oleh

Misteri Kabut Pagi

-Cerpen-321 views

Pagi di bulan Juli. Hari libur. Tak ada hujan. Tapi dingin sekali. Kota Soe diliputi kabut tebal. Meski dingin, banyak juga yang lari pagi. Cari keringat, katanya. Walaupun tubuh terbungkus pakaian tebal. Bahkan ada yang gunakan jaket. Katanya untuk “kasi turun badan” yang kelebihan lemak.

Pagi itu, si atletis sempatkan diri lari pagi juga. Dari rumah ia bergerak menuju lapangan puspenmas. Di sana sudah banyak kawan yang lari memutar di lapangan basket dan lapangan voli. Sebagian mengelilingi lapangan bola kaki. Yang sudah capai lari, beristirahat sambil senam meregangkan otot.

Ia melihat cukup banyak teman SMP yang ikut olah raga pagi. Kabut masih sesekali menutup pandangannya. Tapi ia bisa kenal siapa kawannya. Ia sudah hafal bangun tubuh mereka semua. Di antara sekian teman yang lari pagi, dia sempat melihat si hidung mancung. Kabut pagi tak menghalangi dia untuk memastikan di mana posisi si hidung mancung.

Dia telah memutar lapangan basket 15 kali. Panas tubuhnya meningkat. Keringat membasahi sekujur tubuhnya yang terbalut jaket. Ia berhenti berlari dan mulai senam meregangkan otot-otot. Semua pelajaran dari Pak Mias dipraktik dengan cermat.

Cahaya mentari merekah di ufuk timur. Hari mulai terang. Sebagian mulai meninggalkan lapangan menuju rumah masing-masing. Si atletis mendekati si hidung mancung.
“Sendiri saja?”

“Seperti yang kau lihat. Habis, mau dengan siapa?” tawanya pecah berderai. Membuat hidungnya kelihatan semakin mancung. Ah, hidung itu.
“Nah, berarti sekarang engkau tidak sendiri lagi, to?”
“Hmmmm…”

“Sudah jam berapa? Saya harus pulang. Ada tugas.”
“Hari ini libur. Ada tugas apa? Yang betul saja.”
“Ada tugas rahasia. Saya pamit duluan, e? Daaaa…”

Dia berlari kecil ke jalan raya. Menuju perempatan dan menghilang dari pandangan. Si atletis berjalan menuju rumahnya. Tak ada yang bisa dilakukan. Hanya pulang. Pulang dengan kepala penuh catatan mengenai kabut pagi dan si hidung mancung.

* * *

Pagi berikut di pekan berikut. Kabut menyelimuti kota Soe. Dingin makin menikam. Tapi peminat lari pagi tak berkurang. Terselip di antaranya si atletis dan si hidung mancung.
“Hai, masih sendiri?”
“Begitulah.”

“Kita lari bersama di lapangan bola kaki saja. Putar lima kali. Mau?”
“Mau. Ayo, kita ke sana.”

Dari rumah sendiri-sendiri. Di lapangan keduanya bersama-sama. Lari berdua bersisian mengelilingi lapangan. Hanya lari. Lari di tengah kabut pagi. Menghirup udara pagi yang dingin tapi segar. Tak ada percakapan lisan. Hanya ada percakapan batin.

“Semoga hari ini awal yang baik.”
“Semoga kabut segera berakhir.”
“Matahari pagi adalah harapan.”
“Sinarnya hangat di hati.”

Ternyata tak sampai lima putaran. Tiga putaran sudah membuat si hidung mancung kehabisan nafas. Larinya berubah menjadi jalan. Maka si atletis juga menyesuaikan. Keduanya berjalan menuju lapangan basket. Senam meregangkan otot. Si atletis memimpin dengan gaya pak Mias. Satu dua tiga empat, lima enam tujuh delapan. Dua dua tiga empat, lima enam tujuh delapan. Selesai.

Mereka bertukar senyum dan berpisah. Masing-masing menuju rumahnya. Masing-masing berjalan dengan kepala yang penuh. Banyak imajinasi. Tentang kabut yang sirna oleh mentari pagi. Tentang kabut yang sirna di dalam hati. Ada keceriaan yang aneh. Tak dapat diungkap dalam kata. Cukup dirasakan oleh mereka berdua. Dan tak ada teman-teman yang tahu sampai sekarang. Keduanya menyimpan misteri kabut pagi itu dalam persahabatan yang unik. Saling menunjang dalam pelajaran hingga tamat.

* * *

Puluhan tahun kemudian. Suatu pagi di lapangan basket. Dingin dan kabut. Sosok si atletis yang telah berumur, berlari menembus kabut. Sekedar nostalgia di sana. Kenangannya menangkap bayangan si hidung mancung. Berpakaian putih, berlari di depannya. Ia terkesima. Dengan gerakan yang tak lagi gesit, ia mengejar bayang itu. Cuma bayangan. Kabut pagi telah merengkuh si hidung mancung. Membawanya entah ke mana.Tak ada cerita tentang dia.

Di bawah sinar mentari pagi. Kabut telah pergi. Si atletis membuka tangannya merengkuh matahari. Menghirup udara pagi dalam-dalam. Memenuhi rongga dadanya dengan kesejukan pagi. Ia berteriak sekuat tenaga. Lalu sunyi. Ia menoleh ke sekitar, tak ada orang lagi di lapangan. Tak ada kabut lagi. Hanya dia sendiri.

“Masih sendiri?” Pertanyaan itu kini tertuju kembali padanya. Si atletis tersenyum. “Ya, begitulah. Sendiri saja. Karena kabut telah merebutmu.”

Dia pulang ke rumah tua. Membawa pulang misteri kabut pagi. Sampai sekarang.

Tamat

 

Oleh: Prim Nakfatu

Komentar

Jangan Lewatkan