVD, Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Anggota Kelompok Menulis di Koran Ledalero (KMKL)

 

 

Sumber: nalarpolitik.com

Komentar

Jangan Lewatkan