oleh

Misteri Surat Sampul Biru

-Cerpen-269 views

Lonceng bubar sekolah berdentang. Suara gembira terdengar di setiap kelas. Tak lama kemudian kelas menumpahkan isinya. Halaman penuh, lalu berkurang sedikit demi sedikit hingga lengang.

Empat siswa paling akhir tampak keluar dari salah satu kelas sambil lanjutkan pembicaraan serius. Tak ada kaitan dengan mata pelajaran. Tak ada kaitan dengan kelompok belajar. Tapi ada kaitan dengan surat bersampul biru yang ditemukan tadi pagi. Di halaman. Agaknya terjatuh tanpa disadari. Surat itu ditujukan kepada si lesung pipit.

Surat itu masih utuh. Tertutup rapat. Salah satu dari keempat sekawan itu menyimpannya. Mereka memutuskan untuk menunggu sambil melihat dan memantau, siapakah yang menunjukkan gelagat sebagai penulis surat.

Hari pertama berlalu. Tak ada yang aneh. Semua berjalan normal. Empat pasang mata memantau seluruh isi kelas dengan cermat. Seperti detektif. Tapi tidak ada indikasi.

Hari kedua mereka melebarkan wilayah pantauan. Kelas tetangga. Siapa tahu ada yang menyukai si lesung pipit dari kelas lain. Tapi juga tak ada tanda-tanda. Semua seperti biasa.

Hari ketiga, keempat sekawan ini gelisah. Surat masih di tangan mereka. Tapi tidak ada gelagat orang kehilangan sesuatu yang berharga.

“Bagaimana ini? Sudah tiga hari tanpa kejelasan apa-apa.”

“Itu sudah.”
“Kita buka saja, ko?”

“Sabar. Kita tunggu lagi beberapa hari ke depan. Jika tidak ada tanda-tanda, barulah kita buka.”

“Atau kita berikan saja kepada si lesung pipit dan tanya dia?”

“Itu juga baik. Kita tidak berhak membuka surat itu.”

“Hmmmm…. Begini saja. Setelah tiga hari ke depan, jika kita tidak berhasil menemukan pengirimnya, kita panggil si lesung pipit dan sampaikan semua ini. Lalu kita minta dia buka di depan kita. Supaya kita tahu, siapa penulis surat ini. Setuju?”
“Setuju!”

Hari keempat. Mereka melihat seseorang melintas di halaman, melewati lab IPA, menuju ruang kepala sekolah. Tak ada yang aneh. Hanya di tempat mereka menemukan surat, dia kelihatan berdiri sejenak, melihat-lihat sekitar, lalu menuju kelasnya.

Orang pertama yang dicurigai. Tercatat di benak keempat sekawan. Tapi mereka tidak bisa membayangkan bahwa dialah yang menulis surat itu. Dia anak baik, disiplin, akrab dengan semua teman, jadi panutan dan orang kepercayaan kepala sekolah maupun para guru. Ah, tidak mungkin. Tapi, siapa tahu?

Hari kelima, jam istirahat, si lesung pipit dan seorang kawannya berdiri di lokasi itu. Keduanya asyik ngobrol. Sesekali si lesung pipit menunduk dan mencari sesuatu di tanah. Empat sekawan mengawasi dengan banyak pertanyaan. Tapi tak ada jawaban.

Buntu. Bagaimana mungkin dia menulis surat untuk dirinya sendiri? Ataukah dia sudah mendapat pesan untuk mencari surat itu di situ? Tapi kenapa dia bersama temannya? Kenapa tidak sendirian saja?

Hari keenam. Mereka sudah sepakat untuk menyampaikannya kepada si lesung pipit. Mereka mendekati si lesung pipit, mengajak bercerita. Mereka bercerita dan bercanda beberapa saat dengan aneka topik.

“Eh, omong-omong, besok ikut kebaktian?”
“Ikut, e? Biasa to?” jawabnya sambil tersenyum. Lesung pipitnya kentara kelihatan.

“Baiklah. Besok kita sama-sama, e? Sesudah itu kita bacarita di Efata.”

“Boleh. Sampai besok, ya? Di Efata.” Dia berlalu dari keempat sekawan itu, meninggalkan imajinasi tentang lesung lipit yang menawan.

Hari ketujuh. Mereka bertemu di Efata. Kebaktian. Saat teduh di bawah cahaya firman Tuhan. Pikiran keempat sekawan itu mengembara ke mana-mana. Sementara si lesung pipit khusuk mengikuti kebaktian.

Selesai kebaktian, ada jemaat yang pulang, ada yang masih di dalam gereja, ada yang di halaman gereja. Lima anak remaja itu masih duduk di bangku yang sama.

“Bagaimana pesan firman hari ini?” tanya si lesung pipit.

Keempat sekawan detektif amatiran itu gelagapan. Tak menyangka dapat pertanyaan seperti ini. Dan dari orang yang justeru hendak diinterogasi pula.

“Sori, saya lupa firman tentang apa. Saya agak mengantuk tadi.”
“Aduh, saya juga sama.”

“Kalau tidak salah tentang Tuhan Yesus mencari dan menemukan domba yang hilang.”

“Iya, saya juga dengar yang itu.”

Si lesung pipit tersenyum. “Oke, kita mau buat apa sesudah kebaktian? Ada acara khusus, ko? Kamu mau traktir saya, ko?”
“Kita ke kantor Bupati saja. Jalan-jalan di taman Patung El Tari sambil bacarita.”

Usul itu diterima. Kelimanya beranjak dari Efata menuju El Tari. Di bawah naungan pohon, duduk di rumput hijau, mereka berbicara serius.

“Begini. Kami menemukan sebuah surat dengan sampul warna biru. Apakah engkau merasa kehilangan surat?”

“Surat? Warna biru? Kehilangan? Maksud kalian apa, e? Saya tidak mengerti.” Lesung pipitnya hilang.

“Kami temukan surat yang ditujukan padamu. Kami curiga ini surat cinta dari seorang teman kepadamu.”

“Surat itu masih utuh. Belum dibuka. Kami penasaran. Maka kami tahan untuk memastikan kira-kira siapa pengirimnya. Ternyata tunggu punya tunggu, tidak ada kejelasan.”

“Itulah sebabnya kami mengajakmu ke sini. Kami mau ketemu engkau untuk serahkan surat ini.”

Surat bersampul biru. Diletakkan di tengah lingkaran. Persis di depan si lesung pipit. Dia menunduk dan membaca namanya. Ya, tertulis jelas namanya. Ah, dia tidak mengenal huruf itu. Entah siapa penulisnya.

Ia mencoba menerka dan mengingat huruf setiap temannya, tapi tidak ada yang seperti ini. Mungkin penulisnya telah memikirkannya, maka dibuat bentuk huruf yang berbeda dari biasanya. Sebuah cara untuk menyamarkan. Apalagi ini surat rahasia. Rahasia hati dari seseorang yang mengagumi si lesung pipit.

“Saya tidak tahu siapa penulisnya. Hurufnya saya tidak kenal. Tapi kenapa kamu baru berikan pada saya sekarang?”

“Maafkan kami. Kami hanya ingin mengetahui siapa orang yang mengirim surat ini padamu. Engkau teman kami. Engkau terkenal di kelas kita, bahkan seluruh sekolah kita. Makanya kami penasaran. Tapi kami tidak mau membukanya, sampai engkau sendiri menerima dan membukanya. Ini, silakan ambil, buka dan baca. Kalau bisa tolong beritau kami, siapa si dia yang menulis surat bersampul biru ini.”

“Terima kasih. Nanti saya buka dan lihat di rumah. Sesudah itu saya sampaikan kepada kamu.”

Si lesung pipit mengambil surat itu dan menyelipkannya pada buku Kidung Jemaat.
Keempat sekawan itu protes. Mereka mendesak kalau bisa dibuka dan dibaca di depan mereka.

“Surat ini untuk saya. Maka saya berhak atasnya. Kapan dan di manapun saya mau buka, itu hak saya. Terima kasih karena sudah memberikan surat ini pada saya.”
“Aduh, Kawan e. Jangan begitu, ko. Kita ini sahabat. Kami penasaran dengan orang itu. Bisa buka, ko?”

“Iya, Kawan. Kami janji sonde akan bongkar ini kejadian.”

“Rahasia ini kami akan pegang teguh. Janji.”
“Beta sonde akan cerita pada siapapun.”
Si lesung pipit memandang mereka satu persatu. Ada kesungguhan di mata mereka. Ia mengingat bagaimana mereka menjaga surat itu sampai tiba di tangannya. Mereka bisa dipercaya.

“Baiklah. Saya percaya kamu semua.”
Ia mengambil surat itu. Surat bersampul biru. Indah sekali. Dengan halus ia membuka sampul itu dan mengeluarkan isinya. Lalu ia membaca dengan serius dalam keheningan. Sampai selesai. Juga dibacanya nama dan tanda tangan penulis surat. Lesung pipitnya kembali muncul.

Keempat detektif amatiran itu menahan nafas. Menunggu informasi. Terasa lama sekali.

“Silakan baca dan lihat siapa penulisnya.”
Keempatnya berebutan. Tapi akhirnya diatur satu persatu supaya semua bisa membacanya. Selesai.

Mereka semua terdiam dan tersenyum satu sama lain. Surat sampul biru itu kembali ke tangan si lesung pipit. Diselipkannya kembali ke buku Kidung Jemaat. Sampai saat mereka berpisah, mereka tetap diam tak berbicara. Angin sepoi berhembus lembut. Menerbangkan sehelai daun kering. Terbang jauh. Jauh ke jalan raya. Dan akhirnya jatuh di trotoar.

Surat sampul biru itu tetap misteri sampai sekarang. Hanya terpahat dalam kenangan kelimanya. Tak ada yang tahu siapa penulis surat itu. Sampai kelimanya tamat dari sekolah kebanggaan mereka tahun 1986. Masing-masing membawa misteri itu, misteri surat sampul biru, sampai sekarang.

Tamat

 

Oleh: Prim Nakfatu

Komentar

Jangan Lewatkan