oleh

Merangkai Kisah Terkoyak

-Cerpen-204 views

Pukul nol dua nol-nol lebih tiga menit. Tidur malam Juan terusik lantaran suara orang sedang bercerita. Ia tahu persis suara dua lelaki di ruang tengah.

“Malam-malam begini,” sungut Juan dalam hati.

Terjaga dari tidur, ia  menuju ke kamar mandi.

Ia kaget ketika membuka pintu kamar mandi Roy telah berada di depannya. Bau alkohol dari mulutnya menyeruak. Dahinya berkerut, pratanda ia tidak menyukai perilaku anaknya yang sering mabuk-mabukan. Ia sendiri pernah menasehati agar mengurangi kebiasaan kongko-kongko.

Roy sendiri hari-hari ini harus menyelesaikan tugas akhirnya di salah satu perguruan tinggi. Namun keseringan  bersama teman-temannya menyebabkan ia agak terlambar. Juan sering menasehati putranya tanpa henti.

“Ada orang dari kampung,” kata Roy.

Roy menyambangi ayahnya di depan pintu kamar mandi karena ia menyadari tidur ayahnya terganggu lantaran kehadiran seorang tamu di tengah malam. Apalagi senda gurau mereka sampai membangunkan ayahnya. Juan melangkah ke ruang tengah mendekati seseorang tamu tersebut.

Sejenak Marno sahabat Roy terdiam di ruang tengah tersebut. Ia mungkin sadar jika kasak-kusuk mereka menyebabkan Juan, ayah Roy terbangun. Roy kemudian menjelaskan jika ia baru menjemputnya dari rumah seseorang. Ia mengetahui keberadaan Marchelo dari pesan massangger facebooknya.

Juan masih kebingunan. Nama itu baru didengarnya. Belum lagi tampang Marchelo yang baru dilihat membuat ia penasaran. Karena seasal, Juan pun menemui Marchelo di ruang tengah. Tamu tengah malam itu agak ragu-ragu menyapa Juan.

Ia sendiri baru tiba di kota ini dan baru bertemua Juan. Mengetahui situasi yang belum familiar tersebut, Juan pun menanyakan kabar Marchelo. Kali ini situasi sudah cair. Marno pun agak leluasa bercerita tetapi selalu menjaga kesantunan.

Malam menjelang dini hari itu menjadi saat mereka bertiga berkisah. Marchelo baru saja kembali dari Ambon menyinggahi pelabuhan di kota ini. Ia sebenarnya hendak langsung bersama KMP Penyeberangan ke kampung halaman tapi terlambat.

Ketika kapal Pelni yang ditumpangi bersandar di pelabuhan, KMP Penyeberangan telah angkat sauh beberapa jam sebelumnya. Ia pun terlantar di pelabuan laut. Marchelo seorang diri di pelabuhan di tengah malam buta. Para penumpang telah menuju ke rumahnya masing-masing.

“Di pulau ini ada beberapa kabupaten. Itu artinya para penumpang yang berlayar bersamanya telah menunju kampung halamannya masing-masing,” gumamnya dalam hati.

Berteman riak-riak gelombang yang menepi ia menyulut sebatang rokoknya. Seseorang datang mendekatinya untuk mengajak ke rumahnya. Orang itu tidak dikenalnya, tetapi ia tahu jika pria dengan tas di pundaknya itu adalah sesama penumpang kapal.

“Saya tidur di kapal saja hingga esok pagi, sambil mencari- cari alamat keluarga di kota ini,” jawab Marchelo kepada rekan seperjalanannya yang mengajaknya untuk bermalam di rumahnya. Marchelo agak ragu menjawabi saran temannya. Ia sangat berterima kasih, tetapi ia pun harus waspada terhadap orang yang baru dikenalnya.

Belum lagi jika ia ingat akan pesan neneknya jika di dareah pelabuhan banyak calo penumpang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Pesan neneknya itu membuat Marchelo enggan menerima tawaran temannya.

Gerimis musim hujan membuat keduanya harus mencari tempat berlindung. Di terminal pelabuhan sahabatnya itu menawarkan Marno agar bermalam di rumahnya. Tawaran itu diteriam Marchelo dengan berat hati karena ia tidak ingin menyibukkan orang serumah dengan kehadiran tamu  yang tidak dikenal sebelumnya.

Mereka berdua kemudian ke rumah sahabatnya itu. Bagi Marchelo, kehadirannya di rumah orang lain itu sungguh terasa asing. Beberapa menit di rumah tersebut bagi Marchelo merupakan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Sebelumnya ia telah mengabarkan Roy untuk menjemputnya di tengah malam itu.

Ia sangat berharap bisa bertemu Roy malam itu juga atau salah satu keluarga di kota ini. Seribu satu perasaan mengusik ketenangannya. Sesaat kemudian, ia menghubungi sanak keluarga di kampung halaman. Ia hendak memastikan jika Roy yang dihubungi sebelumnya masih mengaktifkan facebooknya.  Beberapa saat kemudian Roy telah menjemputnya.

Kepada Juan Marno mengisahkan perjalananya.

Beberapa bulan berlalu Marchelo diajak temannya mengadu nasib di negeri Saparua. Ia pun diiming-imingi pekerjaan dengan gaji yang cukup. Ia sendiri adalah pengemudi mobil di kampungnya. Dalam keseharian ia menjadi pedagang ikan antar kabupaten.

Ia membeli dari para nelayan lalu menjualnya ke kabupaten lain. Ia adalah anak yang rajin sehingga ketika belum mendapatkan pekerjaan di sebuah pulau kecil di kepulauan Ambon baginya adalah membuang-buang waktu.

Ia memutuskan kembali. Bersama neneknya seorang di kampung halaman juga menjadi alasan ia harus kembali. Ibunya setelah kematian ayahnya telah merantau ke negeri Jiran Malaysia. Sehingga praktis ia harus melakoni hidup sebagai pencari nafkah. Ia melakukanya agar dapat hidup bersama seorang adik dan nenek di kampung halamannya.

“Ayo, istirahatlah dulu. Ceritanya dilanjutkan esok hari,” ajak Juan.

Pukul nol empat dini hari Marno baru memejamkan mata. Namun ia hanya terlelap sebentar karena zat cafein dari segelas kopi yang telah diteguknya bersama Roy membuat matanya melek.

“Selamat pagi tanta!” Marchelo menyalami isteri Juan.

Bu Riny, isteri Juan telah berada di dapur itu pun menyalaminya. Ia pun menyampaikan maksud agar bisa menumpang di rumah beberapa hari.

“O, tidak apa-apa kalau menginap di sini saja sebelum ke kampung,” jawab Bu Riny.

“Toh, di sini juga bersama Roy,”  lanjut Bu Riny.

Betapa hati Marchelo menjadi lega. Setidaknya telah menjadi bagian dari rumah ini sehingga tidak merasa asing. Paling tidak karena sekampung, akan lebih terasa aman jika dibandingkan harus menginap di rumah orang yang tidak ia kenal. Ia pun bergegas mencuci piring, membersihkan lantai rumah. Kehadirannya di rumah Juan bak dianggap keluarga sendiri.

***

Guratan wajah Marchelo di hari berikutnya tidak seceria remaja pada umumnya. Juan melihat ada guratan-guratan piluh. Dari tutur katanya yang tidak seberapa, ia seperti menyimpan kegundahan dalam hatinya. Juan sedang membaca kepribadian Marchelo.

“Jangan-jangan ada sesuatu yang membuatnya kurang ceria?” batin Juan.

“No’…ayo kita mengopi!” ajak Juan.

Kali ini Juan membuat suasana lebih santai. Karenanya mereka mengopi di lantai rumah saja. Di ruang tengah rumah Juan itu pun ditempatkan sebuah layar televisi. Sambil menonton Juan pun mengajak bercanda.

“Ingat kampung atau ingat pacar?”  celetuk Juan.

Marno yang mendengar hanya tersenyum. Baru kali ini Juan melihatnya tersenyum, itu berarti memang ada yang mengganjal di hatinya. Juan mengetahui jika ia dan adiknya ditinggal pergi ibunya ke tanah rantau.

Sejak kecil hingga remaja, mereka menumpang hidup dengan neneknya yang rentah. Marchelo sebagai anak sulung harus melakoni hidup sebagai pencari nafkah agar nenek dan adiknya dapat bertahan hidup.

Upayanya untuk mengumpulkan uang secukupnya telah gagal, karena di tanah Saparua itu ia tidak mendapatkan pekerjaan. Baginya perjalanan sekitar dua bulan lebih ini tentu menyiratkan pilu bagi nenek dan adiknya di kampung. Mereka mengharapkan Marno akan kembali dan membawa uang secukupnya.

“Apakah mereka cukup makan hari-hari ini?” katanya dalam hati.

“Apakah nenek dan adik dapat berkebun sebagaimana sanak keluraga lainnya?”

Pikiran-pikiran seperti itu kembali bergemuruh dalam batinnya, selalu mengelabui hatinya. Juan melihat kesedihan di hati Marchelo. Jika demikan kisahnya,  sangat menujukkan bahwa ia anak yang  bertangung jawab. Bertanggung jawab terhadap orang yang dicintai yaitu nenaknya, dan tentu adiknya.

Hal inilah yang memacu semangatnya untuk terus berjuang agar bisa menghidupi dirinya dengan adiknya. Selama menjadi pengemudi mobil ia mengumpulkan sedikit uang. Itu pun hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ia tidak mengaharapkan adiknya yang masih kecil untuk mencari se sen dua sen. Adiknya hanya bisa membantu pekerjaaan rumahan sekaligus mengurusi nenek mereka yang sudah renta.

Marchelo kembali termangu setelah mengisahkan itu kepada Juan. Ia memang lelaki tegar, namun di balik dua bola matanya terlihat linangan. Bukan soal kekalutan hidup, tetapi lebih dari itu, tentang kedua orang tuanya. Ayahandanya berpisah ranjang dengan ibunya ketika mereka masih kecil.

Masa di mana mereka harus mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua. Ibunya mengambil jalan pintas untuk merantau. Kehidupan mereka bak ditelantarkan. Biduk keluarga bak diterpa badai. Ayah entah hilang kemana, ibunya pun hendak merantau.

Di kampung memang cukup makan, tetapi meraup rupiah yang cukup bagi mereka itu jika sesorang merantau. Karenanya ibu Marchelo memutuskan untuk merantau agar bisa membiaya kehidupan anak-anaknya, untuk kebutuhan sekolah lainnya.

“Memang mama sering mengirimkan uang, tetapi tidak cukup untuk kami bertiga,” paparnya kepada Juan.

Juan memahami kisah Marno tesebut. Ia hanya menguatkan Marchelo agar selalu rajin dan patang menyerah.

“Agar bertahan hidup, orang harus bekerja,” kata Juan.

Marchelo hanya mengangguk diam. Sesekali ia menghirup asap rokoknya. Sangat terlihat kegalauan hatinya. Menjadi lebih berat karena nenek dan adiknya tentu berharap, sekembalinya dari perantauan, Marchelo membawa uang secukupnya. marno tidak memiliki cukup uang saat ini. Biaya transportasi untuk kembali ke kampung pun adalah urungan teman-temannya.

“Bagaimana jika Nenek mengetahui kalau saya tidak membawa uang?” tanyanya dalam hati.

“Aku harus mengatakan sejujurnya tentang hal ini!” tandasnya dalam hati, “Apapun yang terjadi.

Ia teringat akan uang yang bukan segalanya. Baginya menjaga dan merawat kehidupan nenek yang bersamanya sejak kecil itu menjadi yang utama.

Kini tegukkan kopi terakhir Marchelo. Ia lalu mengumpulkan gelas-gelas kopi bersama Juan dan membawanya ke dapur.

Ada banyak kisah di benak bahkan hatinya. Kisah malang karena ditinggal ayahanda. Diterlantarkan ibu menjadi kisah lain yang turut melengkapi perjalanan hidup yang terasa hambar ini. Ia ingin menikmati perjalanan hidup yang serba terbatas tanpa harus dialami adiknya juga neneknya.

Ia hanya mau membahagiakan kehidupan neneknya yang selalu membuka pintu hati dan rumah untuk ia dan adiknya. Betapa kisah pilu mereka baru dialami separuh hidupnya, tetapi nenek telah menuliskan kisah hidup mereka yang terkoyak sejak kecil, sejak kepergian ibundanya, dan sejak kepergian ayahandanya..

Rintangan akan terus menghadang perjalanan Marchelo. Semua yang diinginkan tak selamanya bisa didapat. Kadang kala musibah dan rintangan yang terus menghadang membuat harapan dan impian akan sirna dan membuat hati pedih. Di saat seperti ini ia seolah dituntut untuk bisa lebih bersabar dalam menghadapi cobaan.

Marchelo memahami jika banyak orang kerap mengucapkan kata sabar dan ikhlas saat merana. Terlihat simpel memang, tapi menerapkan kata itu tak semudah membalikkan tangan. Butuh hati dan mental yang kuat, apalagi jika harus bersabar dalam menghadapi kepahitan hidup.

Namun demikian ia percaya, di balik kesabaran, pasti ada hikmahnya. Ia meyakni hidup memang penuh rintangan, kesedihan, dan penderitaan.

Tanpa semua itu, ia tak akan pernah merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Rencana Tuhan akan indah pada waktunya. Selalu terngiang di telinganya dalam pelayarannya ke kampung halaman bahwa siapapun yang sabar dan tekun akan mekar seperti bunga, akan indah seperti purnama, dan menakjubkan seperti kupu-kupu.

Marchelo kini sedang tersenyum dalam dekapan gelombang laut yang menghantarnya dalam pelayaran menuju kampung halaman. Ia telah merangkai kisah-kisah yang mengoyak batinnya. Tetapi kepahitan hidup mengajarkan kepadanya bahwa sebesar apapun kepahitan itu telah memberinya hikmah. Setidaknya bahwa mentari yang direnggut malam akan tetap memancarkan sinar di keesokan harinya.

Marchelo juga adiknya dan neneknya kan pasti melitani kebahagiaan hidup walau dalam keterbatasan. Semua karena cinta. Cinta kepada Dua sosok yang telah tersemai di gubuk mereka. Cinta yang begitu tulus dari seorang nenek kepada dua orang cucunya.

Cinta yang telah menyatukan mereka sehingga Marchelo pun harus kembali ke kampung agar bisa melihat senyum nenek yang masih merindukan kehadirannya.***

 

Oleh : Joni Liwu

Komentar

Jangan Lewatkan