oleh

Menakut-nakuti Anak

-Cerpen-189 views

Pernah dengar orang tua menakut-nakuti anak agar anak nurut?

“Ayo, mainnya jangan jauh-jauh, udah gelap. Sstt… di sono ada hantu lho…”

“Nggak usah ikut, mamah mau ke dokter. Kalo adek ngotot ikut, nanti di-cus lho sama bu dokter. Mau?!”

“Kalo rewel terus, ntar papah panggilin pak polisi, biar ditangkap trus dibawa…”

Manajemen menakut-nakuti dan mengancam anak model begini memang paling cepat bikin anak nurut. Cara ini, buat sebagian orang tua, dianggap efektif, praktis, murah, gurih dan renyah buat mengendalikan anak. Banyak yang melakukan turun-temurun tanpa mampir sebentar di terminal evaluasi.

Profesi-profesi mulia seperti dokter, tentara, polisi, bahkan Satpol PP ikut diundang secara imajiner dan dipaksa menerima job description baru untuk membantu para orang tua. Diberi status penting dengan tugas utama nyeremin bocah rewel, gakmo makan, ngotot ikut pergi, nggak nurut, dan lain-lain.

Kalau sosok-sosok mulia tersebut dirasa kurang mempan, para orang tua tersebut masih punya stock lain: monster, hantu, genderuwo, wewe gombel, banaspati, kunti, mak lampir, suster ngesot, glundung pringis, dan sejenisnya.

Saya mikir, berat nian tugas sodara-sodara setan itu, ya. Disudutkan dan difitnah mulu.

Memang teknik menakut-nakuti pada anak usia play group dan TK bisa dinilai efektif dan efisien. Cocok sama opini eyang Jean Piaget tentang fase pra-operasional yang salah satunya dengan munculnya pemikiran simbolik. Para krucil mulai mampu menghadirkan imajinasi dengan bantuan verbal maupun gambar.

Jadi kalau orang tua menyebut, “Sstt…mama pangilin pakde kumis lho,” si anak langsung mampu membayangkan sosok pakde yang dimaksud, satu paket komplit dengan bayangan kumis melintang, rambut gondrong, suara menggelegar, yang kalau ngomong biasa aja udah berasa nakutin.

Sama seperti saat orang tua menyebut kata “dokter”, si anak auto membayangkan sosok berpakaian putih yang berasosiasi dengan jarum suntik dan rasa sakit, seperti yang selalu digaungkan papa-mamanya.

Orang tua sukses mengendalikan dan mendisiplinkan anak dengan menggunakan strategi manajemen ancaman dan rasa takut. Murah, cepat, modal 1-2 kalimat, beres. Tapi apakah itu aman tanpa efek samping?

Jangan pernah lupa, anak-anak berkembang dengan cepat sementara kita ini lebih banyak jalan di tempat. Anak bertumbuh dan penalarannya berkembang pesat. Ia makin paham hal-hal apa yang logis dan apa-apa yang tidak. Pada akhirnya kemampuan anak yang berkembang normal akan membawa risiko kegagalan strategi ini.

Anak tahu kalau si mama tidak sungguh-sungguh pergi ke dokter. Atau kali lain, misalnya dari bu guru, ia mendapat penguat argumentasi bahwa mak lampir itu cuma isapan jempol doang.

Anak yang cerdas juga mulai mencium bau-bau tidak konsisten orang tua. Kita bilang di situ gelap ada hantu, tapi lain kali kita minta tolong campur maksa anak buat ngambilin sesuatu di sudut rumah yang gelap sembari menentang rasa takutnya.

Anak akan mengingat kembali pengalaman saat papa-mamanya menakut-nakuti ini-itu. Dan penalaran si kecil yang makin berkembang akan mendorong pikiran cerdasnya yang sedang bertumbuh untuk curiga dan menyadari bahwa orang tuanya selama ini serius saat meyakinkannya, tapi bo’ong.

Kegagalan strategi juga bisa muncul karena orang tua sendiri tak sekadar menakuti tapi masih mengimbuhi dengan pemaksaan dan tak mendengarkan suara anak. Si kecil yang tak berdaya bisa saja frustrasi. Bukannya takut lalu menurut, ia justru makin nekat dan bisa saja malah terjadi drama panjang.

Risiko lain adalah upaya menakut-nakuti itu begitu dahsyat pengaruhnya. Alih-alih menurut dan patuh, si kecil justru merasa sering dibayang-bayangi ketakutan, merasa terancam, nightmares, dan bahkan histeris jika kelak harus berurusan dengan sosok yang dimanfaatkan orang tuanya untuk membuatnya patuh.

Perasaan takut dan tidak aman yang terlalu banyak disuburkan dalam pikiran anak terus-menerus juga bisa membuatnya distrust pada lingkungan sekitar. Anak berisiko bertumbuh menjadi pribadi yang tak percaya diri, jauh dari rasa aman, dan kehilangan sebagian dari kebahagiaan normal anak-anak.

Siapa yang bisa menjamin bahwa anak kita takkan pernah berurusan dengan tenaga medis? Sungguh absurd jika orang tua yang selama ini menggunakan sosok dokter untuk mendisiplinkan, di saat lain ternyata harus membawa anaknya yang sakit ke dokter dan dalam hitungan detik orang tua mengubah image dokter sebagai hero.

Kita sungguh tak adil pula pada profesi-profesi atau siapa pun mereka yang kita gambarkan negatif di mata anak. Tanpa sadar kita mengajari anak melabel buruk sosok-sosok tersebut, menggiring pikiran untuk menghindari, takut, dan bahkan bisa menumbuhkan kebencian. Kok jahat banget, sih, kita?

Lagi pula, apa orang tua nggak jadi kerepotan sendiri kalau ntar si anak takut pergi ke kamar mandi untuk pipis sendiri di malam hari, atau saat listrik di rumah mati saat kita belum tiba di rumah, atau bahkan sampai besar dia masih tetap ngotot minta tidur ditemani selalu?

Jadi, mama-papa, ayolah, jangan biasakan nakutin anak untuk mendapatkan kepatuhannya. Ruginya lebih banyak dibanding untungnya. Lama-kelamaan pikiran kecil cerdasnya akan mereduksi tingkat kepercayaannya pada kita. Kebahagiaan masa kecilnya pun banyak tercabut kalau kita dikit-dikit nakut-nakutin.

Daripada bilang “Yuk mainnya udahan, kalau gelap ada setan lho”, tentu lebih baik mengatakan “Sudah magrib, nak, yuk udahan sepedaannya, kalau gelap nanti jadi susah lihat jalan”.

Daripada bilang “Kalau adek tetap nggak mau minum obat, nanti mama minta pak dokter nyuntik lagi lho”, tentu lebih baik mengatakan “Memang obat ini agak pahit, dek. Tapi kalo adek nurut mau minum, bakalan cepat sembuh, bisa cepat main lagi sama teman-teman”.

Cara terbaik adalah mengajak bicara anak, menjelaskan secara logis sesuai kemampuannya untuk menyerap. Memang tak bisa instan. Butuh waktu dan pembiasaan. Ingat, ini bukan tentang penyelesaian masalah sepotong-sepotong. Ini tentang bagaimana membangun karakter anak.

Menakuti anak sama artinya main-main dengan pengembangan kepribadian anak jangka panjang. Prinsipnya: kita memberi ruang untuk perasaannya, menerima rasa khawatirnya, membiasakan dialog logis, dan bersikap konsisten. Anak akan patuh karena merasa perlu patuh, bukan karena rasa takut.

Bonusnya lagi: kalau kita melakukan parenting dalam atmosfer respek pada anak, maka anak pun akan respek pada kita.

Yuk, gaes, mama-papa, aunty-uncle, grandma-grandpa, mari menyumbangkan yang terbaik untuk anak-anak: berpikir lebih panjang. Tetaplah menyertai kebahagiaan masa kecilnya.

 

*Lita Widyo/nalarpolitik.com

Komentar

Jangan Lewatkan