oleh

Memaknai Sebuah Luka

-Cerpen-221 views

Aku mengamati lekat-lekat jingga pada ujung kuku yang tak jua hilang, sisa permintaan terakhirnya sebelum ia benar pergi tanpa mengucap satu patah kata. Sesekali ingatanku menari pada satu bait puisi milik almarhum Sapardi. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Namun kamu, sepertinya tak cukup dengan aku.

Bagaimana mungkin aku bisa setabah Hujan Bulan Juni, jika nyatanya perpisahan yang seharusnya disepakati selayak dulu memilih bersama namun malah berakhir dengan kebisuan dan kehilangan? Perempuan mana yang sanggup berkata baik-baik saja jika hatinya memang sedang terluka? Ada yang pernah bilang, kesedihan paling pilu tidak lagi bisa diekspresikan dengan airmata, namun hanya bisa tertawa hampir mirip orang bahagia, ah, atau bisa jadi gila.

“Ngelamunin apa sih, Bet? Markus lagi?” Dortea bertanya, sambil tangan kanan dia mengaduk-aduk matcha yang baru ia pesan itu. Aku menggeleng kecil, namun hal itu justru membuat Dortea semakin sepakat bahwa di kepalaku ini bayang Markus tengah menyelimuti. Kenangan dengannya berkelebat dalam angan.

“Terlalu istimewa untuk diikhlaskan?” Tanyanya lagi. Aku malas menjawab. Terlalu istimewa? Kupikir tidak. Tidak ada yang istimewa dari laki-laki yang  dengan sengaja menaruh hati, menyiramnya penuh kasih, lalu ditinggal pergi.

“Oke, tidak akan bahas dia lagi.” Dortea menyerah setelah mendapati muka masamku, mengingatkan dia untuk tidak membahas apa-apa lagi yang berhubungan dengan Markus.

Aku menikmati red velvet yang baru saja diantar oleh waitress, sembari mengamati lalu lalang motor dari dalam kafe yang sedang kami kunjungi selepas penat menggarap tugas akhir yang tak kunjung usai ini.

Lagi-lagi pikiranku jatuh pada pertemuan kali pertama kami. Mungkin kalian akan menganggapnya agak lucu. Ya, kami bertemu lewat aplikasi Facebook, yang pada waktu itu memang sedang ramai-ramainya. Adakah yang percaya? Cinta itu tumbuh karena terbiasa diperhatikan meskipun sama sekali belum bertemu? Istilahnya sih bucin online.

***

Singkatnya begitu. Kami akhirnya bertemu dalam keadaan kontras. Ia narapidana, sedangkan aku? Mahasiswi di salah satu universitas negeri di kota Malang. Mungkin orang akan menganggapnya sebelah mata, ketika seorang perempuan yang dianggap memiliki intelektual, kemudian malah jatuh hati dengan narapidana. Namun apa daya, kalian harus percaya bahwa kadang cinta lebih bodoh dari segala yang ada di bumi.

Kami berhubungan. Sering saling menanyakan kabar. Ia juga curi-curi untuk menghubungiku. Aku merasa begitu istimewa kala itu. Akhirnya aku memutuskan untuk bertemu, pertama kali, di tempat yang paling tidak diinginkan semua manusia: lapas.

Seperti sepasang kekasih yang lama tidak berjumpa, kami seolah-olah sedang merayakan rindu di dalam tempat paling tidak romantis, tapi kisah pertemuan kami bagai romansa dalam novel.

“Gimana kabarmu?” Tanyaku, sedikit malu. Iya, malu. Kemarin kami hanya saling menanyai lewat smartphone, dan kini harus berhadapan langsung.

“Baik. Sangat baik.” Ia sempat-sempatnya tersenyum, manis sekali. Setidaknya menurut pandanganku. “Kamu gimana, Sebet?”

Aku juga tak mau kalah, memamerkan senyum terbaik sambil menjawab, iya, baik sekali. Kami berbincang ringan, tertawa, berbagi kisah lucu yang bahkan tidak penting. Ya, pertemuan yang selanjutnya akan membuatku yakin, dia laki-laki baik, hanya saja, hari itu, ia tidak beruntung hingga bisa berada di tempat sempit tanpa keluarga ini.

“Sebet, dulu yang membuatmu yakin untuk memilih Markus itu apa? Kenapa aku selalu ragu pada semua laki-laki yang datang, sekalipun kami saling mengenal.” Dortea membuyarkan lamunanku perihal pertemuan dengan Dorus dulu. Aku kembali mengingat-ingat, alasan apa yang kemudian mengantarkan aku untuk menjatuhkan hati pada laki-laki tak bertanggung jawab ini.

“Berawal dari rasa kasihan, ingin support, kemudian jadi nyaman. Sederhana banget, kan?” ujarku. Dortea terdiam, mungkin tengah berpikir.

“Ternyata semudah itu orang jatuh hati.”

“Dan semudah itu pula ditinggal pergi.” Aku tertawa kecil, lebih tepatnya tawa miris. Menemani sedari susah, bukan berarti harus berakhir bahagia.

Dortea menatapku lama, “Menyesal?” Tanyanya kemudian.

“Tidak tau. Hanya saja sedikit sakit,” ujarku jujur. Aku bahkan masih ingat chat terakhir dengan ibunya Markus kala kami bertemu dan berkenalan di lapas. Ya, aku dan keluarga Markus sudah saling kenal, sering juga berbagi kabar, namun tetap saja tak berakhir sesuai dengan yang aku inginkan.

Aku juga masih ingat betul kala harus menempuh perjalanan panjang untuk menjenguknya sampai lapas di Kota Surabaya, aku masih ingat betul perbincangan dengan saudaranya Markus sewaktu bersama menjenguk di lapas. Aku masih ingat betul momen keluarga Markus mengantarkanku pulang.

Dan terakhir, sisa kenangan paling memilukan, ia dan keluarganya tak lagi berkabar, setelah Markus keluar dan setelah aku mengirim hadiah kecil untuknya. Bahkan sesederhana kata terimakasih, tak juga aku dapatkan.

“Tea, padahal jatuh hatiku begitu sederhana. Aku nggak pernah minta apapun dari dia, tapi kenapa harus pergi meninggalkan luka?” Tanyaku pada Dortea yang kini sibuk membalas chat WhatsApp yang kuyakini betul dari customer-nya.

Perempuan itu mengalihkan pandang dari smartphone ber-case pastel yang tengah dipegangnya, lantas menatapku lekat-lekat. “Dalam asmara selalu ada naik-turun, berhasil-gagal. Sama dengan siklus hidup, yang lalu biarlah berlalu, kita bisa petik apa yang ada dimasa lalu. Kalau manusia tidak belajar dari pengalaman, lantas, mereka harus belajar darimana?” Dortea masih menatapku, seolah-olah sedang menjadi ibu yang menasehati anaknya ketika merasa gagal.

***

“Nanti, setelah ini, tunggu beberapa bulan atau tahun berganti, kamu akan merasa bersyukur karena pernah patah hati sebab dia memang bukan laki-laki yang pantas untuk menjadi partner sepanjang hidupmu, Sebet.” Dortea meletakkan smartphone miliknya, menggenggam tanganku yang bebas di atas meja.

“Semua orang pernah terluka, namun yang paling hebat dari orang-orang itu adalah ketika ia mampu bangkit dan hidup dengan lebih baik. Ingat-ingat mimpimu sebelum ia datang, dan kejarlah lagi. Barangkali di perjalanan menuju mimpi itu, kamu akan menemukan seseorang lagi.” Dortea tersenyum kecil, dengan tangan yang masih menggenggamku erat. Dia kadang-kadang memang serealistis dan sehangat itu.

“Makasih, Tea,” ujarku tulus. Setidaknya hari ini hatiku sudah sedikit baik, mungkin besok akan jauh lebih baik.

“Jadi, Bet. Carilah laki-laki yang sanggup mencintaimu dengan sederhana, seperti dalam bait puisi dari almarhum Sapardi Djoko Damono.” Dortea lagi-lagi tersenyum, yang kemudian kusambut dengan senyum paling lebar, yang tak pernah aku keluarkan sejak hari itu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. (Alm. Sapardi Djoko Damono).

 

Oleh: Lalik Kongkar

Komentar

Jangan Lewatkan