oleh

Menghitung Rindu

-Cerpen-256 views

Aku suka duduk di atap rumah
Di sepertiga malam yang lingsir
Sambil menghitung bintang kita
Yang hasilnya selalu berupa tanya

Seperti rindu yang tak terkalkulasi
Karena tak satu kalkulator mana pun sanggup menghitungnya
Semisterius itulah rinduku, kekasih
Bagiku, apa pun itu tak pernah sia-sia seperti mencarimu dalam gelap

Meski aku tak meyakini cinta dalam buta
Tapi sialnya aku sudah lupa
Seperti apa warna bayangmu
Yang kuingat hanya jingga di matamu menyipit

Pada Sebuah Jeda

Pada sebuah jeda, aku berhenti sejenak
Merenungi semua yang tak kunjung baik
Lalu, dengan segala harapan dan doa-doa, aku berusaha bangkit untuk semuanya yang lebih baik
Hari-hari sunyi telah menjadi teman yang setia

Tak kurasakan lagi indahnya senja yang begitu banyak dikagumi manusia
Tak kurasakan lagi bagaimana malam bermain bersama gemerlap bintang yang jauh di sana
Tak kurasakan lagi nikmatnya mentari pagi yang perlahan keluar dari singgasananya
Semua berjalan tanpa arah yang jelas

Bagai daun jatuh yang terbawa derasnya arus sungai
Seperti tidak ada kisah yang menarik untuk dikenang
Bagaimana tidak, dia yang telah kupuja matia-matian, pergi begitu saja tanpa kejelasan
Kala itu, dia hanya berupa bahwa aku dan dia ssepeti bumi dan langit

Ada jarak yang terlalu jauh untuk disatukan dalam ikatan cinta
Adat memisahkan dua insan yang saling cinta dan menganggap akan ada malapetaka jika itu diteruskan
Cinta kadang menyeret semuanya termasuk status sosial
Biarlah, aku tak akan menyalahkan nenek moyangku juga nenek moyangmu

Karena manusia diciptakan berbeda-beda hanya saja kita tak mampu menyatukan perbedaan itu menuju hari-hari bahagia
Perlahan semesta punya cara sendiri dalam mengobati luka setiap manusia
Semesta pula yang menuntun langkahku padamu
Dengan cara sederhana, kau menarikku secara perlahan ke dalam lumpir asmara dan kembali percaya akan kata cinta

Padahal, semua hanya bermula pada perjumpaan kita yang begitu sederhana, tak seperti kisah-kisah yang dilukiskan para pujangga atau adegan-adegan yang ada di layar kaca

Tapi kenapa kau begitu memikat?
Basa-basi perkenalan mewarnai perjumpaan pertama
Kau yang melempar senyum sapa, sudah cukup membuatku diam tanpa kata

Senja membawamu segera berlalu, aku yang masih diam membisu tak percaya dan berasumsi bahwa kau adalah jelmaan bidadari dari surga yang diturunkan ke bumi lalu membuatku kembali terjebak pada sebuah keinginan untuk saling mecintai

Jika mencintaimu itu luka, maka biarlah perjumpaan ini hanya sebatas saling sapa yang tak perlu  aku biarkan berlarut hingga membuatku kembali terdampar pada jurang asmara

Si Hitam yang Tangguh

Aromamu hangatkan suasanaku
Hitammu memberikan sejuta kenikmatan
Pada gelasmu aku berharap
Agar asaku bergemulai

Padamu wahai si hitam
Aku menuliskan sebuah kisah
Tentang si dia yang di negeri seberang

 

Oleh: Lalik Kongkar 

 

Artikel ini telah dipublish di nalarpolitik.com

Komentar

Jangan Lewatkan