oleh

Menyayat Pilu di Bambu Kuning

-Cerpen-223 views

Deru sensor masih meraung-raung hampir di setiap sudut kota ini. Di sana-sini pohon tumbang karena badai seroja. Perayaan Paskah tahun ini menyimpan cerita pilu. Betapa Tri hari Suci jelang Minggu Paskah gerimis enggan menyisahkan waktu agar mentari  menyibak sinarnya. Kalaupun ada, itu hanya sebentar.

Umat yang hendak ke gereja merayakan paskah pun  berjibaku dengan gerimis. Belum lagi jika bangku dalam gereja tidak cukup, maka sebagian mereka harus menempati kursi-kursi di bawah tenda yang disediakan panitia. Di bawah tenda-tenda inilah merayakan paskah kekhusukan terasa hambar. Rasa tidak nyaman karena pada bagian-bagian tertentu tergenang air.

Kapasitas bangku di gereja sebenar cukup menampung ratusan umat untuk beberapa kali perayaan. Namun, mengikuti protokol kesehatan maka tempat duduk yang tersedia menjadi tidak cukup karena jarak duduk antara satu dengan lainnya telah diatur panitia.

“Kakak, se’i satu porsi,” pinta Mateus pada pramusaji sambil memperlihatkan daftar makanan.

“Minumnya?” tanyanya pada Narti.

“Es teh!” sahut Narti.

“Kalau saya, teh hangat,”  lanjut Mateus.

Pramusaji itu berlalu dari meja mereka berdua. Hari ini juga beberapa hari sebelumnya, atas instruksi wali kota, hampir semua pegawai dikerahkan untuk membersihkan puing-puing rumah, juga membersihkan sampah yang menggunung hampir di setiap jalan raya.

Badai seroja yang memporakporandakan kota mereka menyebabkan pekerjaan administratif di kantor tertunda. Selama sepekan ini mereka harus bergotong-royong hampir di setiap instansi untuk membersihkan sampah. Bahkan wali kota menghimbau setiap pengusaha yang memiliki armada angkutan untuk berpartisipasi. Alhasil, tumpukan-tumpukan sampah sudah diberishkan.

Narti, gadis kota gudeg  ini belum setahun sekantor dengan Mateus. Walaupun demikian, ia tamat Perguruan Tinggi dan se fakultas dengan Mateus di kota ini. Itu berarti sudah hampir enam tahun ia berada di kota ini. Lulus tes pe en es juga sekantor dengan Mateus. Selama ini ia tahu jika hidangan lezat di rumah  makan ini adalah daging se’i. Namun, ia belum pernah merasakan kelezatannya.

“Silakan, Kak!” ajak pramusaji.

Di atas meja makan tersaji makanan prasmanan. Semangkuk nasi, sepiring daging se’i, sambal, kerupuk, semangkun sup, juga es te dan teh hangat. Betapa sajian ini siap dilahap. Narti sangat penasaran dengan daging se’i. Rumah makan dengan dinding bambu membuat suasana adem.

Belum lagi beberapa rumpun bambu kuning menghiasai pelataran depan turut meyejukan  setiap yang hendak mencicipi makan khas di rumah makan tersebut. Setiap menyebutkan bambu kuning, orang-orang di kota ini sangat paham kalau rumah makan ini identik dengan daging se’i.

Narti saat ini sudah di atas pembaringan. Pengalaman pertama mencicipi se’i sungguh menjadi kenangan tersendiri. Ia sendiri pernah mendengar kelezatannya, namun baru kali ini mencicipinya. Sebagai seorang perempuan ia ingin mencari tahu bagaimana cara mengasapi daging tersebut. Setidaknya suatu ketika ia bisa mengerjakannya, walau sebenarnya ia mendengar dari Mateus, jika tidak semua orang bisa mengasapi daging se’i.

Mateus sendiri membaca kembali chatnya dengan  Narti. Tetapi sebenarnya bukan soal lezatnya daging se’i. Bukan pula bambu kuning yang meneduhkan mereka,  tetapi soal rasa yang mebuncah, setelah keduanya harus menyayat sepotong daging se’i.

Se’i itu terlalu besar, maka kedua harus menyayatnya menjadi lebih kecil. Mateus tidak mungkin harus menyayat sendiri. Karenya, Narti harus memegang se’i tersebut lalu Mateus menyayat. Keduanya seolah merajut kerja sama di meja makan. Ya, mereka berdua, tidak peduli siapa yang melihat.

Serasa dadanya bergetar kala menyayat se’i tersebut. Tak dipedulikan semua orang yang sedang makan siang itu. Ada gejolak batin melumuri batin Mateus yang melebihi kelezatan se’i bambu kuning. Ia melihat pancaran indah dari  bola mata Narti. Ia seolah menghitung setiap sayatan yang sebanding dengan kedipan mata Narti.

Kedipan mata bagaikan kilatan petir menyambar hatinya. Tatapan mata Narti bak merobek tata krama Mateus yang ragu-ragu. Tatapan yang lebih dahysat  dari gemuruh seroja yang memporakporandakan kotaku seminggu yang lalu. Kesahajaan Narti bagai udara pagi lembut menghasut mengalir deras dalam nadi Mateus, penuh arti.

Sesuatu telah tumbuh di hatinya, menggugah dan menggetarkan jiwa Mateus. Sepih malam serasa pula menimpuk jiwa raga jauh dalam mimpi tidurnya.

“Kalau saja bergayung sambut,” gumamnya dalam hati.

Pilu mengitari kehidupan Mateus hari –hari ini. Serasa ingin bersama lagi dengan gadis Jawa itu mengurai kisah di Bambu Kuning. Ia ingin menyayat sei agar tidak saja lezat, tetapi juga mengukir kisah bersama untuk selamanya.

Semua mimpi itu hanyalah isapan jempol. Narti telah memilih berpindah tugas di kampung halamannya. Bahkan dari kabar yang didengarnya, Narti telah berbahagia bersama pendamping hidupnya.

Di atas puing-puing kota karena seroja, hatinya pun tertinggal puing-puing, walau sebenarnya ia baru melewati jalan asmaranya.

“Mengapa rasa hati ini tidak kutambatkan saja di Bambu Kuning ketika itu,” gumamnya penuh sesal.

Semua telah terlambat. Menyanjung tambatan hati yang telah menjauh serasa memeluk mawar berduri. Semakin dipeluk semakin menikam raga tak berdaya. Namun demikian, Mateus kini harus ikhlas menerima puing-puing kehancuran yang menerpa batinnya.

Bambu Kuning hanyalah saksi betapa hatinya telah menguncup  tetapi telah diterpa badai dan menjauh, bak seroja menerpa kotanya dan tertinggalah puing-puing. ***

 

Oleh: Joni Liwu

Komentar

Jangan Lewatkan